Aku di Jalan Ini

Aku sebenernya bingung mu nulis apa. Jadi, biarlah jemariku menari sesuka hati berkolaborasi hati di tuts keyboard. Hehehe…

Amy, lahir dengan selamat di RSU RAA Soewondo.
Amy, diberi anugerah terindah berupa nama, Haminati Sharikha Dinahaji.
Aku, adalah bukan aku, karena aku akan menjadi aku saat namaku telah terpahat di batu nisan.

Aku dibesarkan di sebuah rumah yang sangat sederhana, tepatnya rumah tua yang agak-agak gimanaaa… gitu… yah layaknya rumah-rumah tua gitu lah. Sejak kecil, aku sudah dikenalkan dengan Islam, Kristen, Katolik, dan Budha. Karena keluarga besar ayah ibuku heterogen. Orangtuaku dari keluarga ammah, hanya bapak yang sedikit banyak memahami perjalanan panjang yang kutempuh selama ini.
Sejak balita, aku mendapat pelajaran agama secara informal dari orangtuaku. Mereka mengajarkan apa yang mereka bisa. Sejak TK-SMA, aku “ngaji” sama guruku, Pak Mujahid dan Bu Nur. Beliau berdua pasangan hafidz-hafidzah yang sangat menyayangiku sampai sekarang. Tapi nyabang kemana-mana juga. Namanya juga dalam pencarian jati diri. Selama itu pula, aku belum kenal tarbiyah. Justru orang-orang tertipu dengan tampilan luaranku yang sering pake jilbab lebar. Hehehe… bahkan ga jarang dapat pertanyaan dari teman-teman,
“Kamu teroris ya?” ; atau
“Kamu anggota JI-nya Ba’asyir ya?” ; dan lain-lain lah.
Pas masuk SMA, aku sering liat mbak-mbak yang belakangan kita sebut “jilbaber”. Wajah-wajahnya cerah, teduh, bikin tenang lah pokoknya tiap liat mereka. Nah pas kelas X itu, tiap hari Jumat pagi, ada sekelompok kakak-kakak kelas yang datang ke kelas kita dalam rangka mempromosikan kajian muslimah tiap Jumat jam pulang sekolah di mushola sekolah. Nah, aku mulai ikutan tuh… hohoho…
Tapi, ada tapinya… aku ikut tu karena jam 2 ada ekskul wajib, nah, karena rumahku nun jauh disana, aku memilih stay di sekolah, karena saat itu masih dalam proses pencarian rumah kost yang cocok. Lha ada kajian itu, aku ikut aja, daripada bengong kayak sapi ompong. Hehehe… Tapi lama-lama aku bosen juga, habis cuma gitu-gitu aja. Aku ikut kajian itu ya sekitar 5-8 kali doank lah (ada ga ya??)
Pas kelas XI awal, aku mulai semangat lagi tuh ikutan kajian rutin jumat. Kali ini Lillahi Ta’ala. Aku mulai ngomporin temen-temenku juga biar mereka juga ikut. Tapi setelah beberapa kali, aku mulai dapat hambatan, tiap pulang kajian kan siang tuh jam 1-an, aku ke kos sendirian jalan kaki menyusuri komplek perumahan elite yang subhanallah sepinya minta ampuuun… nah disitu, ujian berlangsung bertubi-tubi. Mulai dari disenyumin orang gila, diliatin orang gila, diludahin orang gila, sampe dikejar-kejar orang gila juga!! Padahal aku kan phobia ma orang gila. Hiks… Dipamerin ma exhibist juga disitu. Huuuaaaa…!!! pokoknya tu jalan penuh kenangan buruk.
Habis kejadian beruntun itu, aku memutuskan untuk ga pulang sendirian, aku gagal ngomporin temen kosku (yang sekarang juga katanya gi dalam proses menjadi akhwat. Hehe… :p) untuk ikut juga. Jadilah aku ga pernah ikut kegiatan itu lagi.
Kelas XII awal, aku mulai nyadar lagi, jiwaku hampa… Akhirnya aku tanya-tanya ma sahabatku, eh, dia ngajakin aku ikut liqo’. Setelah mengumpulkan segala keberanian (secara aku minder sama jilbaber-jilbaber lain), aku datang pas liqo’ itu, hari Sabtu. Ternyata eh ternyata, MRku tu tetanggaku, putrinya sahabat ayahku, adik beliau pernah jadi guru TPQ-ku pas balita. Hehehe… Dunia memang sempit.
Lagi semangat-semangatnya tu, eh ada aja halangannya. Sahabat-sahabatku mulai curiga dengan pertanyaan-pertanyaan usil,
“Amy, kamu ikut apaan? Kok aku kemaren sabtu liat kamu ke mushola jam 2? Ngapain? Kan udah sepi! Hayo kamu ngapa-ngapain ya?”
Ga Cuma itu, kebetulan juga jadwal les privatku diganti hari sabtu jam 2 juga!! Diantara 2 pilihan dah. Masalahnya matematika aku ga jago, akhirnya ya aku hanya merasakan liqo 3 kali pertemuan. Habis itu konsen ke UN.
Setelah UN, jujur aku bertekad ingin berubah. Aku malu masih gini-gini aja. Temen-temenku yang dulu masih “gundul”, sekarang udah berjilbab rapi, sedangkan aku yang udah berjilbab rapi sejak SMP kok ga ada kemajuan yang berarti ya? Ilmu agamaku ga nambah, hafalan juga cuma itu-itu aja dari dulu.
Sekarang, aku udah di dalam lingkaran tarbiyah, bersama saudara-saudaraku. Aku ingin konsisten di jalan ini. Ini pilihanku setelah pencarian panjangku atas Islam “jalur” mana yang akan kutempuh. Tarbiyah, sesuatu yang baru dalam fase kehidupanku. Akankah bertahan disini? Wallahualam.
Asa dalam Lingkaran

Purnama telah berganti
Entah berapa kali
Selalu tersenyum
Bak sang dewa
Aku tak dapat menerka
Apakah seringai atau senyum menggoda
Aku ingin menggapainya
Tapi apa daya
Aku terkurung dalam gua
Tak kuasa untuk keluar
Padahal aku ingin melihat purnama dari sisi lain!
Merengkuhnya dalam pelukku
Berjuta asa tetap menggantung
Dalam diam
Menanti jawab atas satu kepastian
Masihkah ada cahaya sang purnama?
Aku melangkah
Terus melangkah
Kutemui padang ilalang
Kulewati hutan
Tapi dimana sang purnama itu?
Aku tak lagi ingin menggapainya!
Aku hanya ingin melihat terang cahayanya
Kini,
Aku terjebak dalam lingkaran
Disini ada cahaya!!!
Sembilan bintang dalam rona purnama.
Tinggalkan lingkaran lain yang tak semestinya
Tapi akan tetap menjadi yang berharga
Kusimpan rapi dalam satu kotak
Kutempatkan di salah satu sudut hatiku
Yang seringkali kusempatkan diri ini membuka kotak-kotak itu
Untuk mengingat kembali segala perjalanan yang pernah kulewati.
Biar kusimpan sendiri
Tak perlu ada yang tahu
Kemana saja Islamku ini pernah berlabuh
Karena aku hanya ingin menjadi aku
Yang terpahat dalam batu nisan sederhana
Dan ingatan orang-orang disekitarku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s