Di Jalan Raya pun Ada Unggah Ungguhnya

WARNING! Jangan terlalu serius membaca tulisan ini!

Tulisan ini semata-mata hanya curahan hati saya yang saat ini berperan sebagai “korban kekerasan” di jalan raya.

Tulisan ini juga tidak bermaksud SARA, meski di dalamnya nanti mungkin saya akan menyebut beberapa suku atau kelompok dengan terang-terangan seterang mentari yang menyinari bumi (heleh)

Bermula dari kejadian yang tidak mengenakkan hati pagi ini. kronologi kejadiannya adalah sebagai berikut :
Saat saya di jalan Pahlawan, mengendarai motor dengan santai kayak di pantai (emang santai di pantai pake motor?:o), tiba-tiba disalip dari kanan oleh motor dengan nopol Hxxxxxx, yang mengidentifikasikan bahwa sang pemilik motor adalah orang Semarang. saat itu, beberapa meter di depan ada gang ke arah Kusumawardhani, ternyata eh ternyata itu motor belok dengan semena-mena ke arah Kusumawardhani, ya kaget binti shock donk sayanya. Refleks saya pencet klakson yang jarang sekali saya sentuh itu. Untung kaki dan tangan saya masih bersinergi untuk saling bekerjasama menghindari terjadinya kecelakaan.

Secara logis, harusnya saya kan yang ngomel sama itu orang? Tapi ga, dengan kondisi saya yang masih kesel acakadut, tu orang ternyata ngomel ngalur ngidul dengan mimik muka sangat menyeramkan (lebih serem dari wajah Rahwana), mulutnya monyong-monyong 5 senti plus mukanya warna biru, intinya dia menyalahkan saya. dengan alasan saya mengagetkan dia karena mencet klakson panjang. Aturan saya yang marah, karena situ yang mengagetkan saya sehingga menyebabkan saya refleks mencet klakson. T.T

Menyakitkan dah pokoknya. Meski saya udah biasa dikasari dan mengasari, tapi kalo dalam kondisi ga salah gini saya merasa ga terima juga. tapi apa hendak dikata, lidah saya kelu, saya Cuma bilang “maaf”. :s

Lepas dari kasus menyakitkan itu, sebenarnya saya memang sudah tahu unggah-ungguh yang tak boleh ditinggal dalam kehidupan di Jawa, termasuk di jalan raya. Dulu, saya diajarkan harus tersenyum pada setiap orang yang saya lewati kalo saya jalan kaki. Kalo naik sepeda, seandainya ada orang lagi “jagongan” di pinggir jalan, saya mesti turun, menuntun sepeda, sambil membungkuk dan senyum dan bilang “nuwun sewu”. Kalau naik motor, cukup mengurangi kecepatan (melaju sangat pelan), sambil menganggukkan kepala dan senyum bilang “nuwun sewu” juga. begitu juga saat naik mobil (tapi kalo naik pesawat atau kereta ga usah :p). Sampai sekarang, aturan tak tertulis itu masih saya pegang dan saya lakukan.

Oh ya, buat yang bukan orang Jawa, unggah-ungguh dalam masyarakat Jawa berarti tata krama, etika, sopan santun, norma, dan lain sebagainya. Unggah-ungguh ini berdasarkan rasa. Meski hal ini memang sudah terkikis jaman, seiring makin berkembangnya pola pikir masyarakat yang semakin individualis, yang menilai bahwa hal ini hanya basa-basi yang basi dan tidak perlu dilakukan. Tapi saya pribadi merasa hal ini sangat perlu untuk mengimbangi ketimpangan kondisi sosial masyarakat. Dengan adanya unggah-ungguh, semua orang, siapapun dia, akan merasa dihargai sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama.

Kembali lagi dengan unggah-ungguh di jalan raya. Saya pribadi sangat jarang membunyikan klakson kecuali sangat kepepet seperti kasus di atas. Kenapa? Karena menurut saya, bunyi klakson itu bisa mengagetkan dan bisa dianggap tidak sopan oleh sebagian orang seperti kasus di atas juga. Di jalan raya, saya lebih memilih posisi mengalah, dalam kondisi apapun. Jujur saya takut menghadapi kondisi seperti di atas yang sebelumnya belum pernah saya alami.

Apalagi di tengah semrawutnya jalan di kota Semarang ini. Pertama kali bawa motor di Semarang, saya sempat mendapat “warning” dari para sesepuh, bahwa saya harus hati-hati jika bersinggungan dengan pengendara kendaraan nopol H, BH, BA, BK, BG, KT, B, L, W, P, M dll. (hayoooo, siapa aja tu? Wkwkwkwk pissssss!! :p). Karena mereka secara umum berwatak keras. Tapi saya tidak bermaksud mengeneralisir hal ini. saya tidak suka penilaian secara general. Tapi memang tidak mungkin kan kita mengenal watak semua orang di dunia ini satu per satu? Ya terpaksa pakai generalisir itu. Hehehe…

Ya namanya juga di dunia, apapun bisa terjadi.

Kata Bondan, ya sudahlah..

o^__^o

4 thoughts on “Di Jalan Raya pun Ada Unggah Ungguhnya

  1. menurut ane , kayaknya tuh orang marah karena agan wanita dan kesannya sangat lemah,…coba pasang brewok sambil bawa clurit kan dia habis di bell langsung ngabrit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s