sebuah surat yang tak pernah sampai

Gelisah. Hanya itu yang kucerna dengan otakku. Tiba-tiba aku teringat saat-saat itu bersamamu. Bercerita tentang cerahnya kupu-kupu biru yang bercumbu dibawah langit kelabu, menanggung rindu.

Ingin kukatakan padamu, bahwa aku baik-baik saja. Baik-baik saja. Aku tetap tersenyum seperti pintamu dulu sahabat. Walau kadang tak kuasa ku menyangga langit yang seolah ambruk menimpa kepalaku, atau menjerit ditusuk besi-besi karatan yang menyakitkan.

Aku tetap berdiri disini seperti pesanmu dulu sahabat. Aku tetap berdiri tegak diatas prinsipku. Aku tak akan rela hanyut terbawa derasnya arus. Aku tetap disini.

Tahukah kau apa yang terjadi di negeri ini sekarang sahabat? Aku tak lagi dapat bercerita tentang banyaknya bangau di sawah setiap pagi dan senja. Aku lupa bagaimana rasanya minum air sungai yang sangat jernih. Tak terlihat lagi gelapnya hutan di Pegunungan Kapur yang sering kupamerkan. Tak ada, semuanya tak ada lagi sahabat. Bahkan kini telah bertahun-tahun pula aku tak menapakkan kakiku di pematang.

Aku rindu menceritakan semuanya kepadamu. Tak kutemui lagi anak-anak seumuran kita dulu bermain tanah liat, petak umpet, halma, dan yang lain. Semua berganti. Sekarang ada yang jauh lebih canggih dari nintendo. Mario Bross juga sudah ke planet lain. Ah, andai kau masih disini sahabat.

Kini aku sudah menjadi mahasiswa sahabat, mahasiswa. Seperti kakakmu dulu, yang hilang entah kemana. Yang katamu dulu diculik oleh sang presiden. Kakakmu yang tampan di foto itu.

Ssstttt… Presiden yang menculik kakakmu telah mati. Telah lama mati. Sekarang presiden sudah berganti. Tapi krisis masih terjadi. Krisis yang katamu dulu membuat ayahmu di-PHK dan keluargamu porak-poranda. Krisis saat ini jauh lebih hebat sahabat. Orang menyebutnya krisis multidimensi.

Airmataku telah beku. Aku akan terus tersenyum untukmu, untuk semua sahabat di dunia ini. sekali lagi kukatakan, aku disini baik-baik saja. Tenanglah disana sahabat.

Aku rindu menulis surat untukmu, seperti sebelas tahun yang lalu. Tapi entah kemana akan kukirim surat ini. Kukira Pak Pos pun tak kan dapat menemukan alamatmu. Aku ingin malaikat mengirimkan suratku ini untukmu di surga.

2 thoughts on “sebuah surat yang tak pernah sampai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s