Biarlah Anakku Tetap Perawan

Ibu mana yang rela anaknya disakiti, dibuang. Luka yang ditanggung anaknya ikut dirasakannya, pedih. Sedih dan dendam menjadi satu. Satu tekad sejak kejadian itu, aku akan merawat anak perempuanku sendiri, tak akan kubiarkan lelaki dari trah manapun memintanya. Karena mereka hanya akan menggoreskan luka pada anggunnya permata hatiku.

***

Aku tak menyangka belati itu menggores hati Bunda terlalu dalam. Goresan yang telah mampu kuobati sendiri, dengan hatiku. Tapi tidak dengan Bunda, dia sangat tidak terima melihat aku menanggung luka, yang memang masih ada bekasnya. Trah Majapahit yang mengalir di aortanya, menuntut dendam.

Siapa yang tahu akan berakhir demikian? Aku pun sama sekali tak menyangka. Aku yang selalu ditinggikan walau seranting, didahulukan walau selangkah, tiba-tiba dihempaskan oleh trah yang baru akan kudiami.

Sebenarnya trah itu bukan sesuatu yang baru. Aku telah mempelajarinya lewat buku sejak beberapa belas tahun yang lalu. Biarlah kusebut trah, meski sejatinya kata trah itu hanya ada di Jawa. Trah yang sangat agung menurutku,hingga sejak belia, beberapa belas tahun yang lalu, mampu menarik perhatianku. Tak pernah terbersit sedikitpun untuk menikah dengan penduduk setempat, aku hanya ingin sejenak saja menjadi bagian dari masyarakat trah itu, menikmati atmosfer yang sangat berbeda dengan Jawa.

Hingga saat itu datang, kusebut dia Lelaki Awan. Lelaki yang mampu memberi tempat berteduh, mengayomiku. Seorang sahabatku dari trah itu yang diam-diam menyimpan rasa lebih untukku. Seperti biasa, aku biasa saja.

Dia berusaha mendobrak aturan. Namun dinding aturan yang dibangun ratusan tahun lalu oleh Sang nenek moyang tak mampu ia runtuhkan begitu saja, seorang diri. Kepungan aturan mengultimatum dengan tatapan mata, yang seolah berkata,

“kamu bukan bagian dari kami jika menikahi perempuan asing itu”.

Tak pernah ada cerita Sunan Ampel berbesan dengan Hasan Basri, Tuanku Imam Bondjol berbesan dengan Raden Patah, atau Coet Ntjak Dien berbesan dengan Pattimura. Karena masing-masing hidup di jaman yang berbeda.

Sekejap luruh semuanya. Meninggalkan segores luka. Ya, hanya segores sebenarnya, namun mampu mengembalikanku ke dunia nyata. Aku hanya ratu bagi rakyatku, bukan bagi rakyat di belahan bumi lain. Hanya rakyatku yang meninggikanku walau seranting, mendahulukanku walau selangkah. Semua bukan milikku, milik Tuhan, dan kembali pada kuasa-Nya.

***

Apapun alasannya, aku tetap tak rela satu-satunya permata hatiku tergores walau segores. Tapi terlanjur sudah. Ada luka yang bekasnya mungkin tak akan hilang. Tak akan kubiarkan lelaki asing menjamah hati anakku. Hanya lelaki dari trah yang sama yang boleh meminta anakku. Meski aku tahu, sangat sulit mencari dan membuktikan darah biru yang sama dengan darahku.

Biarlah anakku tetap perawan, asal tidak terluka dan terbuang. Aku akan menemaninya hingga akhir masa. Karena aku ibunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s