CERITA GADIS PEMBAGI SAJADAH

Sore ini aku bertugas jemput adikku di kos, biasa lah weekend. Sekalian menjalankan amanah, akibat di tempat aku tinggal ga ada mesin ATM, dan entah kenapa internet banking error mulu, serta aku lupa kode sms banking. -.-‘

Setelah semua urusan selesai, adzan maghrib berkumandang. Sempet terlintas buat shalat di Masjid Agung, tapi kuurungkan niatku, ribet soalnya. Aku musyawarah sejenak (beberapa detik) dengan adikku untuk menentukan dimana akan shalat. (efek maniak syuro’, jadi apa2 disyuro’-in.wkwkwk)

Akhirnya kita memutuskan shalat di sebuah masjid kampung kecil di batas kota, di desa Mustokoharjo. Dulu, sejak SMP, masjid kecil ini sering sekali kusinggahi untuk mengejar waktu shalat. Bapak yg pertama kali mengajakku kesana, untuk shalat ashar waktu itu. Letaknya yg di pinggir kota membuatku sering menjatuhkan pilihan untuk shalat disana saat akan pulang ke rumah. Meski dari jalan raya memang tidak terlalu kelihatan.

Ada sebuah romantisme yg selalu membawaku kembali kesana, meski sejenak. Mungkin menurut orang lain biasa-biasa saja, tapi sangat spesial untukku.

Hari ini, aku kembali menjemput romantisme itu.

Sampai disana, shalat sudah dimulai, aku masbuk. Kulihat sekilas, jumlah jamaah tidak sebanyak dulu, dan sepasang mata gadis kecil tertangkap oleh mataku sedang mengawasiku dalam shalatnya. Hehe. . Khas tingkah anak-anak. ^___^

Aku sangat berharap menemukan romantisme yg aku rindukan disana.

Aku shalat. Pada rakaat keduaku, jamaah sudah selesai. Si gadis kecil yg tadi mengawasiku membagi sajadahnya untukku. Ya, moment inilah yg sangat aku rindukan itu.

Gadis kecil itu jelas bukan gadis-gadis kecil yg pada masa lalu melakukan hal yg sama persis untukku. Gadis kecil yg waktu itu tentu sudah dewasa, mungkin mereka juga ada disana tadi, tapi aku tidak mengenali mereka lagi.

Entah siapa yg mengajarkan setiap gadis kecil disana untuk berbagi sajadah kepada siapapun, kepada musafir tak dikenal sepertiku juga. Keramahan mereka sangat terasa. Setidaknya 8 tahun sudah aku melewatinya dengan gadis-gadis kecil yg berbeda.

Seusai shalat, kuucapkan terimakasih padanya, kepada gadis-gadis kecil yg lain juga. Diciuminya tanganku yg kotor penuh polutan dosa ini oleh mereka yg masih suci. Ah, sungguh romantisme yg selalu akan kurindukan.

Aku memang harus terus belajar pada banyak orang, termasuk dari gadis-gadis kecil pembagi sajadah itu. Tentang empati, simpati, keikhlasan, keramahan, menjamu tamu dengan yg terbaik, dan masih banyak lagi.

Semoga semua itu tetap melekat pada diri kalian hingga kapanpun. Sehingga negeri ini dipenuhi generasi baik hati yg selalu saling berbagi.

Jazakummullah khairan katsir. .

o^__^o
:peluk

2 thoughts on “CERITA GADIS PEMBAGI SAJADAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s