UCIL

Matahari bersinarr begitu terik, angin pun berhembus panas tak bersahabat sembari menerbangkan partikel-partikel polusi yang membuat pernafasanku tidak nyaman dan mata terasa pedih. Aku memutuskan untuk duduk-duduk di kawasan PKL UNDIP, tempatku mengisi perut sekaligus mencari mangsa. Seperti biasa aku sendirian kali ini. setelah kenyang melahap ayam gepuk kesukaanku. Teman-temanku sudah menghilang dengan mobil pacarnya masing-masing. Lebih baik aku disini mengamati orang lalu-lalang, meski harus kurelakan paru-paruku menghirup asap rokok dan asap knalpot yang bersliweran. Aku bukan mahasiswa UNDIP, hanya lulusan SMA, tapi aku suka disini. Toh tak ada larangan untuk siapapun. Lagipula dengan melihat penampilanku, aku yakin semua orang disini juga menganggapku mahasiswa.
Baru setengah jam aku duduk disini, kuhitung ada dua orang nenek-nenek, seorang bapak setengah baya, dua orang ibu menggendong anaknya, dan seorang anak yang kutaksir masih usia SD, mereka semua menghampiriku silih berganti dalam kurun waktu hanya setengah jam, semuanya menengadahkan tangan. Ada juga 3 orang pengamen yang menurutku mereka masih sangat layak bekerja. Ahh, untuk apa aku memikirkan mereka, toh aku pun seperti ini.
Aku melangkahkan kaki menuju salah satu pohon besar. Kurasa cukup nyaman untuk berteduh. Kulihat ada seseorang yang kukenal di depan PKM, seorang anak kecil tanpa alas kaki dengan membawa beberapa ekslempar koran tak berkelas di tangannya. Ah, sudah lama aku tak bertemu dengannya. Dia mungkin seumuran dengan adikku, yang hilang diculik orang, dan ditemukan tak bernyawa di sekitar rel di kawasan Kota Lama dengan kondisi terpotong tiga bagian. Adikku satu-satunya yang sangat kucintai.
“Uciiiiiillllllll!!!!!” aku berteriak memanggilnya. Yang kupanggil sejenak mencari sumber suara yang menyebut namanya.
“woy mbakE!”
Aku melambaikan tangan sebagai isyarat memintanya mendekat. Lalu dengan lari-lari kecil dia menyeberang jalan mendekatiku dengan wajah sumringah.
“kemana aja Cil? Lama aku ga liat kamu,”
“hehe… kemarin-kemarin aku ga disini mbak,”
“lha terus kowe ning ndi?”
“aku wingi ngamen ning Johar mbak, lumayan hasilE, bisa buat makan,”
“owh, ga jual koran lagi? Lha itu buat apa?” tanyaku sambil menunjuk beberapa lembar koran ditangannya.
“kemaren ga, tapi sekarang jualan lagi, soalnya dimarahin Bu’E,” kulihat sekelebat kabut di wajahnya.
“kenapa dimarahin?”
“kata Bu’E, itu sama aja aku ngemis, soalnya suaraku jelek banget, bahkan kata Bu’e itu justru akan mendzolimi orang lain, itu dosa,”
Hmmm… darahku berdesir. Ucil adalah pedagang koran abal-abal yang kutemui pertama kali di mushola FISIP. Saat itu dia habis shalat, sedangkan aku hanya numpang duduk disitu. Sejak pertemuan itu aku semakin akrab dengannya. Entah apa yang ada pada dirinya yang mirip adikku. Yang jelas secara fisik beda jauh. Aarrrgghhh, aku menemukan kedamaian setiap menatap wajah lugunya.
“eh Cil, makan es yuk! Aku traktir,”
“ga ah mbak, masak baru ketemu langsung ditraktir?”
“nah justru itu, ntar keburu ga ketemu lagi. Ayo makan es pisang ijo aja yang deket, doyan kan? Ga usah ewuh, biasa wae yo! Mboten pareng nolak rejeki,”
“OK bos! Hahaha…”
Sambil minum, aku tetap ngobrol sama Ucil. Aku merasakan beberapa tatapan heran dari mata-mata yang lewat. Mungkin mereka heran, karena penampilanku dengan Ucil bagai bumi dengan langit.
“mbak kenapa sih sering nraktir aku tapi ga mau beli koranku?”
“ya karena mbak ga butuh koranmu,”
“kenapa gitu?”
“ya emang gitu, hahaha…”
Percakapan standar terus bergulir diantara keakrabanku dengannya.
“mbak, aku pergi dulu ya, masih banyak ni korannya,”
“iya dah, ati-ati ya,”
“OK!”
Ucil menghilang ditelan tikungan. Aku masih merenungi kalimat-kalimat Ucil. Aku cemburu pada anak itu. Di usia belia dia sudah tau apa itu dzolim dan dosa. Sedangkan aku?
***
“hai Ca!”
“Hai mas!”
“yuk jalan-jalan!”
“kemana?”
“CL aja, nonton. Habis tu ntar belanja apa aja deh aku bayarin! Tapi habis itu jangan lupa ya ke kontrakanku menikmati surga bareng!” matanya berkilat nakal menggoda.
“OK deh, hahaha…”
Sekian kalinya aku telah lupa lagi apa itu dzolim, dan apa itu dosa. Yg penting aku bisa bergaya layaknya mahasiswa dan selebriti di TV.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s