Satu Cerita Cita Cinta

Rebeka namaku, hanya itu.

Jika di sekolah ditanya bu guru apa artinya, aku tak tahu. Persetan dengan kata orang, yang aku tahu, itu nama yang cukup populer di film-film luar negeri yang aku lihat di TV pak RT. Mungkin dari situ ibuku mendapat namaku.

Aku dipanggil “bebek”. Biasa lah disini yang namanya Antonio jadi Gepeng, Muhammad jadi mamad, dll. Nama ibuku Saminah, dipanggil “Lonte”. kami tidak pernah mempermasalahkan nama. Yang penting bisa hidup hari ini.

Aku tinggal di pinggiran kota Semarang, di pesisir, dekat pelabuhan Tanjung Mas. Rumahku hanya bilik berlantai tanah yang tak rata, yang hampir tiap hari rob menggenangi. Bau ikan busuk bercampur ikan asin sudah beradaptasi dengan hidungku. Bapakku entah kemana. Kata Emak, bapakku dibawa pergi polisi waktu Emak melahirkan aku. Kata tetanggaku, bapakku maling ayam. Konon katanya bapakku mati di dalam sel, disiksa polisi. Waktu mayatnya mau diambil untuk dikubur, kata polisinya Emak mesti bayar limaratus ribu. Tapi kalau mayat bapak ga diambil, Emak diberi uang seratus ribu. Si Mak memilih mengambil uang daripada mayat bapak, untuk beli susu. Kata tetanggaku lagi, mayat bapak dipakai untuk belajar para mahasiswa, “dibelek-belek” kayak ikan.
Aku hanya anak kelas 4 SD. Kata orang aku cantik, ya, aku memang cantik, tubuhku bongsor, mungkin hasil perpaduan antara bapak dan ibuku, entahlah, aku tak tahu wajah bapakku. Yang jelas ibuku sangat cantik. Mirip Merriam Bellina artis sinetron itu. Ibuku bekerja sebagai penjual ikan asin. Berangkat pagi pulang sore, habis itu dandan cantik sekali, pakai “pupur”, “gincu”, dan entahlah apa lagi, yang aku tahu belinya di Pasar Johar. Bajunya bagus, ga kayak tiap pagi.
“Arep ning ndi mak?”
“golek duit nggo mbayar sekolah, wis menenga ning omah wae.”
“lha wis peteng ngene arep golek duit ning ndi? Iwak’e durung entek po?”
“wis to gek ndang turu, menenga, sing penting sesuk kowe isa sekolah, ora dikon bali.”
“yo mak, arep bali jam pira?”
“yo mbuh mengko, lawange digembok, yen ana wong namu rak sah dibukake lawang.”
“lha wong omah rak ana apa-apane kok ndadak digembok to mak.”
“wis to manut wae.”
“yo mak.”


Aku diam dalam gelap. Meski sudah ada listrik, tapi kata si mak, kita harus hemat, hanya lampu 5 watt yang jadi penerang kami.

“nduk!!! Bukake lawang nduk!!”
Kumelangkah dengan malas, jam dinding usang yang kubeli dari tukang loak baru menunjukkan jam 3 pagi.
“oleh duit mak?”
“iya, wis gek ndang turu meneh. Sesuk sekolah.”


Aku pun menurut.

***

“Bebek anak lonte!! Bebek anak lonte!!”

Ya, namaku Rebeka, tapi dipanggil “Bebek” oleh teman-temanku. Lonte nama Emakku. Senasib dengan aku dan orang kebanyakan disini, ibuku dipanggil dengan nama yang bukan namanya. Aku tetap “pede” ke sekolah, karena hari ini aku bawa uang SPP 3 bulan.

Kata Sela temanku, besok minggu ada mbak-mbak dan mas-mas mahasiswa UNDIP mau ngajarin kita belajar di masjid dekat rumah. Kata dia mbaknya cantik-cantik, masnya juga ganteng-ganteng. Tapi masa bodoh dengan semua itu, yang terlintas di otakku hanya ingin menanyakan kepada mereka, dimana mayat bapakku.

***

Hari-hariku berjalan seperti hari kemarin. Bersama si mak di sebuah rumah 2×2 meter. Tapi sekarang si Mak makin jarang di rumah.

Seperti malam ini. Aku sendiri.

“nduk!!! Nduk!!! Ndang cepet bukake lawang nduk!!!

Suara si Mak, sepertinya gugup agak berbisik. Aku buka pintu. Kutemui kesekian kalinya wajah pias itu. Seperti ketakutan.

“mak kenapa?”
“ketemu setan nduk. Ning ngarep pasar kana.”
“setan apa mak?”
“kayak ning…”

Pembicaraan kami terputus, tiba-tiba pintuku didobrak orang berseragam dengan senyum, tepatnya seringai mengerikan, lengkap dengan mata jalang. Mereka berseragam dengan sepatu boots, membawa pentungan. Dan si mak diseret, aku juga. Malam semakin gelap.

Nb:
Pupur : bedak
Gincu : lipstik

semarang,21 Juni 2009

cerita ini hanyalah fiksi. jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan peran itu semua hak saya sebagai penulis cerita. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s