Ini Warnaku!

Hmmm…
Maaf sebelumnya kepada pihak-pihak yang mungkin disebutkan disini, maaf jika tidak berkenan, tapi ini bukanlah suatu kemutlakan, hanya dari sudut pandang saya sebagai pelaku utama. Qeqeqe… (gaya ketawa terbaru)

Ini adalah tulisan saya yang kesekian,dimana judul dan isi tidak berkesesuaian. :p

Gini nih, sebenernya udah lama saya mendapat gugatan dari berbagai pihak, baik itu dari jaksa penuntut umum maupun dari pihak-pihak lain, berikut adalah bagian dari pledoi saya. (halah)

Akhwat tu apa sih? Buat jemur baju anak-anak kos itu ya? Atau yang berduri dipake polisi buat ngehalangi para demonstran? Atau yang suka muncul di wajah dengan tidak sopan? (hambuh, garing ah…)

Aku tanya aja deh sama kalian yang baca ini, menurut kalian akhwat itu gimana sih?

Secara umum, kebanyakan orang menilai secara sepihak dan egois, bahwa setiap akhwat itu kudu kalem, alus, kalo jalan orang ga denger, kalo ngomong orang ga denger juga (:0) deelel, pokoknya mirip-mirip makhluk alus lah (hahaha… pisss!!!)

Dan akhwat-akhwat model mirip-mirip saya sebagai pelaku utama, yang geje, SUHERI (Suka Heboh sendiRI), kemana senyum cerah ceria (ga ikut dah kalo ini.wkwkwkwk) , suara cempreng bahkan tenor, bariton, bahkan bass, kalo jalan satu langkahnya @1 meter, udah gitu cepet banget kayak lagi lomba gerak jalan pas agustusan, udah gitu kalo ngobrol suka ceplas ceplos ga kira-kira, tapi kalo outbond pasti menang. Wkwkwkwk…

Nah, kalau menurut saya sebagai pelaku utama, itu semua ga ada yang salah kok. toh semua orang punya karakteristik masing-masing. (terserah lu pada bilang ini pembenaran pribadi, namanya juga pledoi :p)

Karakter itu bisa terbentuk atas berbagai macam faktor, salah satunya budaya di lingkungan yang bersangkutan itu tumbuh dan berkembang (contoh kalimat tidak efektif).

Contoh kasus nih, akhwat Solo atau Jogja, jelas beda sama akhwat Batak atau Jakarta. Budaya udah beda, ga bisa digeneralisir. Ga usah jauh-jauh dah, contohnya akhwat Pleburan dan akhwat Tembalang, sama-sama UNDIP aja udah beda jauh. Yah, walaupun kita-kita akhwat Pleburan (yang ngerasa aja nih) sering dibilang GA BERADAB, tapi inilah kita, saling menghargai to??
Tapi sekali lagi saya tegaskan, hal ini tidak dapat digeneralisir. Tergantung pada individu masing-masing. Ga menutup kemungkinan juga akhwat Makassar atau Pleburan ada yang kalem, dan sebaliknya.

Ah, aku sih sempet minder juga, tapi mu gimana lagi. Pernah saya mencoba memperhalus suara saya, eh malaah dikatain mirip suara banci baru insyaf (kebayang ga suara banci baru insyaf kayak apa?:p). Ya akhirnya saya cuek dengan menjadi diri sendiri, sehancur apapun saya.

Saya hanya mendoakan kalian semua (yang secara langsung maupun tidak langsung bersinggungan dengan saya) diberi kesabaran dalam menghadapi saya. Mhehehehehe…

Nyang penting kita semua friend ever and forever. (:s)

Menghargai kesempurnaan yang diberikan Tuhan dalam bentuk perbedaan.

Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka, ku apa adanya
Dan wajahku memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Kuakui ku bukanlah mereka ku apa adanya
Menjadi diriku dengan segala kekurangan
Menjadi diriku atas kelebihanku
Terimalah aku seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
ku pun tak sempurna
tetap ku bangga
Atas apa yang kupunya
Setiap waktu kunikmati
Anugrah hidup yang ku miliki
(Edcoustic-Menjadi Diriku)

One thought on “Ini Warnaku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s