DI TEPI RINDU (oleh ROFIAH EL SANDRIE)

Annisa rofiah el jannati. Wanita yang mulia dari surga. Kira-kira begitu artinya. Ah, nama itu begitu indah. Seindah akhlaknya. Seindah imannya. Seindah agamanya. Dan aku jatuh pada keindahannya. Inikah cinta, Ya Robb? Nama itu selalu berkelebat dalam lintasan pikiranku. Nama itu selalu merasuk dalam bumbungan anganku. Nama itu selalu terucap dalam setiap bait doaku.
“Ustadzh!”
Aku tersentak kaget. Astaghfirulloh, aku melamun lagi untuk kesekian kalinya. Aku menatap Faris yang tersenyum-senyum sendiri di depanku.
“Ustadzh selalu gitu. Hobi bener melamun. Gak baik, Tadzh. Apalagi terlalu sering melambungkan impian kosong. Hati-hati setan senang bermain-main disana.”
Aku tertawa.
“Ya Ris. Afwan. Gak tau neh akhir-akhir ini aku gampang melamun.”
“Ngelamunin Mbak Fia ya?”
“Astaghfirulloh..”
Aku menggeleng. Faris tertawa terkekeh-kekeh.
“Ustadzh tidak boleh bohong. Dosa tau!!”
Aku tersenyum dan mengangguk.
“Mengapa ustadzh tak segera melamar Mbak Fia? Saya rasa usia ustadzh sudah matang. Ustadzh juga berpenghasilan. Mapan istilah kerennya. Mau menunggu apalagi?”
“Menunggu waktu yang tepat, Ris.”
“Kapan? Tidak baik menunda itu Tadz. Apalagi untuk ibadah. Bukankah nikah itu juga ibadah? Afwan tadzh, bukan maksud saya menggurui Ustadzh. Jangan sampai keduluan Tadzh. Ustadzh ntar nyesel.”
“Iya Ris. Kamu gak salah. Tapi, entah kenapa aku merasa ada begitu banyak hal yang harus ku benahi. Kamu anak Pak Kyai, Gus Faris. Mbak Fiamu juga. Aku merasa belum pantas saja. Gak sembarangan orang bisa melamar akhwat seperti mbakmu itu.”
“Ustadzh, abah tak pernah membeda-bedakan orang. Abah itu tak pernah mengajarkan pada kami untuk merasa lebih dari yang lain. Alloh tak melihat rupa, materi ataupun derajad martabat maupun pangkat kita, tapi hati kita, iman kita.”
Kata-kata Faris mantap penuh keyakinan. Aku pun sebenarnya tahu Kyai Latif itu seperti apa. Beliau seorang yang tawadhu, bijaksana dan ramah. Aku sudah mengabdi di pondok ini lebih dari 5 tahun. Walau dulu aku tidak nyantri disini, tapi di ponpesnya Kyai Jamal, sahabat dekat Kyai Latif. Tepat 5 tahun yang lalu, Kyai Jamal mempercayakan amanah padaku untuk bertugas membantu Kyai Latif. Jadilah aku dikirim ke sini.
Sedang Abdul Faris El Azizy adalah putra dari Kyai Latif. Dan Fia adalah kakak perempuan kandungnya.
Aku mulai dekat dengan Faris setelah aku mulai bertugas disini. Karena Kyai Latif sengaja menyerahkan Faris untuk ku ajar. Selain itu, menurut hemat Kyai Latif, bila ada apa-apa, aku bisa minta tolong pada Faris. Karena Kyai Latif sendiri jarang ada di pondok. Beliau sering keliling ke pondok-pondok binaannya yang ada di luar Jawa. Namun, hubunganku dengan Faris tak lagi seperti Ustadzh dengan santrinya. Tapi layaknya sahabat sendiri.
Dua tahun belakangan ini, entah kenapa, Faris giat bercerita tentang Fia. Dan walau aku belum pernah melihat sosoknya, nyatanya aku jatuh cinta padanya. Cinta yang hadir bukan karena wajah, bukan karena suara, bukan karena rupa. Cinta ini tumbuh dan bersemi begitu saja. Sosok Fia yang digambarkan Faris sebagai muslimah anggun yang terjaga pandangan, sikap, dan tingkah lakunya, seorang akhwat yang iffah, yang hafal Quran, yang luwes mengerjakan tugas rumah tangga membuat benih-benih cinta tersemai indah di taman hatiku. Subhanallah.. Nyaris sempurna seorang Fia itu. Walau aku sadar, cinta ini belum saatnya boleh tumbuh. Tapi aku terlanjur pasrah..
Terlebih Faris yang hampir setiap hari selalu memberi cerita seputar Fia. Seakan-akan dia menghadirkan sosok Fia begitu nyata di hadapanku. Ya Robb, kuatkan hamba..
Sebenarnya, entah ini benar atau tidak, Fia pun memberi sinyal yang sama layaknya seperti yang aku rasakan. Fia juga mencintaiku. Faris mampu melihat jelas hal itu. Apalagi ternyata Faris pun sering menceritakan tentangku padanya.
Faris bisa menangkap gambaran benih cinta yang tumbuh pada kakaknya itu. Terlebih tiap malam jumat, aku shalawatan di masjid. Dan itu terdengar hingga seantero ponpes. Termasuk dari pondok putri dimana Fiah tinggal. Sering Faris memergoki kakaknya begitu khusuk mendengarkan dan bahkan matanya basah. Aku sudah berulang kali berkata pada Faris, bahwa itu semata-mata karena rindu dan cinta Fia pada Rasulullah. Tapi Faris tetap meyakinkanku bahwa Fia juga mencintaiku.
Suatu hari Faris diminta Kyai Latif mengunjungi ponpes binaan beliau di Sumatera. Seminggu kemudian, aku sendiri malah disuruh ke Lombok menemui Kyai Jamal. Kata Kyai Latif, beliau ingin sekali bertemu denganku.
Hampir 2 bulan aku di Lombok. Dan saat berjalan kembali menyusuri jalan setapak yang terbentang di tengah desa saat pagi hari selepas subuh. Ku hirup udara kebahagiaan. Aku sempat meminta izin dan restu pada Kyai Jamal untuk melamar Fia. Beliau berkenan bahkan menawariku untuk melamarkan Fia. Tapi aku menolaknya dengan halus. Insya Alloh aku berani. Aku gentle. Bismillah..
Embun yang berayun di daun-daun meliuk-liuk menari menasbihkan cinta padaNYA. Angin sepoi melambai-lambai menasbihkan cinta padaNYA. Burung-burung bersenandung indah menasbihkan cinta padaNYA. Subhanallah..
2 kilometer dari pintu gerbang desa ku lihat pintu gerbang ponpes. Bismillah, ku mantapkan hatiku..
Tapi aku merasakan keganjilan. Santriwan santriwati tampak sibuk bekerja bakti. Belum selesai berjuta tanda tanya membingungkanku. Tiba-tiba Faris datang dan memelukku.
“Assalamualaikum. Ahlan Ustadzh…”
Dia menarik tanganku ke lincak di kebun belakang.
“Ayo tadzh, ada yang ingin saya beritahukan.”
“Apa, Ris?”
“Ustadzh janji, ustadzh harus kuat mendengar cerita saya.”
Aku mulai curiga. Tapi, aku menganggu lemah.
“1,5 bulan yang lalu Mbak Fia dilamar…”
Deg….. Jantungku mulai berdetak lebih kencang. Nadiku berdesir lebih cepat.
“Saya tidak tahu menahu. Karena waktu itu saya masih di Sumatera. Mbak Fia dilamar dan Mbak Fia menerimanya karena…….”
Faris menghela nafas agak panjang.
“Mbak mengira itu adalah lamaran dari Ustadzh.”
“Afwan, maksudnya??”
“Abah hanya mengatakan bahwa Mbak dilamar Ustadzh Tugas. Karena Abah tentu tahu bahwa bila menyebut nama, Mbak Fia juga tak tahu.”
“Lalu?”
“Dan mbak mengira itu adalah Ustadzh karena setahu mbak, Ustadzh ditugaskan disini. Tapi sebulan kemudian, mbak baru tahu bahwa beliau adalah santri sini yang ditugaskan ke desa.”
Mendung tiba-tiba hadir di langit hatiku. Gemuruh berpantulan tanpa jawaban. Mengapa? Mengapa? Mengapa???
“Mbak menangis Tadzh. Dia bercerita sambil terisak pada saya. Saya sempat menyarankan agar mbak terus terang tentang kesalahpahaman itu pada Abah. Tapi mbak menolak. Mbak tidak ingin menyakiti Abah maupun Ustadzh Luqman calon suami mbak.”
Aku terdiam.
“Tadzh.”
Faris menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Tadzh.”
Dia memanggilku lebih keras.
“Ya, Ris?”
Jawabku lemah dengan tatapan kosong.
“Ustadzh sabar ya.”
Aku mengangguk lemah. Aku beranjak pergi dari sana. Aku ke kamar. Rasanya berat. Separuh nyawaku membeku. Aku patah hati…
Aku makhluk biasa. Aku manusia yang jauh dari sempurna. DIA menganugerahkan airmata pula padaku yang sewaktu-waktu pasti akan jatuh. Aku pun bisa menangis…
Aku jatuh cinta dan patah hati untuk pertama kalinya. Dan aku baru tahu seperti ini rasanya. Sakit..
Tapi aku harus menerima takdirNYA ini. Aku bukan jodohNYA. Fia, maafkan aku..
“Kapan? Tidak baik menunda itu Tadz. Apalagi untuk ibadah. Bukankah nikah itu juga ibadah? Afwan tadzh, bukan maksud saya menggurui Ustadzh. Jangan sampai keduluan Tadzh. Ustadzh ntar nyesel.”
Tiba-tiba kata-kata Faris waktu itu terngiang. Ya, aku menyesal….
Seminggu sebelum hari akad nikah. Alloh mempertemukanku dengan Fia tanpa sengaja saat aku sedang berjalan-jalan.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat Fia. Aku menatapnya sekilas, hanya 3 detik..
Subhanallah.. Dia.. Dia.. Dia.. Dialah gadis yang hadir di mimpiku 3 kali berturut-turut.
Hatiku bergemuruh hebat. Setelah 5 tahun di sini, setelah 2 tahun menyimpan rindu. Akhirnya baru kali ini rindu itu tertumpah pada pertemuan sekilasku dengan Fia. Gadis yang ku cintai pertama kalinya walau tanpa pernah sekalipun aku melihatnya, bahkan mendengar suaranya.
Di hari akad pernikahan, aku menjadi saksi mempelai pria. Sedangkan Fia tetap berada di pondok putri. Melalui pengeras suara masjidlah, ijab qobul diperdengarkan.
Alloh.. Alloh.. Alloh..
Kuatkan hamba..
Kuatkan hamba..
Allohu akbar. Allohu akbar.
Alloh..
Alloh..
Alloh..
Hatiku sibuk berdzikir di antara sayatan-sayatan yang menyakitkan. Lisanku lirih berdoa di antara getaran-getaran yang membuatku perih.
Tanpa suatu halangan, ijab qobul berlangsung lancar. Dan Fia resmi bersuami. Tak lama setelah acaranya usai, aku segera berlari ke kamar. Aku menangis. Sakit…
Beberapa hari kemudian, Faris bercerita padaku. Fia sempat melirihkan namaku saat ijab qobul akan diucapkan. Dan dia sempat pingsan di pangkuan ibunya.
“Ris.”
“Iya Tadzh.”
“Aku titip pesen buat mbakmu ya.”
“Ya Tadzh.”
“Tolong bila nanti dia memiliki anak. Jadikan namaku sebagai salah satu nama putranya. Ku mohon..”
“Insya Alloh akan saya sampaikan, Tadzh.”
Tak berapa lama, aku dipindahkan oleh Kyai Jamal ke ponpes milik adiknya, Kyai Umar di Solo. Dua tahun kemudian aku menyempatkan bersilaturahmi ke Kyai Latif. Alhamdulillah, Fia sudah melahirkan seorang putra. Dan subhanallah, dia memberi nama anaknya seperti namaku.
“Muhammad Iqbal Ash Shidiq.”
DIA lebih tahu apa yang terbaik buat hambaNYA.
::tamat::

(jogja,24 september 2009)
Diilhami dari kisah nyata yang dialami seorang teman saya di dunia maya. (Tapi berbeda format. Inti cerita sama. Tapi agak didramatisir. Hehe.. Namun wallahu alam juga kalau mungkin kisah nyatanya lebih dari ini.) Nama akhwat itu benar-benar Rofiah, dan panggilannya Fia. Teman saya itu mau bercerita panjang lebar pada saya karena kebetulan nama saya mirip. Nama saya mengingatkan pada Fia katanya. Wallahu alam..

One thought on “DI TEPI RINDU (oleh ROFIAH EL SANDRIE)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s