OBAMA gitchu loh. .

Hiruk pikuk keceriaan anak-anak selalu mampu mengubah suasana hatiku ke arah positif. Melihat wajah lugu mereka, tawa canda tulus persahabatan penuh makna tanpa polutan materialisme, walau kutahu mereka semua berasal dari keluarga kelas atas. Jauh dari diriku di masa kecil yang biasa-biasa saja.
Seperti ritualku tiap pagi sebelum masuk ke ruang guru, aku duduk-duduk sejenak di salah satu sudut sekolah ini, sambil membiarkan mata, telinga, dan hatiku melayang meresapi kepolosan para anak didikku.
“Punten Bu Tari, ada titipan dari Ibu Kepala Sekolah,”
“haturnuhun, Kang,”
Kubaca selembar kertas memo yang diberikan oleh Kang Asep, penjaga sekolah yang telah belasan tahun bekerja di sekolah ini sebelum aku disini.
‘mohon ke ruangan saya pada jam istirahat, penting.’
Hmmm… ada apa gerangan? Ah, masih tiga jam lagi. Lebih baik aku bersiap menuju kelas 3B.
***
“assalammualaikum,”
“waalaikumsalam, silakan duduk, Bu,”
“terimakasih. Ada keperluan apa kiranya Ibu memanggil saya?”
“begini Bu, bulan depan Obama akan berkunjung ke Indonesia, menurut keterangan pemerintah, beliau akan berkunjung ke sekolah kita ini. menurut saya, Bu Tari adalah guru yang sangat kreatif dan memiliki dedikasi tinggi pada sekolah ini. ada usul untuk menyambut kedatangan beliau?”
“maksud Ibu, seremonial seperti biasanya saja kan?”
“oh, tentu bukan. Ini Obama, Bu. Presiden negara adikuasa yang kebetulan pernah bersekolah di sini. Ini peluang untuk kita mengangkat nama baik sekolah ini. juga untuk memacu keinginan belajar para siswa agar dapat menjadi orang besar juga.”
“oooo…”
“kalau bayangan saya, saya ingin dalam sebulan kedepan, anak-anak intensif berlatih segala extrakurikuler yang bisa ditunjukkan dalam ceremony penyambutan nanti. Tari Jawa-Bali, drum band, dan paduan suara misalnya. Bagaimana menurut Ibu?”
“apa itu tidak mengganggu proses belajar mereka?”
“oo.. tentu tidak, kita kan hanya mengambil beberapa siswa saja, ambil saja mereka yang berprestasi, nanti pasti mereka mampu mengejar ketertinggalan mereka,”
“lalu untuk apa saya diundang kemari, Bu?”
“ya sesuai permintaan saya tadi, bagaimana kalau anda membimbing anak-anak untuk mempersiapkan segalanya?”
“mmm… begini Bu, menurut saya, bukankah sebaiknya kita menyambut dengan tidak berlebihan?”
“oo… tidak, ini tidak berlebihan. Bahkan saya berencana mengusulkan untuk memindahkan patung Obama kecil di Taman Menteng itu ke halaman sekolah ini. itu biasa saja menurut saya untuk menyambut seorang presiden negara adidaya di bumi ini. bagaimana Bu? Anda sanggup membimbing anak-anak?”
“ya, InsyaAllah,”
***
‘pemindahan patung Obama dari Taman Menteng ke halaman SDN 01 Menteng menghabiskan dana 30 juta rupiah’
Tiga koran di depanku meuliskan kalimat senada yang membuatku berpikir. Realistiskah? Ah, aku hanya guru biasa disini, yang penting aku menjalankan aktivitasku dengan baik disini. Aku tidak mau terlibat cekcok dengan para petinggi yang selalu menunjukkan superioritasnya. Aku tidak mau dimutasi dari sini.
***
“Bu Tari!” segerombolan anak-anak menghampiriku dengan wajah ceria.
“Hai Sayang!”
“Bu, kenapa sih sekolah kita jadi ramai begini?” kata Tiara, si anak polisi.
“iya tu bu, berisik deh,” Rino, -si cucu menteri- menambahi.
“kata orang-orang Obama mau datang kesini ya Bu?” Angga-anak artis ibukota- tak mau kalah.
“kalian ini pagi-pagi udah main kroyokan. Satu-satu dong tanyanya. Jadi bener Obama mau ke sekolah kita, makanya kita bersiap menyambut tamu kita,”
“ah, tapi ga lebay tu Bu? Masak ada patung Obama di halaman sekolah kita? obama kan Cuma pernah sekolah disini. Berarti boleh donk ada patung saya disitu juga?” kali ini Sheila si anak Diplomat ga mau kalah.
“ya ga boleh lah! Kamu kan bukan presiden!”
“eh, tapi kenapa ga naruh patung Soekarno, Hatta, Pangeran Diponegoro, Soetomo, Cut Nyak Dien, atau pahlawan-pahlawan kita? kenapa sih Obama gitu?”
“kan pahlawan-pahlawan kita ga pernah sekolah disini!”
“tapi kan Obama ga pernah juara olimpiade kayak aku pas sekolah disini. Mendingan aku donk!”
“berarti kalau gitu, aku juga boleh naruh patungku disitu! Aku kan sekolah disini, mengharumkan nama sekolah ini,”
“kemarin ada demo menolak kedatangan Obama lho! Apa kita ikut mereka aja ya?”
“eh, gimana kalo kita komporin temen-temen yang lain yang lagi dilatih nyambut Obama biar mereka ga mau latihan? Boikot gitu lah!”
“wah, seru tuh! Ntar kita bakal jadi kayak kakak-kakak mahasiswa itu!”
“tapi ntar kalo kita-kita ditangkap ayahmu gimana? Kan di TV mahasiswa yang demo sering ditangkep polisi!”
“tenang aja, ayahku baik kok, kemaren juga udah diskusi sama aku tentang rencana kedatangan Obama. Ayah sih ga setuju sama penyambutan kita yang lebay ini. sampai kita ga konsen belajar gara-gara tiap hari wartawan bersliweran.”
Bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla bla
Mereka masih berdebat dengan tingkah konyolnya. Dalam hati aku membenarkan pendapat mereka. Hanya Obama gitu loh. Siapa dia buat kita? Apa ada sumbangsihnya untuk sekolah apalagi negeri ini? siapa Obama gitu loh? Tapi aku hanya seorang pengecut yang tunduk pada para atasan. Aku hanya seorang pengecut yang tak berani berpendapat seperti para siswaku yang sering kuajari berani berpendapat. Aku hanya seorang pengecut yang hanya berani untuk diam.

2 thoughts on “OBAMA gitchu loh. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s