Dulu Aku Pencontek Ulung Lho…

Nah, dari judulnya udah ketebak kan?
Aku ini pencontek ulung.
Semua orang tahu Amy itu sebenarnya busuk. Ya, Amy hanya seonggok daging yang nantinya akan membusuk. (kalian yang bilang aku busuk juga iya lho… wkwkwkwk… piss meeeennnn…)
Nah, yuk mari dibaca! Cekidot!

Dulu pada suatu masa di masa laluku yang sangat indah, aku pernah mengalami fase dimana aku bosan belajar dan menjadi pencontek ulung. Mulai dari ngebet, nglirik, melotot, taktik ga dilihat pengawas, sampai ngapalin halaman buku dimana materi itu dibahas (nah lo, sama aja belajar kan???),dll, semua pernah aku lakukan. Jadi aku udah hafal semua itu. Tapi aku berbaik hati lho, jadi hasil contekanku itu aku kirim via sms atau kertas ke teman-temanku yang lain. Hehe…

Sejak awal aku mulai “belajar” nyontek pas kelas 3 SMP menjelang ujian. Dan ternyata nyontek itu bagaikan narkoba atau rokok, yang membuat aku ketagihan, bahkan sakau. Gimana bisa sakau? Jadi yang kusebut sakau itu, pada saat dimana sebenernya aku bisa mengerjakan soal-soal itu, tapi aku tetep pengen nyontek, paling tidak mencari teman senasib yang jawabannya sama denganku. Itu berlangsung sampai masa-masa terindahku di SMA berakhir. Aku ga kebayang, dalam kurun waktu 3 tahun itu, entah berapa banyak aku menumpuk dosa, ulangan blok, UTS, UAS, hingga UN.

Selama 3 tahun itu juga, aku tahu itu dosa, bohong itu dosa, korupsi itu dosa, ga jujur itu dosa, tapi aku telah membuat MOU dengan Blisi, temanku, untuk setia kepadanya (na’udzubillah). Aku sering berdiskusi dengannya. Aku bilang semua itu dosa, tapi dia bilang tidak dengan dalih membahagiakan orang tua. Aku bilang semua itu dosa, tapi dia bilang tidak dengan alasan kesetiakawanan. Aku tidak menyalahkan Blisi sepenuhnya, itu semua karena aku tidak teguh memegang prinsip.
Hidayah tidak datang jika kita tidak meminta, dan tidak untuk sembarang orang. Karena hidayah itu tidak akan menembus hati yang telah mati.

Sekian puluh, bahkan ratusan kali bapak memberi nasehat seperti ini,

“kamu itu diberi otak yang luar biasa sama Allah, kalau kamu ga memanfaatkannya, itu berarti kamu ga bersyukur sama Allah.”

Hanya kalimat itu, yang berulang-ulang hingga sekarang pun masih sering dilontarkan beliau kepada semua anak-anaknya. Tapi entah yang keberapa kali, aku baru meraih hidayah itu. Berawal dari munajatku kepada Allah saat itu untuk menjadi lebih baik dan lebih dewasa setelah lulus SMA. Benar kata orang bijak, revolusi berawal dari sebuah kerusakan/kegagalan. Disetiap sujud hidayah kujemput (kayak judul sinetron ya? Hahaha… ).

Maka mulai detik itu aku berjanji aku akan menggunakan otakku lebih optimal.

Kita semua lahir dalam keadaan suci, tak ada dosa warisan, kita lahir bagai selembar kertas putih, kemudian orang tua dan lingkunganlah yang memberi warna pada diri kita. keahlianku mencontek di masa lalu itu kuanggap sebagai satu titik noda hitam yang memang tak akan pernah hilang dalam diriku, tapi jika kalian melihat setitik noda itu, maka jangan memfokuskan pandangan kesitu, lihat betapa lebih banyak bagian bersih diluar titik itu. (ceileee…)
Biarlah itu berlalu, menjadi pelajaran berharga sepanjang hayat. Dan menjadi urusanku dengan Tuhanku.

“Dengan air hujan itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran ALLAH bagi orang yang BERPIKIR” (An Nahl : 11)

Meski sekarang aku bukan mahasiswa dengan IP 4, atau yang selalu mendapat A di setiap ujian, bahkan semester kemarin aku diuji dengan huruf C yang bertebaran dimana-mana, tapi aku yakin janji Allah, aku hanya ingin mencintai Allah dengan segenap kemampuanku, mencintai dengan sederhana.
Kata bapak,
“kamu tidak perlu menjadi juara 1 atau menjadi yang terbaik, cukup kamu bisa. Yang penting itu ilmu, bukan nilai.”

Aku tidak ingin masuk dalam golongan orang munafik yang mengaku mencintai Allah namun senantiasa melanggar perintahnya. Hanya Al Qur’an yang menjadi peganganku hingga aku memiliki keberanian meninggalkan candu yang sangat berbahaya itu. Aku yakin dengan janji Allah,

“… Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu…” (al Mujadilah : 11)

Pasti diantara teman-temanku banyak yang mengira aku sombong, karena aku hanya “mau” duduk di ruang ujian tidak lebih dari satu jam, bahkan kebanyakan hanya 30 menit. Kenapa? Itu salah satu strategiku untuk menghindari sakau. Apalagi Blisi masih setia nemenin aku dimanapun. Seringkali aku ga tahan sama rayuan mautnya. Makanya aku cepet-cepet keluar, ga peduli apapun, yang penting itulah usaha maksimalku.

Bahkan mungkin ada yang sakit hati karena aku ga mau bertahan duduk sebentar untuk sharing jawaban. Aku minta maaf, sebenarnya aku sama dengan semuanya. Saat yang lain merasa sulit menjawab soal itu, aku juga merasakan hal yang sama. Tapi cukup Allah menjadi penolong bagiku.

Wallahualam.

Bonus : Buat yang pernah nyontek seperti saya, apalagi habis musim ujian, segeralah selesaikan urusanmu dengan Tuhanmu!

Buat yang masih ada niat nyontek pada ujian semester depan, cepetan hapus niat itu! Siapa tau habis baca ini kamu dijemput Izrail, jangan sampai mati dengan menyisakan niat buruk di hati!

8 thoughts on “Dulu Aku Pencontek Ulung Lho…

    • Ya mungkin..

      Tapi setidaknya saya lebih bersyukur,masih ada waktu untuk bertaubat😀 :hope Ya mungkin..

      Tapi setidaknya saya lebih bersyukur,masih ada waktu untuk bertaubat😀

  1. Huaaa. . . I like this
    walaupun bkn sbagai pnyontek (kan gw blajar) :p
    tapi pas lihat teman seperjuangan glisah, ampe keringet brcucuran, miris skali rasanya untuk tetap membiarkannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s