Aku heran, aku mempertanyakan

Siang ini, seperti biasa aku liat berita. Dan masih seperti kemarin-kemarin, isinya full tentang bom Mega Kuningan. Dari dulu aku emang ga pernah percaya sepenuhnya sama yang namanya media di Indonesia. Sevalid apapun mereka. Sebagian besar media di Indonesia menerbitkan suatu berita atas dasar subyektivitas, bukan obyektivitas. Bahkan bukan rahasia umum lagi kita dengan gampang “membayar” media untuk menerbitkan opini kita. Meski aku yakin ga semua media seperti itu.
Sejak kejadian bom aku hanya melihat perkembangan berita (ya iyalah, masak mu ke TKP). Apa yang ada di media? Semua ga lebih dari opini segelintir orang yang menurutku cuma cari sensasi. Semua media memberi tuduhan tanpa alasan kepada Pondok Pesantren Al Mu’min, hanya karena sebuah pernyataan dari seseorang. Siapa dia?? Dia bukan anggota polisi, dia bukan anggota puslabfor, dia bukan intel, dia ga terlibat langsung di TKP. Gampang aja dia nuduh Nur Hasbi dan Ponpes Al Mu’min sebagai biang keladi. Padahal saat itu belum ada satupun pernyataan dari pihak berwenang tentang masalah ini.
Aku ga memihak pada pelaku bom, aku juga bukan seorang radikal yang mendukung kegiatan mereka. Tapi aku ingin orang Indonesia, terutama media yang notabene mempengaruhi pola pikir manusia se Indonesia bahkan dunia, menjunjung tinggi “asas praduga tak bersalah”. Asas itu dalam teori hukum indonesia adalah asas dasar. Tapi kenyataannya jarang sekali diterapkan. Apalagi tuduhan itu tanpa bukti. Berita-berita yang beredar terkesan konyol. Pada catatan resepsionis, orang yang menginap di kamar 1808 bernama Nuri Hasdi, dan yang tinggal di Katekan bernama Nur Hasbi. Kok kayaknya maksa banget ya disama-samain??? Padahal di negeri ini, entah berapa puluh orang yang bernama sama. Hal ini sama konyolnya dengan mencari orang bernama Endang di Jawa, atau Asep di Sunda. Betapa kasihannya keluarga mereka, betapa nelangsanya para civitas akademika di Ponpes Ngruki yang ga tau apa-apa. Hanya itu yang terpikir di otakku. Dituduh tanpa bukti, dan ironisnya, dipaksa mengakui.
Yang bikin jengkel lagi, kenapa selalu dikaitkan dengan ISLAM???
Ibrahim, seorang florist yang dinyatakan hilang oleh keluarganya, juga dituduh sebagai pelaku – tuduhan ini oleh media- sekali lagi pihak berwenang belum memberi pernyataan apapun. Yang sangat-sangat mengenaskan dan sangat menyakitkan adalah pernyataan media berikut ini dalam salah satu liputan,
“bagaimana kondisi di rumah bekas tempat tinggal Ibrahim?”
“kondisi di sini rusak berat, segalanya berserakan, seperti habis kena banjir.”
“apakah ada yang aneh disana?”
“yap, disini ada beberapa stiker seperti tulisan yang kurang lebih berbunyi ‘be a good moslem or die as syuhada’. Ada lagi kaligrafi yang diterjemahkan berbunyi ‘Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, Al Qur’an dan sunnah panduan kami, syahid cita-cita tertinggi kami.’. “
Itu biasa kan?? Itu ga aneh kan?? Di kamarku juga banyak stiker kayak gitu, apa aku teroris? Aku pikir semua muslim juga punya bercita-cita seperti itu. Itu jargon bukan aneh, itu jargon setiap muslim. Cinta Allah adalah segalanya. Tapi kenapa kami digugat???
Alhamdulillah hari ini ada titik terang, POLRI memberi pernyataan tegas bahwa segala tuduhan atas Ibrahim dan Nur Hasbi tidak benar. Hal ini tentu saja membuat media dan segelintir orang yang “cari sensasi” gelagapan. Entah fitnah apa lagi yang akan mereka torehkan. Fitnah yang sangat kejam atas Islam. Aku heran, aku mempertanyakan, dimana tanggungjawab media??
Ganbatte pak polisi!!!!

Nb: Tulisan ini ga bermaksud apa-apa, hanya sekedar mengingatkan bahwa “ga semua yang lo denger itu bener”. Hehehe… kayak kata iklan permen. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s