sebuah artikel dari RUMAH CINTA

Wahai Ikhwan Rujulah lah Engkau, dan Wahai Akhwat Tegaslah engkau

Seorang ikhwan yang aktifis kampus, sekolah dan syabiah karena masih menjadi seorang jejaka, maka tak jarang ia sering membatin, berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang “qowwam” yang “qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi” (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi ‘imam yang adil’ yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-anaknya.

Namun sayang disayang cita-cita, harapan hanya tertinggal dalam pikiran saja, hanya baru menjadi angan angan. Padahal semangat sudah mengebu gebu, sang ikhwan masih meragu karena berpikir belum lah mampu, atau karena ia belum yakin untuk menyerahkan urusan Jodohnya hanya pada Allah. Atau karena maisyahnya belum seberapa, atau kriteria calon istrinya setinggi langit sebesar dunia. Karena itulah sang ikhwan melakukan Proses Studi Kasus, atau penjajakan pada beberapa akhwat. Dengan komunikasi dua arah, memberi perhatian, menjadikan sang akhwat teman curhat, teman diskusi, sahabat ataupun dengan tedeng adik kakak.
Selain itu juga termasuk dalam mencermati kebiasaan dan cara pandang dan aktivitas dalam etika melamar dan mendekati seorang akhwat. Dalam Islam memang tidak dianjurkan untuk berpacaran HTS, TTM atau apapun namanya, yang realitasnya hampir sama dengan pacaran dan memang terbukti sekali mendekati zina minimal zina hati dan pikiran. Tapi kebanyakan yang terjadi, banyak para ikhwan yang mempermainkan perasaan si akhwat yang terjaga tersebut, si akhwat dibuat Ge-eR sedemikian rupa dengan diberikan perhatian-perhatian yang intens (padahal si ikhwan cuma sekedar ingin uji coba aja dan belum memiliki nyali untuk melamar apalagi untuk menikah). Kebanyakan kasus, si akhwatnya yang menunggu dan mengharap-harap cemas ingin segera dilamar, tapi si prianya cuma memanfaatkannya sebagai teman curhat atau teman untuk pendekatan saja untuk selanjutnya lihat saja nanti. Kalau cocok dan sreg di hati maka bisa dilanjutkan ke ta’aruf yang sebenernya
Memang harus diakui, bagaimanapun kami seorang akhwat tetaplah seorang wanita yang akan merasa senang dan tersanjung bila diberikan perhatian dari seorang ikhwan, apalagi bila ikhwan tersebut terlihat memiliki niat yang serius. Sangat disayangkan pada realitasnya banyak di kalangan akhwat yang tidak menyadari bahwa ikhwan ikhwan yang datang dan memberikan perhatian kepadanya, tidak semuanya berniat untuk meminang dengan serius. Tapi kebanyakan hanya sekedar untuk penjajakan semata. Hanya untuk melihat bagaimana karakter dan pola pikir si akhwat. Lagi-lagi tetap saja pengambilan keputusannya ada pada si ikhwan, pertimbangan apakah si akhwat sudah berharap banyak atau tidak, sayang sekali tidak banyak dipikirkan oleh si ikhwan.

Tentunya para akhwat yang jeli tidak akan sudi diperlakukan demikian, dipermainkan perasaannya hanya sekedar guna penjajakan saja. Apa bedanya dengan orang-orang yang lain yang melalui proses berpacaran, bedanya toh hanya kemasannya saja.

Karena itu wahai ikhwan Rujulah (bersikap jantan ) lah engkau, karena kami (wanita) makhluk yang dimuliakan oleh Allah, dijaga betul kehormatannya agar tidak diganggu dan dilecehkan oleh orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Karenanya tata cara berpakaian dan etika pergaulan kami juga dijaga ketat oleh syariat Islam, dengan tujuan agar kami tetap terjaga dan terhormat. Dan yang cenderung lebih serius untuk komitmen dan berusaha konsisten untuk menjaga diri sesuai dengan syariat Islam, kebanyakan dilakukan oleh kami para akhwat.

Jika memang berniat menikah maka benahi dulu ibadah, karena kualitas dan kuantitas ibadah sangat mencerminkan kualitas diri, luruskan niat, bahwa menikah itu karena ingin mendapat pahala dan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak ingin mendapat dosa dan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menikah bukan karena keinginan nafsu belaka, ingat menikah bagi seorang aktivis merupakan awal tonggak baru perjalanan dakwahnya karena itu niatkan menikah sebagai ibadah, bukan sebagai penenang hati yang resah. Walaupun memang benar dengan menikah hati menjadi lebih tenang, dan bersemangat dalam dakwah, karena ada pendamping yang selalu menyemangati, memberi dukungan, mendoakan, mengkritisi dan lain lain.

Semoga pernikahan yang akan terjadi memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang mereka maksud Lillah , ialah niat menikah itu karena Allah. Proses dan caranya harus Billah , sesuai dengan ketentuan dari Allah. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah , tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah. Sehingga dalam penyelenggaraan pernikahan nanti tidak bermaksiat pada Allah

Intinya, Wahai Ikhwan Rujulah lah engkau, jangan permainkan kami, dan kepada saudari saudari ku yang lain, jangan mau dijadikan lawan HTS-an, TTM-an atau apapun namanya, karena ketegasan ada pada akhwat, jagalah diri dan kehormatan kita, sebagai akhwat kita juga punya izzah, dan juga belum tentu ikhwan yang selama ini paling asyik dan paling cocok berkomunikasi dengan kita itu adalah jodoh kita, wahai ukhti kasihanilah suamimu nanti, bila hati mu tak lagi perawan, betapa banyak dan panjang daftar pengakuan kita nanti pada suami. Wahai akhwat tenang sajalah, jika sudah saatnya menikah maka jodoh akan datang dengan sendirinya, “Pria yang baik akan mendapatkan wanita yang baik, dan Pria yang Keji akan mendapatkan Wanita yang Keji”

Oh ya satu lagi, yang sering terlupakan oleh ikhwan maupun akhwat yakni Tata Krama yang berlaku umum untuk lelaki dan perempuan (termasuk dlm akhlak seorang muslim)
1. Komunikasi antara keduanya harus dalam batas ucapan yang baik, tidak mengandung kemunkaran, tidak mengandung hal yang tidak bermanfaat,dsb (QS.33:12)2. Menundukkan pandangan (QS.24:30-31) kecuali dalam hal pendidikan, kesehatan/kedokteran, jual beli, dan meminang.
3. Menghindari percampuran antara lawan jenis (ikhtilat)
4. Tidak berkhalwat / berduaan antara lawan jenis melalui media apapun, perbincangan. k
5. Menghindari posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan negatif dari orang lain

afwan jiddan jika apa yang saya tulis menggores hati beberapa orang disini, sesungguhnya ini bukan sindiran atau apapun namanya, saya juga pernah merasakan akibat tidak enak dari hal hal diatas, saya hanya ingin menjadikan hal tersebut sebagai bahan pelajaran bagi diri saya, sekaligus agar ukhti ukthi yang lain juga dapat mengambil hikmahnya, saya tak punya dendam pribadi dengan yang namanya ikhwan, karena sesungguhnya suatu saat nanti saya akan punya pendamping juga (yang pasti ikhwan, tidak mungkin kan akhwat?????).

Barakallahu laka wa baraka ‘alaikum wa jama’a bainakum fii khoir..

Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

3 thoughts on “sebuah artikel dari RUMAH CINTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s