Sebuah renungan, Maafkan Aku, Teman…

“Afwan Ukh, hari ini saya ga bisa ikut kajian, ada agenda.”
“Afwan Akh, saya ga sanggup, saya harus ngejar target.”
“Afwan Non, aku gi sibuk jadi ga bisa bantu. InsyaAllah lain kali ya..”
“Maaf Dek, mbak berenti ngelesin dulu ya sayang, ntar insyaAllah diganti sama temen mbak, jangan nangis donk sayang. .”
“Maaf Neng, mbak udah jarang sms Neng, mbak gi sibuk banget soalnya.”
“Maaf Neng, teteh ga sempet nemenin Neng..”
“Maaf ya, aku ga bisa ke kosmu, udah ada acara.”
“Afwan mbak, amy ga bisa datang taklimat, mesti berangkat sore ini.”
“Afwan janjinya bisa dipercepat ga mbak? Soalnya amy udah ga ada waktu lagi.”
“Afwan mas, tolong gantiin amanah saya di xxxx ya…”

Entah berapa ratus kalimat “maaf dan afwan” yang terlontar dari bibirku, yang kuketik di hape dan keyboardku 7 bulan belakangan ini. Entah berapa ratus orang yang kukecewakan dengan dua kata itu. Sesal terbersit, tapi apa daya, egoku mengalahkan segalanya.
Jauh sebelum aku berdiri di sini saat ini, 6 tahun yang lalu aku punya sebuah mimpi indah, menjadi seorang ahli bahasa asing, menguasai berbagai bahasa di dunia ini. Jalanku terasa sangat mulus, ga ada satu halangan pun dalam meraih mimpiku ini. Sesulit apapun jalan itu, aku rela menempuhnya. Semua orang mendukungku. Hingga dua tahun setelah itu, guru-guruku tercinta memberi penghargaan yg hanya ada pada waktu itu, aku masuk kelas aksel English. Satu sejarah masa laluku. Aku ga bermimpi jadi juara debat bahasa Inggris atau apapun, aku cukup bangga dengan keberanianku cas cis cus pada waktu itu..
Aku bermimpi lagi ingin masuk SMA 1 Pati. Sekolah favorit di Eks Karesidenan Pati, bahkan di Jawa Tengah. Mimpiku ingin masuk kelas bahasa. Aku sadar diri, aku bukan berada pada jajaran siswa pandai di SMP 1 Pati, tapi minimal 10 besar mampu kuraih di kelas.
Alhamdulillah, aku masuk Castra Jayecwara tanpa halangan yang berarti. Kebanggaan jelas terpancar dari mata keluargaku, karena itu berarti aku mampu mempertahankan predikat “dinasti SMA 1”. disini aku mulai “ditekan” untuk masuk IPA. Padahal tujuan utamaku Bahasa. Egoku begitu tinggi. Tapi siapa sangka aku tetap masuk IPA?? Duka!!! Aku blingsatan ga karuan, secara aku ga tau apa-apa.
“kalau kamu masuk Bahasa, ntar kamu bingung pas nyari jurusan di PT. kami takut kalau itu cuma keinginan sesaat kamu. Kami ga ingin kamu nyesel. Lagian percaya deh, ga usah masuk kelas bahasa pun, kamu bisa belajar otodidak. Bahasa itu bisa karena biasa.”
Itu kalimat pamungkas yang harus aku iyakan. Sempat terbersit keinginan untuk belajar IPA dengan tekun, agar bisa masuk Teknik Perkapalan ITS. Tapi itu hanya keinginan yang lagi-lagi ditentang. Boro-boro belajar, pegang buku aja ga napsu. Cuma di kelas XII aku semangat belajar. Ga lucu donk 3 tahun bangga pake bedge merah putih mentereng tapi ga lulus? Padahal lulus kan hal biasa. Sebodoh-bodohnya Castra’ers pasti lulus dengan mulus. Aku kan ga bodoh. Hahahahaha… tapi aku sangat enjoy disini.
Aku pasrah kemanapun diarahkan. Hampa. Hingga aku terdampar di sini saat ini. Di sini pun aku ogah-ogahan. Jangan tanya catatan, buku, diktat, dll sama aku. Aku ga punya. Makul favoritku cuma IAD, agama, sama kewarganegaraan. Ya maksudnya aku tinggal nyari di memori otakku pas SMP. Hehhehe,, Yang lain ogah. Tapi kenapa IP-ku segitu?? Padahal belajar pun aku ga pernah. Senyumku yang selalu menghiasi wajahku tu semu. Decak iri kalian, ucapan selamat kalian atas IP pertamaku itu bagaikan badai yang semakin menyeretku dalam penyesalan dan keputusasaan.
7 bulan yang lalu, aku seperti mendapat kekuatan dan keberanian baru untuk berontak. Aku berazzam ikut SNMPTN tahun ini. Teknik Perkapalan ITS. Saat aku mengutarakan keinginanku, ratusan “kenapa” selalu menghujaniku. Aku mulai belajar lagi. Bukan mudah,sangat sulit. Secara dulu ga bisa sekarang lupa. Hahahaha… tapi aku ga putus asa. Aku angkut semua catatan dan buku-buku yang kuanggap perlu ke kosan. Aku berjibaku dengan mereka tiap malam. Aku melupakan segala mata kuliah yang ada. Bahkan aku rela bolos kuliah demi memecahkan satu soal sulit, ngungsi ke UNNES pun pernah buat nyari bantuan. Hehehe. . masa bodoh dengan nilaiku semester ini. Hingga aku merasa siap menghadapi SNMPTN pertamaku. Tapi pas pendaftaran dibuka, tiba-tiba slide demi slide berputar di otakku.
“amy yakin mau keluar? Coba pikirkaan lagi sayang, apakah ini cuma keinginan atau emosi sesaatmu? Kami membutuhkan kontribusimu ukh..”
“kuliah untuk menuntut ilmu, bukan untuk mencari pekerjaan. Tapi kodratnya nanti kamu jadi seorang ibu. Dan saya yakin, kamu bukan tipe seorang yang nantinya mau jadi ibu rumah tangga saja. Pikirkan itu.”
“kamu boleh menuntut ilmu setinggi mungkin, semahal apapun, tapi kamu harus janji kamu ga boleh terseret arus feminisme, hedonisme, dll”
“kamu udah pernah merasakan gimana punya ibu yang super sibuk kan? Kamu mau anakmu bernasib sama?”
“kamu pernah berpikir ga kalo kamu orang paling egois di dunia ini? Kamu ninggalin umat! Kamu ga pernah berpikir masih banyak yang ga bisa kuliah!”
“udah lah my, ga usah keluar, stay di sini aja. Kamu rela ninggalin para fans kamu? Hahaha… ntar gw kenalin dah ma dosen perkapalan ITS atau STAN, kali aja ada yang mau nyari istri kedua. Hwkwkwwkwkwk..”
Itu potongan-potongan kalimat diskusi antara aku dengan guruku, temanku, murabbiku, orang tuaku, utiku, sahabatku, dll. Mulai dari yang serius sampe yang becandanya ancur banget. Akhirnya aku memang ga daftar SNMPTN. Tapi aku tetap melanjutkan azzamku yang lain, dengan bimbang. Entahlah bagaimana hasilnya nanti.
Aku masih tetap dalam kegamangan. Aku masih berada pada titik jenuh itu, hingga detik ini.
Maafkan aku teman… Aku belum bisa menjadi Amy yang kalian harapkan. Aku sedang berusaha bangkit dari keterpurukan dan kefuturan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s