Saat Saya Tidak Pernah Siap

WARNING!!!

Membaca tulisan berikut menyebabkan kulit wajah anda yang mulus (seperti pant** bayi) seketika menjadi keriput karena kebanyakan mengerutkan dahi akibat didera kebingungan tiada tara yang akan mendera otak anda, karena seperti biasa saya selalu tidak dapat menemukan korelasi di antara paragraf-paragrafnya.

Segera tutup halaman ini kalau anda tidak mau terserang penyakit mual-mual layaknya penderita indigo (emang orang indigo mual-mual ya? :p), ataupun menceracau tak jelas seperti orang gila (yang hobi nyolek saya di perempatan Puri :s)

Kecuali jika anda termasuk dalam daftar panjang fans fanatik saya, maka bacalah tulisan ini dengan menyebut nama Allah terlebih dahulu. ?

Seharusnya awal tahun depan saya menikah (curcol :p), tapi ternyata Allah berkehendak lain, manusia hanya berencana, tapi hasilnya adalah hak prerogatif Allah. Hhhh… nyesek ya… tapi saya yakin ada sesuatu yang indah dibalik setiap skenario-Nya. Kalo kata siapa gitu saya lupa, “akan ada pelangi setelah datangnya hujan”. Dan janji Allah Tuhanku, “akan ada kemudahan setelah kesulitan”.

Flashback ke beberapa saat sebelum rencana besar itu dimulai. Jauh sebelumnya saya sudah rajin mewacanakan kepada ibu, bahwa saya ingin menikah muda. Waktu itu ibu hanya menanggapi sambil lalu. Tapi saya rasa keadaan ini tak bisa dibiarkan! (heleh :s) Saya ingin segera membuktikan bahwa apa yang saya ucapkan itu serius, bukan hanya gurauan anak gadis satu-satunya yang (dianggap) belum dewasa untuk urusan yang satu ini.

Beberapa waktu sebelumnya melalui perantara ******, saya mengenal seseorang, yang saya dan teman-teman menganggap baik agamanya, lebih baik dari saya yang acakadut ini. mula-mula hanya teman, tapi kemudian dia mengajukan diri untuk melamar saya (gubrak!!), yang dinyatakan pada setiap obrolan yang terkesan malu-malu(in) dan dengan bahasa yang ambigu saking halusnya. Dia memang tipe introvert, berbanding terbalik dengan saya. Saya memang cukup lama memberi jeda, antara memantapkan hati, berdiskusi dengan-Nya dan mencari waktu yang tepat untuk meminta pertimbangan orangtua, dan tetap biasa saja didepannya. Saya pura-pura bloon dan sok lugu dengan tetap mengacuhkan penawarannya (emang dagangan ditawar :s)

(sebodo dah kalo doi baca, maap ya Bang… :p)

Yang ingin saya bahas sebenernya bukan bagaimana proses saya dari awal hingga akhirnya gagal. :p
Tapi melenceng jauh dari itu, saya menemukan beberapa pencerahan setelah renungan panjang.
Di saat saya serius melontarkan kalimat “saya ingin menikah”, ada kalimat tandingan dari orangtua dan handai taulan,
“emang kamu udah siap?”

Hhh… memang semua harus dipersiapkan, tapi ‘siap’ itu relatif. Tak semudah membalik telapak tangan. Kriteria siap buat ortuku bisa jadi beda dengan aku.
Jadi inget kata-kata sahabatku tercinta yang tiada lelah memotivasi aku dalam segala hal, kurang lebih gini,
“sampai kapanpun, kita yang namanya manusia itu ga akan merasa siap, kadang keadaanlah yang mempersiapkan kita. otak kita akan bekerja optimal jika kita berpikir keras dalam keadaan sempit. Itulah yang dapat menyiapkan diri kita. setiap keputusan yang kita ambil ada resikonya. Ambillah resiko itu untuk merasakan sedihnya gagal kemudian bahagianya sukses, atau kamu akan tetap pada kegagalan yang kamu pelihara sendiri.”

Sekarang saya ingin beranalogi. Inget kan saat kita mau SNMPTN, UM, atau apalah namanya, jujur saya ga pernah siap, selalu saja ada soal yang sangat sulit yang sukses membuat rambut yang tadinya kriwel jadi lurus (lebay mode on) dan tetap tidak sanggup saya kerjakan. Persiapan menuju detik-detik itu sematang apapun pasti tetap ada yang kurang.

Saat saya siap ga siap harus menjalani ulangan fisika mendadak, tanpa persiapan TETAP HARUS SAYA JALANI (yaiyalah), dan berhasil mendapat nilai 10. Itu bukan nilai sempurna, itu nilai terkecil dari nilai maksimal seharusnya 100. Dan saat itu kita sekelas (paling tidak saya and the genk) merasa tetap baik-baik saja tanpa rasa sedih, malu, apalagi berdosa. Kita jalani semua tetep dengan tawa, karena buanyak temennya mendapatkan nilai sama :p

Saya juga ingat saat saya terpaksa kos di usia saya yang masih sangat muda, saat saya masih belum bisa lepas dari orangtua bahkan mencuci baju pun perlu khadimat. Tapi saya berhasil menunjukkan fungsi otak dan fisik saya untuk segera beradaptasi dengan lingkungan dan melakukan proses belajar (mata kuliah psikologi). Keadaanlah yang mempersiapkan saya menjadi seorang seperti saat ini (setidaknya saya bisa survive dengan lepas dari ortu, bisa ngurus luka sendiri, bisa nyuci, bisa nyeterika, bisa beres-beres,dll).

Ini adalah bukti berfungsinya memori jangka panjang saya, dimana memori ini memungkinkan manusia untuk terus belajar dan mempertahankan hidup.

Semua memang ada resikonya. Hanya ada dua kemungkinan, gagal atau sukses. Kata Mario Teguh, saat kita gagal, itu adalah kesempatan agar kita belajar untuk mengubah kegagalan itu menjadi sebuah kesuksesan, karena gagal adalah bagian dari jalan menuju sukses.

Ah, jadi mbulet.

Intinya, persiapan itu memang perlu, tapi tidak perlu menunggu hingga kita benar-benar merasa siap. Karena pada dasarnya manusia itu selalu merasa kurang.

Setelah tulisan ini (saya anggap) selesai, saya baca lagi dari atas, kok kayaknya ni tulisan ngaco banget ya???????
Tapi ya sebodo lah, yang penting rangkumannya udah ada itu. Sekedar motivasi untuk diri sendiri saja lah. Soalnya saya masih sering ragu buat sukses (baca:memutuskan sesuatu).
Setidaknya juga di rangkaian tulisan tak berkorelasi ini ada beberapa kalimat yang cukup indah untuk dipasang di status. Wkwkkwkkwkk

Ah udah ah daripada makin ngaco :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s