Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan

Bruuukkk!!!
“I’m sorry, ga sengaja.”
“never mind. Lain kali ati-ati.”
“it’s OK, thanks.”
Huffhh… suer aku ga liat ada orang jalan di depanku. Entahlah, gara-gara suntuk ni otak, dari pagi nguber PD 3 buat minta tandatangan demi sepeser beasiswa, di sisi lain aku memfokuskan memori otak ke materi ujian nanti siang. Huhh… Michael Talbott serasa menari-nari memenuhi seluruh ruang yang ada. Padahal sebenarnya aku memang sangat mencintai Fisika, tapi entahlah kali ini, semua terasa memuakkan. Aku harus terseret di arus birokrasi yang dulu sangat kuhindari, bahkan menolehpun aku enggan. Dulu aku berpikir bahwa tembok itu terlalu kuat untuk kurobohkan, tapi sekarang aku berpikir untuk membuat alat yang bisa merobohkan kebobrokan yang menempel di seluruh bagian tembok itu.
“Mbak Resh! bisa minta tolong?”
“apa dek?”
“tolong jelasin tentang persamaan Schrodinger.”
“huuuaaaa…. ntar aja ye, ni aku masih berusaha mencerna di otak. Ntar abis ujian janji dah akan kutumpahkan semuanya ke kamu sisa-sisanya. Hehe…”
“wew, yaudin deh, tapi janji ya!”
“iyeeee… udah ya beibh, sibuk nih. Hohoho… bye…”
“iya…”
Erlian, teman seangkatan tapi beda kelas, kita klop banget. Gara-gara Cuma beda tanggal lahir aja dia panggil aku “mbak”. Huh… jadi berasa tua. Ahahaha…
***
“Ibu bilang nggak ya nggak!!!”
“tapi Bu, ini masalah yang sangat krusial. Jumlah pekerja perempuan dibatasi di pabrik itu, bahkan perempuan hamil 7 bulan udah ga boleh kerja disana. Huhf tu kan diskriminasi banget Bu!”
“tapi itu bahaya. Besar kemungkinan bentrok. Ibu juga pernah jadi mahasiswa, tapi ga gitu-gitu amat. Ribet banget mahasiswa jaman sekarang. Lagian ya besok tu yang demo perempuan semua, seandainya pabrik itu ngerahin preman buat menangkal kalian, siapa yang bikin border perlindungan?”
“aku ga sendirian kok, ada banyak temen. Buaannnyyyaaakkk…. lagian aku kuat Bu! Aku perempuan kuat!”
“itu kamu sayang, gimana dengan yang lain? Apa kamu bisa menjamin bisa melindungi mereka semua kalo ntar terjadi apa-apa?”
“hmmm… harusnya ibu percaya kalo kaum kita itu kuat.”
“tapi tetep aja kalo nglawan aparat secara fisik kita kalah kuat.”
“so?”
“yaudah gini aja, kamu ikut besok tapi lain kali ga boleh lagi, atau kamu ga ikut besok tapi lain kali boleh, tapi tetep dengan syarat-syarat yng berlaku.”
“hhh… itu namanya bukan pilihan. Sama aja jatuhnya.”
“hehe… besok kita masak kepiting asam manis aja yuk?”
“ogggaaaaaaaaahhhhhhhhh….”
Huh… sebel deh tiap ada aksi yang kira-kira bentrok pasti ga dibolehin. Padahal aku pengen banget ngrasain ada di barisan terdepan bersama para buruh wanita yang sedang kita perjuangkan hak-haknya. Ngrasain berhadapan sama aparat songong-songong itu, atau bahkan ngrasain dipentung atau peluru karet sekalipun. Iri rasanya tiap denger cerita Bang Tegar dibawa ke kantor polisi, orasi, jadi korlap, deelel. Hiks… aku pengeeeennnn…
“Eh bocah!! Ngapain ngelamun aja?”
“heh, seenaknya aja maen jitak!”
“habis diomelin mami yeee…??”
“bukan diomelin, tapi diceramahin.”
“huahahaha… ga boleh turun lagi ya besok pagi?”
“iya. Padahal besok kayaknya seru banget.”
“kasssiiiiiiaaaaaaaaaaannn.”
“idihhhh nyebelin banget seeeehhh…”
“yaudah kamu masak aja. Latian masak sono, jadi ntar kalo ada temenku yang mu jadiin kamu istrinya aku ga malu-malu banget geto… hehehe…”
“istri?? Belum terpikir bagi saya untuk menjadi seorang istri. Masih jauh. Saya ingin S2 di negeri seberang, lalu melangkahkan kaki ke benua lain lagi untuk menyabet gelar PhD.”
“duileee… 5 jempol dah buat adekku tersayang, bener-bener sekuensial konkret. Eh, pinjem jempol satu lagi dunk… hahahaa…”
“aku cuma ingin mendobrak paradigma bahwa perempuan identik dengan feel dan logika rendah. Aku bukan perempuan biasa. Aku kuat. Sejak aku bisa berpikir, sudah terpatri di sini, that i am the extra ordinary girl.” Ucapku tegas sambil menunjuk otak.
“it’s OK, aku tau kamu adikku yang sangat hebat. Siapa dulu donk kakaknya… “
“yeee… ga ada hubungannya kaleeee….”
“eh, kamu setuju kan kalo aku nyebut kamu bertipe sekuensial konkret?”
“iya lah, aku juga menyadari itu, aku lebih mengenal diriku sendiri daripada kamu. Weeeekkk…”
“iya, nah kamu kan sekuensial konkret, dengan kata lain planning oriented banget dan mengedepankan logika dengan mengesampingkan mood dan feelling. Selama ini tipe itu kebanyakan ada di kaumku. Apa iya kamu bener-bener seperti itu?”
“sampai sejauh ini sih aku ngrasa gitu. Aku enjoy kok.”
“apa kamu bener-bener mengabaikan feelling kamu?”
“iya.”
“selama ini jujur aku belum pernah melihat kamu merasa gagal, atau memang ga pernah gagal?.”
“karena aku selalu menyiapkan lebih dari 2 plan, bahkan 5 atau 7 sekalipun. Tak pernah kubiarkan kegagalan menghampiri hidupku.”
“yakin?”
“100%”
“apa arti kesuksesan bagi seorang Fareshadewi Ariani?”
“simpel aja, saat semua target hidupku tercapai.”
“hanya itu?”
“iya.”
“pernah ga ngerasa jiwamu kering?”
“hmmm…”
“coba jujur pada dirimu sendiri”
Aku berpikir, ya, sebenarnya hatiku hampa. Kesuksesan yang aku raih selama ini hanya semu. Segala jabatan yang pernah kuraih di semua lini, segala kekuatanku di jalan, segala ketegaranku, segala kecerdasanku, semua hanya ada di permukaan. Aku terlalu sombong untuk membiarkan setetes air mataku mengalir untuk sebuah kekalahan, itu bukan aku. Aku tak pernah mau mengakui kegagalan dengan mengubah kegagalan itu menjadi kesuksesan yang lebih besar. Tapi aku lupa bahwa aku perempuan.
Aku hanya

Aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku, bahkan di keluarga besar nenekku. Sejak kecil teman bermainku kebanyakan lelaki. Kakak dan adikku pun lelaki. Mereka semua menyayangiku.
Sungguh baru sekali ini aku mengakui satu kegagalan, kegagalan terbesar dalam hidupku, pada Abangku.
“sejak kamu remaja, abang selalu memantau kamu diam-diam. Dalam hati abang tidak menginginkan kamu menjadi seperti ini. Abang mengajarimu kuat bukan untuk menjadi yang terkuat. Abang mengajarimu hebat bukan untuk membuatmu hebat dalam segala hal dalam tanda kutip. Bukan salahmu jika kamu dipandang sempurna, atau kamu sendiri menganggap dirimu sempurna. Tapi ada satu sisi penting yang sama sekali tidak kamu sentuh, naluri wanita.”
“aku hanya ingin mendobrak pemikiran umum bang!”
“iya, abang tau, tapi fitrahmu sebagai perempuan, calon ibu. Jujur abang sangat khawatir saat kamu bergabung dengan para feminis itu.”
“kenapa abang ga mencegah waktu itu juga kalau abang khawatir?”
“abang ingin kamu memakai feelling plus logic untuk memahami kesalahanmu ini. Meski itu butuh waktu lama. Dan aku pikir, sekarang belum terlambat untuk menyadarkanmu.”
“tapi memang ga semua perempuan takhluk dengan feel-nya sendiri kan?”
“iya, tapi fitrah itu ga bisa dipungkiri. Abang tau, beberapa kali kamu jatuh cinta pada beberapa cowok, tapi logikamu benar-benar mengalahkan semuanya.”
“bukankah abang sendiri yang bilang kalo aku ga boleh pacaran?”
“that’s right, tapi abang tau bukan itu alasanmu yang sebenarnya. Kamu takut abang suruh langsung nikah kan?”
“abang ga berhak memojokkan aku dengan pertanyaan seperti itu. Itu ga etis dalam berdebat.”
“OK, tapi abang sebagai kakak laki-lakimu berhak atas keselamatanmu. Lembaga perkawinan yang selama ini kamu dan kelompokmu anggap sebagai sangkar emas bagi kaummu itu tak selamanya benar Non.”
“Gimana ga jadi sangkar emas kalo semua perempuan yang sudah menikah harus diam di rumah?”
“kamu salah Sayang, di rumah bukan diam, tapi bekerja menyiapkan pahlawan-pahlawan masa depan dari rahimmu. Gimana bisa tercetak pahlawan kalau sehari semalam kamu meninggalkan mereka, asyik berjibaku dengan pekerjaanmu? Lagian kamu jangan menutup mata donk dengan kesuksesan Ibu sebgai perempuan terbaik di hidup kita. beliau berkarier, tapi kita ga pernah merasa terlantar kan? Ibu memberikan yang terbaik untuk keluarganya dan dirinya sendiri. Karier ibu sangat terarah. Beliau sangat tau ranah pembagian antara keluarga dan karier. Maaf, tidak seperti karier yang selama ini kamu puja dan kamu cita-citakan. Bahkan Ibu menempatkan keluarga jauh diatas pekerjaan beliau. Beliau tidak pernah merasa berada dalam sangkar emas.”
“hmmm…”
“entah berapa orang teman abang yang mengecap kamu sebagai perempuan tak beradab, beringas. Hehehe…”
“ga seharusnya mereka gitu. Siapa mereka getooo…”
“tapi emang kamu beringas kan? Weeeekkk…”
“bukan beringas, tapi emang aku kayak gini.”
“tapi pola pikirku tentang perempuan tadi perlu kamu pertimbangakn lagi kan?”
“maybe…”
&&&

EPILOG
Faresha:
Masih banyak yang harus kita diskusikan, Bang. Tak cukup malam ini. Aku selalu bertekad bahwa aku kuat, aku berani. Tapi aku tak pernah mempunyai kekuatan dan keberanian untuk mengakui satu kegagalan sekalipun. Biarkan waktu yang berbicara.

Tegar :
Aku hanya ingin kita berkumpul di surga-Nya nanti. Aku akan merasa sangat berdosa jika kamu kembali kepada-Nya dalam keadaan otak dan hati masih lupa bahwa dirimu dilahirkan sebagai perempuan yang sangat mulia sedangkan dirimu sendiri menistakan kaummu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s