GETAR ITU…

“getar itu kurasakan lagi, tepatnya lima bulan yang lalu.”
“apa bahasamu untuk itu?”
“apa perlu bahasa untuk mengungkapkannya? Aku takut bahasa itu menyakitkan. Karena lidah adalah pedang.”
“tak hanya dengan lidah bahasa dapat diungkapkan.”
“sudahlah San, aku lelah bermain kata. Aku lelah memendam ini sendiri. Ternyata diam itu melelahkan.”
“hati wanita bagaikan palung Mariana, tak seorangpun yang mampu menyelaminya. Bahkan kau yang tinggal di dalamnya pun sulit mengerti apa yang ada di sana. Hmmm… 5 bulan bukan waktu yang singkat. Cukup untuk melangkah.”
“aku sudah mencoba melangkah, sendirian, hanya seorang diri. Tapi apa artinya jika hanya aku yang melangkah? Sedangkan dia masih terdiam. Bukankah kita harus mengayun langkah bersama-sama?”
…………………………………………………
Kriteria Casuku :
1. Islam
2. Dewasa
3. Mencintaiku
4. Pinter
5. Dari keluarga baik-baik
6. Dulunya pas SMA dari IPA
7. Kalo bisa jangan dari luar Jawa, ntar mudiknya susah.
8. Hafal 1 Juz minimal, alhamdulillah kalo lebih, biar kalo jadi imam sholat ga cuma kulhu yang dibaca.
9. Ganteng, kaya raya, deelel yang lain bonus lah.
Hufffttt… 9 bahan pokok memilih casu, di selembar kertas usang yang terselip di buku Biologi SMA. Itu kutulis bareng sama sobat-sobatku dulu saat masih ceria dengan putih-abu. Sekarang, meski kertas itu masih melambai-lambai, tapi kriteria itu telah terbang, sejak ada dia.
Aku mengenalnya sejak lama, hanya kenal, tak lebih. Dan seperti kepada yang lain, aku pun bersikap sama. Aku ga pernah membedakan. Inilah aku, slebor, ceplas-ceplos, kacau, deelel yang disebut sobat-sobatku sebagai “the dark side of Rashka”. Meski kadang jadi satu kelebihan tersendiri. Jatuh cinta adalah suatu yang sangat langka di sepanjang hidupku. Apalagi sejak 4 tahun yang lalu. Yang menjadi titik ledakan terbesar di hidupku. Hingga aku mendeklarasikan diri sebagai “wanita yang tak akan takhluk oleh CINTA”.
“dia sesuai dengan kriteriamu?”
“apa gunanya kriteria? Kalau itu hanya akan menyiksa? Bukankah ga ada yang sempurna di dunia ini?”
“yang kamu tulis dulu?”
“yaelah… tu mah kriteria anak SMA non…”
“trus sebenernya apa yang dia punya sampai kamu collapse kayak gini? Kamu tu kalo cerita yang lengkap dunk! Jangan muter-muter bikin aku bingung!”
“hehe… jangan ngambek. Gini, aku udah ga pake kriteria itu. Aku punya kriteria baru, cukup dengan hanif dan nyambung, yang lain anggep bonus semua deh.”
“emang selama ini dari sekian banyak itu cuma dia yang nyambung???!!!”
“biasa aja kale ga usah melotot gitu.”
“yaiyalah, masak iya dari sekian lusin pejantan yang nguber betina macam kamu cuma dia yang nyambung?? Berarti yang lain bloon geto? Jadi selama ini kamu diuber sama berlusin-lusin manusia bloon?”
“hmmm… aku ga suka banding-bandingin mereka. Semua punya kelebihan dan kekurangan. Masalah hati emang subyektif, ga bisa diukur pake logika.”
“hmmm… penjagaan hatimu udah jebol selama 5 bulan.”
“siapa sih Non yang mau tersiksa kayak gini? Kata orang cinta antara dua anak manusia itu indah, tapi aku ga merasakannya kecuali hari-hari pertama, setelah itu aku sadar ini salah. Aku mengakhiri semuanya. Aku mengunci hatiku. Tapi justru getaran itu makin kuat.”
“heeeiii!! Jadi ini akhwat jaman sekarang? Ingat Non, perjuanganmu masih panjang, sangat panjang. Seandainya kamu merelakan seluruh waktumu untuk hal lain yang lebih berguna, kukira kamu ga akan sempat memikirkan masalah seperti ini.”
“aku hanya ingin menikah secepatnya. Aku capek dengan semuanya. Mungkin kalian bisa dengan gampang memberi nasehat ini-itu, tapi itu sulit buat aku. Aku ga bisa cuek dengan segala masalah yang timbul karena aku! Kalau aku boleh memilih, aku ga pengen dilihat manusia.”
“kamu Cuma perlu jaga sikap kamu.”
“sikap yang mana? Sikapku yang ceplas-ceplos? Yang suka senyum sama semua orang?”
“iya, ga usah lebay!”
“ini bawaanku dari orok!”
“ya itu dikurangin!”
“hmm… solusi yang tidak menyelesaikan masalah.”
……………………………………………
Aku sama sekali tak mengerti jalan pikirannya. Dia berkata cinta tak tak berani mengungkapkan cinta. Ah, aku lelah berjalan sendirian seperti ini! Sebenarnya apa yang menghambat proses ini? Hanya ketakutan-ketakutan semu yang ada dalam diri masing-masing. Jatuh bangun aku meyakinkan orangtua dan murobbiku, sendirian, hanya sendirian. Kemudian saat restu itu kudapat, dia diam. Beginikah calon imamku? Apakah aku rela menjadi makmum dari seorang yang pantas disebut pengecut?
“saya ingin bertemu anda untuk membicarakan tentang kita,”
“maaf saya tidak bisa,”
“saya hanya ingin meyakinkan diri saya bahwa anda bukan orang yang tepat untuk saya,”

Lagi-lagi hanya diam. Apakah dia termasuk orang yang menganggap diam itu emas 24 karat hingga dia sangat suka mengumpulkan emas itu?
………………………………………………………………..
“apa keputusanmu Non?”
“tidak ada keputusan yang harus diputuskan untuk saat ini,”
“maksudmu?”
“ya emang ga ada keputusan,”
“kamu nggantung?”
“ga, aku mundur,”
“ya, aku berusaha menyelami hatimu. Seandainya aku di posisimu, belum tentu aku masih mampu berdiri disini dengan senyum magismu itu,”
“aku bukan wanita yang bisa dipermainkan sesuka hati. Dua kali dengan cara berbeda aku terjerembab dalam dosa yang sama. Aku ingin seorang pemberani yang menjadi imamku. Bukan pengecut yang munafik.”
“ana uhibbukifillah ukhti,”
“aku ga bisa bersandiwara di hadapanmu Non, aku pengen nangis,”
“nangis aja kalau itu bisa mengurangi sakit hatimu, aku tetep disini sebagai sahabatmu, saudaramu.”
…………………………………………………………

Ya Allah, kami hanya manusia lemah yang kalah oleh nafsu. Ampunilah kami. Lapangkanlah hati-hati kami, penuhilah dengan keikhlasan dan sucikanlah dengan cinta-Mu.

15 thoughts on “GETAR ITU…

  1. subhanalallah.. kuat bener pendirianmu non..😮

    jadi harus mikir berkali2 nih kalo mau ngungakapin perasaan suka.. butuh kesabaran dan ketelitian tinggi :malu

  2. jd inget perjuanganku sebelum mendapat abi asrya-ku tercinta… nguber2 org yg ku anggap bs menjadi calon imam tp cm d tanggepi dgn diam+senyum… =D

    Alhamdulillah… Skrg ada abi arsya tercinta… Wkwkwkwk…

    (lebay sithik ah…… =P =D)

  3. Hm…gtu ya. Tenan pora kwi?😀 (canda)
    Sinau sek wae… Q punya tmen stu kntrakan. Berprinsip gni dlm mencri calis “saya tidak akan bergerak sebelum ada yang menunjukan tanganya”. Menrutmu piye, ndak unu akhwt sing wani disiki?
    Padahal mah uda pngen bgt sbnernya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s