Aku Ingin Menikah

Aku ingin sekali menikah. Ingin sekali. Bukan sekedar nafsu, tapi kini aku ingin menyempurnakan ibadahku. Hampir 4 tahun aku mengekang keinginanku ini. Aku puasa, shalat sunnah, banyak dzikir, dan semuanya memang teredam. Tapi sekarang, aku pikir ini waktu yang tepat untuk menyuntingnya. Tidak ada alasan untuk menunda lagi. Ijazah S1 sudah di tangan, maisyahpun sudah ada sedikit, cukup lah untuk hidup.
Wanita itu bukan pacarku, bukan kekasihku. Bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa selama ini aku mati-matian menahan rasa ini. Aku bertemu dengannya di salah satu lembaga bimbingan belajar saat persiapan ujian SNMPTN. Saat itu kita masih sama-sama lugu, ga jelas, kacau lah pokoknya. Tapi aku tahu, dia shalihah, minimal penilaianku tentang wanita shalihah waktu itu dia ga pernah ninggalin shalat, dan dia berjilbab. Hehe… jadi malu.
***
“Hai! Aku duduk sini ya? Kosong kan?”
“hu’um, terserah lah. Dari SMA mana?”
“SMA Al Hikmah. Kamu?”
“SMA Perjuangan,”
“owh, pasti pinter dah. Hehe…”
“biasa aja. Oh ya, aku Imam,”
“Sania,”
Uluran tanganku buat salam perkenalan ditolak!!!!! Tidaaakkk!!! Malu dah! Untung baru ada segelintir orang disitu. Aku pikir dia salah satu cewek yang suka tepe-tepe sama cowok. Habisnya cara dia ngomong friendly banget. Cantik lagi. Hmmm…
***
Setelah pertemuan itu, aku masih sering ketemu dia, tapi Cuma say hello aja, apalagi dia sering dateng telat gara-gara ada kegiatan di sekolahnya, jadinya duduk di belakang.
Tapi setelah SNMPTN, kita pun terpisah, aku diterima di Teknik Elektro UI, dan dia di Ilmu Pemerintahan Unair. Hmmppphhh… Jakarta-Surabaya bo… kayak rute bis malam aja. Padahal dia juga keterima di Sastra Inggris UI lewat jalur PMDK, harusnya kan deket, bisa berduaan di jembatan Texas pas sore-sore sambil menikmati angin. Hiks… Ga akan terjadi, hanya khayalan.
***
Ditengah kesibukan kuliah dan praktikum yang ga bisa ditolerir, aku dikenalkan temanku dengan mas-mas takmir masjid Arif Rahman Hakim. Perkenalan yang menjadi titik tolak perubahan terbesar dalam hidupku. Aku mengenal jalan ini dan segalanya pun berubah.
Aku tahu rasa itu belum saatnya berkembang, tapi bukan dosa jika aku mampu mengendalikannya. Aku menahan sekuat hati rasa ini. aku yakin, di saat yang tepat nanti dia pasti lebih baik. Aku terus memantaunya, dalam diam.
Tapi ternyata dugaanku salah, dia semakin brutal di mataku. Mungkin karena pergaulan di jurusannya yang penuh dengan pemikiran politik busuk. Ya, politik itu busuk menurutku.
***
“kenapa sih mesti ilmu politik?”
“setiap orang itu pasti berpolitik, sadar atau tidak,”
“tapi menurutku politik itu kotor,”
“siapa lagi yang membersihkan kalau bukan kita?”
“tapi itu bukan sistem Islam. Kamu tau itu,”
“lalu membiarkan negara ini berdiri dengan politik kotor yang dihuni oleh orang-orang kotor?”
“setidaknya itu lebih menyelamatkan dirimu, hisab di akhirat tu individual,”
“kalo gitu, apa gunanya dakwah? Pengen masuk surga sendirian?”
Kenapa sih dia gitu? Selalu mempertahankan pendapat yang dianggapnya benar, padahal belum tentu itu benar. Istilah orang Jawa tu ‘ngeyelan’. Aku mencoba husnudzhon kepada Allah. Mungkin jalan hidupku adalah yang terbaik, Allah menunjukkan bahwa dia bukan untukku. Mulai dari kenyataan bahwa kami dipisahkan antara Jakarta-Surabaya, hingga perbedaan pemikiran dan sifat diantara kami yang sangat sulit disatukan. Arrrgghhh… seharusnya aku ga pernah kenal dia aja kalau begini. T.T
Aku pasrah, tetap membiarkan dia di sudut hatiku, ya, hanya di sudut. Aku yakin, segala kesibukanku akan mampu mengalahkan bayang-bayangnya.
***
Sekarang 4 tahun berlalu. Aku lulus tepat waktu, bahkan terlalu cepat kata teman-temanku. Dan sekarang aku ingin menikah. Dan dia muncul dari sudut hatiku. Dengan diakah? Akankah dia menjadi bidadariku? Aku ingin menikah.

###¤¤###

Nb : Cerita yang ga jelas ujung pangkalnya ini aku dedikasikan spesial buat Kak R****** yang udah cerita panjang lebar. Hahaha… udah tak sensor tu Kak!

16 thoughts on “Aku Ingin Menikah

  1. ceritane gurih seeh…
    Emaknya si cowok : arep rabi? Anak bojomu arep mbok pakani watu yo?
    Cowok : lak gelem yo gak opo opo mak…
    Hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s