Tolong, Ajari Aku Bangga Pada Kotaku, PATI

Woy para orang Pati ataupun yang pernah numpang mbrojol, numpang sekolah, atau numpang idup di Pati, mari-mari sini, mari kita sedikit berdiskusi (atau tepatnya beretorika?)

Aku lahir dan besar di Pati, setidaknya tidak kurang dari 17 tahun saya menghirup udara Pati, meminum air dari tanah Pati, dan berinteraksi dengan orang Pati tentu.

Meski Pati adalah kota kecil, sangat kecil, yang mungkin tidak ada di peta Indonesia, tapi konon Pati adalah sebuah Kadipaten besar, yang pada jamannya pernah berjaya. (baca : http://patikab.go.id/pemerintah/sejarah ). Di Pati juga tidak ada bandara, mall, atau apalah yang menurut teori posmo adalah simbol modernitas.

Dulu Pati adalah sebuah karesidenan, yang mencakup wilayah kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Grobogan. Sangat besar. (sumber : http://jv.wikipedia.org/wiki/Karesidenan_Pati )

Konon menurut cerita salah satu guruku, orang Pati terkenal cerdas. Banyak orang Pati memegang tampuk-tampuk penting di seluruh Indonesia. Bahkan kalau mau survey, coba di universitas ternama mana yang tidak ada orang Pati, di luar negeri sekalipun. Bahkan kalau mau dihitung, orang Pati pasti menduduki peringkat pertama terbanyak di berbagai universitas dalam negeri dibandingkan dengan kota-kota yang lain.

Pati itu kota kecil di pesisir pantai utara Jawa, yang mungkin banyak yang tidak mengetahui keberadaannya (kecuali setelah ada iklan kacang D** K******). Sejak aku kecil hingga sekarang, kota Pati memang belum banyak berubah. Baik tata kota, ekonomi, sosial budaya, dsb. Entah karena apa kota Pati yang memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat besar itu seolah-olah stagnan. Apakah benar julukan yang diberikan oleh sebuah koran beberapa lama yang lalu bahwa kota ini adalah ‘Kota Pensiun’?

Kota ini jarang sekali diekspose media. Sekalinya diekspose pasti tidak jauh dari berita bencana banjir.
Fffuuuiihhh…

Tapi aku teringat kata seorang senior alumni SMA 1 Pati beberapa waktu yang lalu,
“kenapa kita tidak mau kembali ke Pati? Ayolah, setelah lulus kuliah, kita kembali ke Pati, jangan hanya jadi pahlawan di negeri orang. Kita mulai dari lingkup kecil, kita bangun akhlak adik-adik kita, jangan biarkan Pati semakin ternoda. Kita bangun kota Pati dengan jerih payah kita sendiri. Aku bangga jadi orang Pati, yang selalu menyabet medali di setiap OSN. Kenapa kita tidak memperkenalkan pada dunia bahwa Pati Kota Cerdas, Beriman, dan Bermartabat. Bukan seperti saat ini, yang terkenal sebagai kota Karaoke, kota Koruptor, atau kota Paranormal.”

Ya, kalimat retoris berisi rayuan sekaligus penyemangat. Saat itu masih marak tempat karaoke mesum di kotaku itu. (sekarang??)

Tolong, ajari aku bangga pada kotaku, Pati Bumi Mina Tani.

Tolong, tunjukkan padaku betapa banyak yang dapat dibanggakan dari kotaku, Pati.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s