Musibah dan Anugrah (di Balik Pemadaman Listrik)

Hari ini kita kuliah aplikasi TI di lab komputer.

Karena minggu kemarin saya memanfaatkan hak (baca:hibernasi), maka saya bingung alias ketinggalan materi yg ga rumit tapi lumayan bikin puyeng itu.

Kebetulan lagi, program yg bersangkutan ke-delete dari ‘silepibiru’.
Ya sudahlah saya nebeng saja. :p

Kita lagi berpusing-pusing ria akibat gabungan dari rendahnya tingkat akurasi mata, kecepatan kinerja otak dan kecepatan kinerja tangan tidak sinkron, maka kita bekerja dg hebohnya. Seru banget dah.
LoL

Ya kalo di film, mungkin itu tadi adegan klimaks lah.

Saat klimaks itu kan biasanya penonton tegang (mulut menganga dan mata melotot), eh tiba2 semua mati dengan semena-mena.

Tau sendiri kan kalo di SD Inpres,ups salah, di kampus tercinta ini, ga ada genset. Jadilah kita berhu-ha-hu-hi. Kayak anak SD gitu. (saya yakin, penonton pun melakukan hal yg sama)

Setelah menanti sekitar 10 menit dalam ruangan tertutup tanpa AC, keringat mengalir dari tempat yg tinggi ke tempat yg rendah, dan dengan usaha teriak2 dari mahasiswa bahwa mereka kepanasan, akhirnya kuliah pun dibubarkan. Padahal harusnya kuliah 2,5jam, terpangkas jadi 1jam saja.

Nah, kalau melihat kasus di atas, maka dapatkah anda menyimpulkan pemadaman listrik itu musibah atau anugrah??

Hehehe. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s