Sebuah renungan

Beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah tulisan, awalnya hanya iseng asal mencomot buku di perpusda. Pada saat membacanya, aku merasa sudah pernah mengalaminya, de javu. Tapi aku masih cuek, itung-itung ngadem di situ karena penat seharian kuliah dan cuaca sangat panas. Malam harinya seperti biasa saatnya bermuhasabah, aku mulai mengerti apa arti tulisan tadi. Mirip dengan apa yang aku alami bertahun-tahun yang lalu. Pada masa kecilku. Tulisan ini bukan sebagai “sarana membuka aib saya”, tapi semoga ini dapat diambil hikmahnya dari apa yang saya alami.

Aku gadis kecil satu-satunya yang terlahir dalam keluarga yang sempurna, limpahan kasih sayang kudapatkan dari orang tua yang notabene keluarga muda. aku tumbuh menjadi gadis periang, suka difoto (ga heran kan kalo sampe sekarang aku narsis?:p), dan kadang manja. Tapi karena aku anak pertama secara naluriah aku bisa menempatkan diri sebagai kakak, anak, ataupun sebagai “pengatur”.
Sejak balita, aku mendapat tuntunan dari orang tua, terutama bapak, untuk menghafal surat-surat pendek (istilah ini aku ketahui setelah bersekolah). Aku juga dituntut harus pergi ke TPQ setiap sore. aku selalu berontak pada saat itu. Gimana ga, teman-teman bermainku masih asyik bermain sedangkan aku harus ke TPQ. Pada awalnya aku masih mendapat rayuan-rayuan halus, tentu saja aku luluh, apalagi dengan reward-reward yang bagiku sangat berarti. Tapi selepas balita saat aku mulai berinteraksi di TK, aku kembali mogok ngaji. Reward seheboh apapun tak mempan lagi. Apa yang terjadi? Hampir setiap sore, setiap aku mogok itu, aku menangis meraung-raung sampai sesenggukan karena diguyur air sama bapak. Itu cara bapak menyadarkanku. Dewasa ini aku baru tau, itu salah satu cara terapi buat para junkies pas lagi sakaw. Hiks… aku jadi sedih, aku mirip orang sakaw. T.T
Hal ini terjadi bertahun-tahun hingga sekitar kelas 3 SD. Dengan intensitas yang semakin berkurang pastinya. Aku ingat dengan jelas kejadian ini, pada saat kelas 4 SD. Bibirku tiba-tiba pecah, luka, sangat mengerikan. Secara medis pada waktu itu, disebabkan karena infeksi. Ya, aku punya kebiasaan buruk menyentuh bibir dengan tangan (dalam keadaan apapun, bersih atau kotor), dan mengelupasnya pasti. Dengan obat yang diberikan dokter dalam waktu tiga hari bibirku sudah kembali pada keadaan semula.
Peristiwa ini tidak juga membuatku jera. Aku masih sering membantah “aturan”. Bahkan beberapa kali aku membentak ibu dan membuat beliau menangis. Atau membentak bapak hingga membuat beliau marah. Padahal orang tuaku selalu berpesan untuk tidak bersikap kasar kepada mereka. Ah, aku masih di era jahiliah pada waktu itu. Sampai suatu saat bangun pagi, waktu itu kelas 1 SMP, tiba-tiba bibirku bengkak tanpa sebab, sangat M-E-N-G-E-R-I-K-A-N. Dan kuputuskan untuk tidak berangkat sekolah hari itu. Kejadian ini berulang tiga kali pada tahun yang sama, setelah itu sampai sekarang dan sampai nanti semoga tidak terjadi lagi.
Aku bersyukur mendapat teguran Allah di dunia. Allah menyayangiku pasti. Aku selalu mengingatnya dan lebih berhati-hati dalam bersikap kepada bapak ibu. Dari peristiwa seputar bibirku, ada banyak pesan yang ingin kusampaikan kepada para orang tua, calon orang tua, dan diri saya sendiri pastinya sebagai calon orangtua juga. Hehe…
1. Jangan biarkan anak anda dalam pengasuhan khadimat tanpa pengawasan dari anda. Aku masih ingat betul sejak adikku lahir, ibu mempercayakan pengasuhan kami pada khadimat karena khawatir merepotkan mbah dan bude atas kehadiran kami. Dewasa ini baru kuketahui bahwa sebenarnya ibu sudah memberikan serentetan aturan untuk mereka, tapi tanpa sepengetahuan ibuku – terutama pada saat ibu kerja—mereka melanggar). Pelanggaran mereka yang masih terekam di otakku dan sedikit banyak menjadi penyebab aku berani membentak ortu adalah kebiasaan mereka nonton telenovela atau film India (pada saat itu booming banget). Padahal ibuku sendiri sudah berhati-hati memilih tayangan yang pas untuk dinikmati bersama. Seingatku hanya Dunia Dalam Berita, Oshin (film Jepang), dan kartun/film anak. Dan aku belajar berbohong juga dari mereka. Hehe… hiks.. aku inget banget tiap mereka mencuri waktu kerja untuk sekedar bertemu khadimat tetangga (pacarnya). Padahal ibu udah kasih waktu bebas setelah ibu pulang kerja. Huhh… usahakan
2. Jangan terlalu memaksakan kehendak anda pada anak.
3. Gunakan cara-cara pendekatan yang efektif sesuai dengan sifat anak anda, anda sendiri yang mengenali karakter anak anda.
4. Boleh menggunakan reward, tapi dengan catatan beri pengertian pada anak bahwa reward bukan segalanya dan menunjukkan niat yang tepat.
Dan masih banyak pesan yang bisa anda tangkap sendiri. Saya takut dianggap menggurui, karena saya sendiri juga belum merasakan secara langsung menjadi orangtua kandung. Agagagaga… ini hanya kesimpulan saya berdasarkan sudut pandang saya sebagai anak pada saat saya dewasa. Hehe…
Kalau ada yang memberi tambahan, saran, atau kritik, sumonggo…
^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s