BENAR vs BANYAK

…kebenaran akan benar-benar tegak jika ada kebersamaan yang membenarkan kebenaran tersebut… (Ust. Rahmat Abdullah, 2005)

Kurang lebih seperti itulah sepenggal kalimat ustadz Rahmat Abdullah yang saya temukan di buku Pilar-Pilar Asasi yang pernah saya baca. Saya tidak akan membuat resensi buku itu, tapi saya rekomendasikan untuk dibaca.

Kebenaran, sebaik apapun itu, tapi jika tidak diakui sebagai sebuah kebenaran secara massal oleh masyarakat, maka ia tak akan pernah terwujud menjadi suatu kebenaran.

Semua orang tahu menyekutukan Allah adalah perbuatan syirik, mendatangi dukun, peramal, meminta pada orang yang sudah meninggal, dan lain sebagainya. Namun bukan berarti hal itu ditinggalkan begitu saja, justru semakin marak dengan kemasan yang lebih modern, dan tetap diminati. Lalu dimana letak kebenaran?

Semua orang tahu bahwa mengambil yang bukan haknya adalah perbuatan tercela, tapi kenapa banyak pencuri, koruptor, mafia pajak, tukang suap, tukang nyontek, dan tukang-tukang lain?

Semua orang tahu bahwa membantu anak-anak jalanan, berbagi kegembiraan, berbagi makanan, dan semuanya adalah perbuatan baik, tapi kenapa banyak pihak yang seolah-olah tidak terima dan tidak ingin melihat anak-anak itu menikmati hidup walau sesaat dengan berbagai macam dalih?

Kebanyakan orang di negeri ini membenarkan yang banyak, bukan membenarkan yang benar. Seburuk apapun suatu hal, jika banyak orang melakukannya, maka itu dianggap benar.

Taruhlah contoh sederhana, orang menggelontorkan uang puluhan bahkan ratusan juta atau menggunakan jasa joki demi status PNS. Saya yakin, gaji PNS normal baru balik modal setelah puluhan tahun kerja, keuntungan tidak sebanding dengan pengorbanan. Itu berarti butuh berapa puluh tahun lagi untuk memberantas korupsi sampai ke akarnya? Kasarannya sekarang PNS termuda usia 22 tahun, usia pensiun 56 tahun, berarti 34 tahun lagi negara ini baru bisa benar-benar bersih. Itu hanya hitungan kasar, dan ga valid pasti. Karena kalau saya boleh menebar pesimisme disini, saya punya keyakinan bahwa generasi termuda sekarang pun yang masih SD, sudah disetting orang tua dan lingkungannya untuk korupsi.

Tapi saya akan mengimbangi pesimisme saya dengan optimisme, masih ada banyak orang benar yang akan menurunkan generasi-generasi yang menegakkan kebenaran.

Maka kebenaran itu tidak akan benar-benar tegak jika tidak ada kebersamaan yang membenarkan kebenaran tersebut.