Aku Tumbuh di ‘arena sesat’

Aku hidup di sebuah desa yang kejawennya sangat terasa. Mayoritas Islam, tapi Islam “keturunan”. Sebagaimana banyak orang jawa pada umumnya, tak lepas dari segala embel-embel ‘klenik’. Ibuku orang awam, bapakku pun begitu. Mereka bukan pasangan “ikhwan-akhwat”. Tapi syukurku tak kan kan henti dilahirkan dalam keluarga ini, karena merekalah benteng pertamaku.
Masih kuingat dengan jelas peristiwa-peristiwa yang tak kumengerti saat itu, aku hanya ingin bernostalgia tentang kehidupan masyarakat yang kutapaki.

Kumulai cerita dari saat kelahiran adik keduaku, aku sudah cukup kritis saat itu untuk memahami “keanehan”. Pada saat itu ibu masih di rumah sakit, simbah sibuk menanam sesuatu di salah satu sudut rumah dengan diberi lampu, beberapa saat kemudian saat bapak “rawuh”, lampu itu disingkirkan oleh beliau dengan sedikit “debat dan gerutuan” dari simbah. Belakangan aku tau yang ditanam itu ari-ari. Kenapa diberi lampu? Menurut simbah, ari-ari itu ‘sedulur tua’, yang membersamai seseorang lahir di dunia ini hingga meninggal nanti. Karena itu harus diantarkan ke alamnya, tujuan lampu itu untuk menerangi jalannya. Kurang lebih seperti itu penjelasannya. Tapi menurut bapak, ari-ari hanya perlu ditanam, agar tidak menebarkan bau busuk kemana-mana. Jadi kepercayaan tentang penggunaan lampu itu kata beliau hanya ‘gugon tuhon’.

Umurku terus beranjak, masuk dunia sekolah, di TK Tunas Rimba IV. Aku berbeda dengan teman-temanku yang pada hari pertama bahkan hari-hari selanjutnya ditemani oleh ibunya. Aku hanya diantar hingga bel berbunyi. Setelah itu hanya senyum dan pesan pengertian yang ibu berikan untuk menemani hariku. Aku sudah terbiasa ditinggalkan. Aku dan mbak Wiwin, teman sepermainan sejak batita. Beberapa waktu kemudian semua teman-temanku heboh, mereka mengenakan semacam kalung dengan gantungan berupa kain mirip bantal mini, entah apa isinya. Yang jelas katanya kainnya berasal dari kain kelambu makam Nyi Ageng Ngerang, sebuah makam ulama yang dikeramatkan oleh penduduk di sekitarku. Siang itu, simbah dan pakde ribut bin heboh mencarikanku ‘jimat’ itu. Katanya untuk melindungiku dari keganasan Ratu Pantai Selatan yang konon katanya lagi ngamuk. Aku sudah mendengar legenda Ratu Pantai Selatan dari orang-orang, aku hanya melafadzkan ta’awudz, karena menurutku dia setan. Hehehe… alhamdulillah sebelum ‘jimat’ itu bertengger di tubuhku, bapak&ibu keburu pulang, dan lagi-lagi bapak memberi pengertian kepada sang mertua. Dan kepadaku, bapak bilang bahwa semua yang di dunia ini milik Allah, hanya kepada Allah kita boleh takut, setan&iblis takut sama manusia, mereka Cuma ingin menjerumuskan manusia, kemudian cerita Nabi Adam as mengiringi proses pengertian amy kecil.

Menginjak jenjang pendidikan selanjutnya, di SD 1 Tambakromo. Entah saat kelas berapa, ada satu masa dimana aku melihat di tiap rumah ada bungkusan air warna-warni digantung di pohon, depan pintu, dll. Kukira itu trend, dan karena menurutku bagus, aku ingin meniru, sampai dirumah aku mencari pewarna makanan dikotak bumbu ibu. Merah, kuning, hijau, yap, hanya warna itu yang ada di depan rumah orang-orang. Dan aku berkreasi dengan mencampur warna-warna itu, alhasil ada warna orange, biru, ungu, sampe item. Ahahaha… oh ya, hanya rumahku dan rumah mbak Wiwin yang ga ada hiasan warna-warni itu. Langsung aja aku berkutat dengan air warna itu bersama adikku. Terbayang ingin memasang plastik air warna itu di semua ranting pohon dan bunga yang ada di depan rumah. Hihihi… tapi rencanaku gagal oleh kepulangan bapak&ibu. Saat itu kata mereka, aku boleh main air warna, tapi ga boleh dipasang kayak orang-orang, aku ga boleh asal ikut-ikutan tanpa pengetahuan. Karena ga semua yang kuikuti itu bener. Kata bapak, tetanggaku yang masang air itu untuk tolak bala (musibah), padahal Allah yang berhak memberi&menangkal musibah, jadi kita mintanya hanya boleh kepada Allah. Proses pemberian pengertian itu selalu berlanjut hingga malam, pada ritual yang selalu kami tunggu-tunggu, yaitu ritual bercerita oleh bapak sebagai pengantar tidur. Hehe… saat peristiwa itu yang mengalir adalah cerita Nabi Nuh as, dimana beliau diselamatkan Allah dari bencana banjir bandang.

Lalu pada 1997, Mbah Akungku meninggal. Aku sama sekali tidak mengerti. Yang jelas ada banyak sekali makanan. (terlepas dari cerita meninggalnya Mbah Akung hingga pemakamannya). Saat itu masih kuingat ada sepiring buah-buahan di meja besar di rumah mbah, tapi selain buah, ada bunga dalam tempat berupa daun pisang (istilah di tempat kami ‘takir’), kami tidak boleh mendekat apalagi memakan buah itu. Kami diberi buah-buahan yang lain, tapi dasarnya aku penasaran, aku comot aja jeruk dari situ. Ahahahaha… terlalu mubadzir menurutku jika buah kesukaanku dibiarkan begitu saja. :p alhasil aku kena omelan dari bude-budeku, untung ada ibu yang menyelamatkanku.😀
Kemudian masih di masa SD, kelas 4. Saat itu ada desas-desus bahwa tanggal 9 September 1999 (9/9/99) akan terjadi kiamat. Sampai dirumah aku cerita sama bapak&ibu, trus kata mereka itu namanya ramalan. Percaya ramalan dan sihir itu dosa. Nabi pun tak tau kapan kiamat datang. Semua itu rahasia Allah. Lalu mengalirlah cerita tentang Nabi Musa as&para tukang sihir Fir’aun, juga tentang cerita meninggalnya almarhum Mbah Akung. Aku pun mengerti, aku tidak takut sama sekali. Tapi pada hari H itu, sangat surprise! Hanya beberapa gelintir anak yang datang ke sekolah. Lagi-lagi aku dan mbak Wiwin termasuk diantaranya. Hehe… aya-aya wae… dan kenyataannya sampai detik ini, 10 tahun lewat (9/9/09), kiamat belum terjadi, dan aku masih berdiri disini alhamdulillah.

Kehidupanku masih berlanjut, saat kelas 6 SD, sebelum ujian kami diberi pensil yang katanya sudah didoakan. Sampai dirumah (aku punya kebiasaan selalu menceritakan apapun yang kualami seharian kepada ortuku, sekecil apapun itu, dan berlanjut hingga sekarang. Hehe…), pensilku diminta sama bapak, katanya tu pensil dibiarin aja, aku disuruh pakai pensilku yang biasanya. Karena apapun yang terjadi atas diriku itu kuasa Allah, setiap manusia berhak&wajib berdoa untuk dirinya sendiri, bukan untuk pensil. Dan yang membuatku lulus bukan pensil itu, tapi kemampuanku dan kuasa Allah. Seandainya ga lulus, itu bukan karena pensil, tapi karena ada rencana lain yang lebih indah. Kata bapak, itu syirik, itu dosa besar, aku harus mematahkan semua kepercayaan itu dengan membuktikan bahwa aku bisa lulus tanpa pensil itu. Lalu mengalirlah cerita nabi Ismail yang diganti menjadi kambing saat akan dikorbankan.

Masih banyak lagi cerita-cerita syirik yang mengiringi langkah Amy kecil, terutama saat-saat balita hingga SD. Karena lingkungan yang demikian. Beruntung aku diberi pengertian tentang semua itu, hingga mampu bertahan memegang Tauhid hingga detik ini insyaAllah. Beruntung lagi selepas SD aku ‘dibuang’ ke kota. Hehehe…

Tapi sekarang aku makin heran. Di era cyber ini, saat dunia makin sempit, saat teknologi merajalela, empatbelas tahun dari masa kecil amy, ternyata dunia ‘klenik’ tak banyak berubah, bahkan semakin diminati. Lihat saja aksi Ki Joko Goblok, mama Loreng, mbah Roso, deelel. Mereka makin laris aja. Bedanya sekarang mereka pakai media sms, kuis di facebook, zodiak, deelel. Ahahaha… Hiks…

Bahkan sekarang ini sedang kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu (9/9/99), orang-orang mulai dari infotainment, pejabat, peramal, berita, koran, tabloid, semuanya heboh membicarakan angka cantik 12/12/12. Katanya lagi-lagi pada tanggal itu akan kiamat. Herannya, kok ga ada taubat masal ya????????????????????????????????????????????????????????????????????????? teteuuup aja keukeuh mbak-mbak itu pake baju adiknya, atau baju belum selesai dijait udah dipake. Teteuuuppp aja pada korupsi, korupsi waktu, korupsi duit, korupsi nilai, korupsi segalanya, mpe kalo bisa pipis juga dikorupsi. Hhhh…. itu yang percaya kiamat 2012, katanya mumpung masih idup. Tinggal 3 tahun lagi idup di dunia dipuasin… naudzubillah…

Ya, inilah Indonesia, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, plus akidah terbobrok di dunia. Sanggupkah kita mengubahnya?????? Mulai dari diri sendiri.

Thanks Bapak&Ibu yang selalu membimbingku hingga saat ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s