Petaka Agustus

Prrrrraaaaaaaaaaangggggg!!!
Bbbbuuuuuuummmmmmmm!!!!

Suara gaduh itu serasa tak ada tanda-tandai usai. Sekitar 500 meter dari rumah kami. Suamiku belum pulang. Aku bersama ketiga anakku, mencoba menenangkan mereka ditengah kegugupanku. Aku mencoba tak menampakkannya pada cintaku. Gigih baru berusia 5 tahun, Ardi 3 tahun, dan Kiara 1 tahun, mereka cintaku. Suasana kampungku lengang, kecuali di tempat kejadian itu. Semua warga memilih diam dirumah masing-masing malam ini, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi kurasa tak ada kejadian itu pun, desa ini memang selalu sepi, apalagi sudah pukul 21.00.
“Assalammualaikum…”
“Waalaikumsalam pak…, masya Allah…” kusambut kedatangan suamiku dengan pelukan dan mata berkaca-kaca. Dia hanya tersenyum sambil membelai kepalaku.
“Bapak kok bisa pulang? Lewat mana pak?” jalan desa ditutup, semua berawal dari rumah penuh kegaduhan itu.
“Lewat ‘ndadah’ Bu. Aku khawatir dengan kalian.”
“Iya Pak, si Ardi baru diem nangisnya, mungkin dia kaget dan ketakutan. Ibu aja takut, ngeri Pak…” air mataku tumpah. Ya, suamiku tempat menumpahkan segala suka-dukaku, dan dia tak pernah mengeluh, meski kadang aku memang terlalu banyak bercerita. Tapi dia pendengar yang baik.
“Bapak ‘siram’ ya.. tak buatin air anget. Apa mau ‘dhahar’ dulu?”
“Aku udah makan tadi. Masakin air aja.”
“Iya Pak.”
**

“Bapaaakkk!!!”
Aku terbangun, Ardi berteriak, mungkin mengigau, baru pukul 01.00. Aku hampiri di biliknya.
“Sayang, bangun Nak…” kutepuk-tepuk halus pipinya, sambil memencet sedikit ujung hidungnya, ya begitulah caraku membangunkan semua cintaku.
Dia masih menggeliat, mengumpulkan tenaga untuk bangun.
“Sayang mimpi apa?” kusodorkan segelas air putih sambil memangkunya.
“Bapak mana Bu?”
“Bapak lagi istirahat di kamar, udah pulang dari tadi kok. Sayang takut ya?”
“Iya Bu, tadi aku liat mereka serem-serem, bawa bedil.”
“udah gapapa, kan jauh sayang. Bukan di rumah kita. Kita kan orang baik, insyaAllah disayang Allah.”
“Pak polisi itu pada ngapain Bu?
“Ibu juga ndak tau, mungkin lagi latihan perang. Ntar kalau udah gede adek mau jadi polisi?”
“Mau Bu! Tapi kalau latihan di hutan aja, biar ga pada takut ya Bu ya…” cintaku menjawab antusias dengan wajah berbinar.
“Iya sayang, harus belajar giat, jangan lupa…”
“Berdoa!!”
Aku tersenyum, dia memotong kalimatku, segala tingkah mereka adalah bahagiaku.
“Udah sekarang tidur lagi ya sayang. Besok pagi main sama bapak.”
“Iya Bu.”
Kubelai dia, kutepuk-tepuk pelan pantat dan punggungnya, berharap dia lekas tidur hingga tak mendengar suara gaduh itu, yang meski tengah malam kadang masih terdengar.
**
Bbbbrrrrrrraaaaakkkkkkkkk!!!

Aku kaget, dari tadi aku tak bisa memejamkan mata. Masih lengkap dengan mukena aku menengok ke arah datangnya suara.
“MasyaAllah… ada apa pak?”
Kekagetanku makin menjadi, kini bercampur ketakutan yang amat sangat.
“Di mana suami ibu?” suara bariton tegas, tanpa keramahan.
“sebentar Pak, mohon tunggu sebentar, saya bangunkan suami saya.”
“Jangan coba-coba lari, rumah ini sudah dikepung.”
“Bapak bisa mempercayai saya.” Suaraku tegas. Berusaha tenang.
Astaghfirullah… apa lagi ini..? Segala sendiku lemas. Aku melangkah menuju kamar.
“Bapak, dicari sama polisi. Bapak ga terlibat kan Cinta? Bapak sayang sama kita semua kan?” tangisku pecah lagi.
“Kebenaran akan terungkap pada akhirnya.”
Dia tak menghiraukan tangisku, dia hanya mencium keningku sesaat, dan melangkah ke depan.
“Maaf ada keperluan apa Pak?”
“Ikut kami.”
Aku terduduk lemas, suamiku diborgol tanpa ada surat keterangan penangkapan. Ya, mereka anggota Densus 88. Wajah tenang penuh senyum yang biasanya memberi kekuatan padaku, sekarang tak berpengaruh. Aku melafadzkan apa saja untuk menguatkan batinku. Entah dibawa kemana cintaku, tak ada kejelasan
Laa haula walaa quwwata illaa billaah… kedua anakku ternyata terbangun dan berdiri didepan kamar mereka, memandangi kepergian polisi-polisi itu dengan tatapan mengerikan, bukan milik mereka. Allah…

Agustus 2009
[terinspirasi oleh arogansi, kesewenangan,dan kebrutalan POLRI&Densus 88 dalam setiap proses penangkapan tanpa mengindahkan HAM,terutama hak perlindungan anak]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s