Di Balik Jejak Renunganku

Dalam setiap jejak langkahku, aku mencari pelajaran dari kerasnya kehidupan. Ditengah hiruk pikuk kehidupan orang berjuang mencari makan, entah halal atau haram. Hingga kutemui kisah-kisah anak manusia yang dulu kukira hanya ada di sinetron picisan, yang untuk melihat iklannya pun aku enggan.

Lelaki tua berkawan dengan tumpukan sampah asal mendapatkan rupiah agar tak keluar serapah dari mulut anaknya. Para perempuan murahan berkubang sperma dengan para lelaki hidung belang di bedeng-bedeng rongsokan demi membeli bedak dan bergaya bak bangsawan. Anak-anak belia yang kukira semua lucu dan menggemaskan, ternyata tak kutemukan disana, semua garang, demi uang.

Aku terus melangkahkan kakiku, meninggalkan jejak-jejak pertanyaan di otak mereka masing-masing untuk apa aku mematung disana memperhatikan mereka, ataukah mereka pun tak peduli dengan apa mauku, yang penting hari ini bisa makan. Aku pun diam, dan terus menerawang.

Aku sampai pada suatu tempat, tak jauh dari tempat pertama. Kutemukan para lelaki sangar dengan sorot mata tajam berdandan sok garang dengan anting di telinga kanan dan kalung rantai berkeleleran demi mendapat pujian dari tante-tante kesepian. Para perempuan yang kata orang ?high class?, tapi menurutku tak jauh beda dengan sekelompok perempuan murahan yang berkubang sperma dengan para lelaki hidung belang di bedeng-bedeng rongsokan. Anak-anak malang dikungkung dalam penjara kapitalis oleh orangtuanya yang modernis. Dan terakhir, kutemui para pemuda yang mengaku pemuja setan, tak punya Tuhan, karena bagi mereka setan lebih berkuasa daripada Tuhan.

Aku muak, aku berjalan di menuju tanah lapang untuk bertanya pada ilalang, beginikah potret negeri yang kucintai?

Hampir 20 tahun aku berdiri disini, meminum air dari tanah ini, memakan hasil bumi pertiwi, ternyata aku hanya orang munafik yang mengaku mencintai negeri ini tanpa sadar aku membiarkan sedikit demi sedikit negeri ini hancur. Aku telah mengingkari sumpah para pemuda terdahuluku, bahkan aku mengingkari sumpahku kepada Tuhanku untuk menjadi khalifah di bumi ini.

Aku turut andil dalam kebobrokan ini. Dan aku bertanggungjawab mengembalikan kejayaan bangsa ini. Aku, kamu, dan kalian semua wahai PEMUDA INDONESIA!!!

Semarang, Februari 2010

2 thoughts on “Di Balik Jejak Renunganku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s