Coretan Seorang Anak

aku mencintai Bapak, sama besarnya dengan cintaku pada Ibu. Meski memang cara mengungkapkan cinta kepada keduanya kini terkesan berbeda.

Malam ini, aku membuka album-album foto besar yang sudah usang, berisi foto-fotoku sejak baru lahir, balita, hingga usia SD. Semua itu hasil karya Bapak, yang kucinta.

Semua foto itu seolah berbicara cinta, betapa besar cinta bapak, betapa bangganya beliau atas kehadiranku di dunia ini. pancaran mata dan mimik wajah di setiap poseku, berbicara bahwa aku sangat bahagia memiliki Bapak.

Setiap pagi aku dibangunkan, diajarkan berucap hamdalah dan doa bangun tidur, dicium, trus dipijiti, habis itu kita bertiga digendong sekali jalan ke belakang (ga kebayang kan gendong 3 balita sekaligus? Bapakku bisa lho..), dimandiin, deelel dengan sabarnya. Meski kadang kami bertiga nangis bareng jejeritan, tapi Bapak masih sangat sabar menjalankan ‘ritual’ ini hingga kami semua beranjak dewasa.

Sebelum berangkat bekerja dan meninggalkan aku di tangan bude, beliau sempatkan membuat sekedar mainan kecil dari bahan2 sederhana, atau memberi mainan yang bisa menemaniku seharian.

Setiap sore aku wajib ke TPQ, meski aku bandel dan seringkali harus dipaksa untuk itu, tapi kusadari sekarang, itu bukti cintanya. Yang kurasakan manfaatnya saat ini.
Sebelum aku punya adik, Bapak selalu membawaku kemanapun beliau pergi. Kemanapun aku pergi, juga Bapak yang nganter.

Setiap malam Bapak juga selalu menyempatkan waktu untuk menemaniku belajar, selain Ibu. The Great Father.

Yang ngajarin aku naik sepeda, disemangati belajar pakai sepatu roda meski beliau sendiri tidak bisa. Dicemplungin ke kolam renang, meski sekarang masih belum bisa nyelam seperti beliau, ah banyak sekali.

Setiap menjelang tidur beliau mendongeng, cerita tentang nabi, surga, neraka, kehidupan, juga cerita-cerita pop seperti Cinderela, Abu Nawas, Snow white, dan masih banyak lagi.

Beliau yang selalu menyuntikkan semangat, membuatku percaya diri, dan begitu percayanya beliau bahwa aku adalah anak hebat.

Satu celoteh beliau yang selalu kuingat,
“Anak-anak Bapak harus lebih segalanya daripada Bapak. Kapasitas otak kalian jelas lebih besar daripada otak Bapak. Bapak sering merasa bersalah, karena belum dapat mencukupi segala kebutuhan kalian, tapi percayalah, Bapak akan sekuat tenaga dan sebijak mungkin berusaha.”

Aku memang tidak begitu ekspresif mengungkapkan cintaku kepadanya.Beda hal dengan kepada Ibu, yang setiap kali bertemu, sepanjang waktu, kuciumi beliau. aku jarang melakukannya kepada bapak, meski masih terhitung sering dibandingkan teman-temanku yang mungkin hanya setahun sekali saat lebaran dicium Bapaknya. Aku merasa sangat beruntung.

Meski sampai detik ini aku masih sering melakukan kesalahan dan mungkin tidak sehebat seperti yang diharapkan beliau, tapi tak pernah terucap kalimat kecewa dari mulutnya.

Ah, masih terlalu banyak yg dilakukan Bapak untukku. Ini bukan dongeng, bukan script sinetron, ini true story.

Terimakasih Bapak..

Pojokkamar, 26 Agustus 2010, 22.17WIB

2 thoughts on “Coretan Seorang Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s