Tolooonggg!! Selamatkan Saya dari Romantisme Kolonial!!

Maksudnya apa?

Siapa yang suka pelajaran sejarah? Terutama romantisme sejarah jaman kolonial.

Jaman kolonial dulu, orang sangat mengedepankan prestige. Orang Belanda dianggap lebih tinggi derajatnya dibanding orang pribumi.

Khususnya di Jawa, dikenal istilah Priyayi dan Wong Cilik. Yang masuk dalam kategori priyayi adalah orang-orang keraton, pegawai negeri, dll, pokoknya yang punya jabatan dalam strata sosial menengah ke atas. Status ini pun dapat disandang jika tidak memiliki jabatan di pemerintahan, namun secara materi tampak. Misalnya punya sepeda, rumah gedong, dll. Sedangkan kategori wong cilik ya sebaliknya. Begitu pula di daerah-daerah lain di Indonesia.

Dan tahukah anda???? Prinsip jaman kolonial ini masih berlaku di era reformasi saat ini. semua bicara tentang gengsi, kalau tidak mau disebut matre. Gaya hidup seseorang menentukan prestige orang tersebut di mata masyarakat.

Saya masih ingat betul, kasus di desa tempat saya tinggal, dimana seorang anak usia SMP menuntut dibelikan motor oleh orang tuanya, dengan ancaman tidak mau sekolah jika tidak dibelikan. Padahal orang tuanya hanya seorang pedagang kecil.

Realistis ga sih? Anak bau kencur usia SMP, yang letak sekolahnya kurang dari 1 km dari rumah, menuntut seperti itu.

Seusia itu, jangankan berpikir memiliki motor, pengen aja ga. (ini karena aku yang jadul atau gimana sih?)

Kasus lain lagi, tetangga-tetangga saya yang secara ekonomi hidup pas-pasan, berusaha sekuat tenaga membangun megah rumah mereka, meningkatkan derajat katanya, nah, giliran ga dapet BLT karena memang secara fisik bangunan rumah mereka melambangkan mereka orang berada, eh ngamuk-ngamuk dah. Mendadak jadi ga malu koar-koar kemana-mana mengaku fakir miskin.

Lihat juga itu dimana-mana di setiap sudut Indonesia dibangun masjid dengan megahnya, superduper megah, tapi jamaahnya kurang dari 1 shaf. Belum lagi adzannya Cuma pas maghrib&Isya?. Orang-orang lebih menganggap masjid itu sebagai tempat wisata daripada tempat ibadah.

Lain lagi dengan yang satu ini. ga Cuma orang yang ga berpendidikan yang masih terlena dengan romantisme jaman kolonial. Ternyata yang ngaku orang berpendidikan tinggi pun ga jauh beda. Lihat itu saudara-saudara dewan yang terhormat. Ah, tak usah saya sebutkan, saya rasa anda semua sudah tahu apa yang saya maksud :p

Yaudah, ga usah jauh-jauh sampai anggota dewan. Mari berkaca pada diri sendiri (cepet ambil cermin!! Jangan pake sendok ya! :p)

Kita secara ga sadar juga menerapkan hal yang menurut saya sangat tabu dilakukan oleh orang-orang berpendidikan.

Selain kita ga berhak, karena kita belum lahir jaman kolonial dulu, kita juga seharusnya lebih bisa berpikir realistis lah.

Lihat hal sepele aja. Tentang HP, laptop, dan semua gadget canggih di tangan kita, hingga motor, mobil, juga tempat makan dan tempat tongkrongan kita. semua seolah menjadi satu-satunya hal yang dapat menempatkan kita pada kedudukan tertinggi dalam strata kehidupan.

Dalam dunia usaha, tentu hal ini sangat menguntungkan, karena Indonesia yang konon memiliki hutang dengan jumlah fantastis itu, ternyata merupakan pasar paling potensial. Lihat saja setiap ada launching produk baru, membludaklah peminatnya, dibelain antri puanjaaaaanggg berjam-jam.

Fungsi bukan lagi menjadi alasan utama, tapi lebih pada prestige.

Banyak orang bangga dan merasa kepercayaan dirinya meningkat drastis setelah kemana-mana menenteng BB, dengan headset menyumpal kuping, dengan gaya harajuku yang ga tanggung-tanggung (kemeja garis-garis warna merah muda dipadu celana kotak-kotak warna ijo lumut) atau apa lagi lah, sejenak dia lupa bahwa uang saku jatah sebulan amblas tak berbekas, eh ditambah tagihan bulanan membengkak, alamaaaakkk..

Atau seperti iklan motor di TV, katanya semua cewek bakal ngikut kalau si cowok pakai motor terbaru yang ada di iklan itu. Banggalah dia kesana-kemari ga jelas pake motor itu, sejenak lupa bahwa itu motor kreditan. :p

Ya ampun, kok rasa-rasanya saya makin kejam dalam berkata-kata ya?? :p

Tolooooonggg!!!!! Sadarkan saya!!!!

Ups salah!

Tolongggg!!!! Sadarkan kami semua!!!!! Biar kami ga matre lagi!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s