Akhirnya Aku Nikah Juga…

Rumah Cokelat,

“jadi kamu nerima khitbahnya?” seorang perempuan mengenakan blus cokelat susu dengan rok cokelat tanah beserta kerudung mungil warna senada, bertanya.
Lawan bicaranya, perempuan berjilbab ungu yang duduk berseberangan dengannya, dengan tatapan mata mengarah ke luar jendela kaca, menjawab.
“belum. Aku belum dapat kepastian dalam istikharahku,”
“why? He is so perfect man, dear.”
“aku mencari pasangan yang tepat, bukan ideal.”
“ya, aku ngerti. Tapi kenapa?”
“aku bimbang. Kamu tau aku, San.”
“apalagi? Dewa? Think real, dear! Dewa ga pernah mikirin kamu mungkin. Kenapa kamu harus membebani masa depanmu dengan satu nama itu?”
“ah…”

***

Ruang kelas XII-A1 SMA Harapan
Matahari bersinar begitu terik di kota Semarang. Jauh lebih terik dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin akibat lubang di lapisan ozon yang makin melebar, hingga gunung es di kutub pun meleleh, yang mengakibatkan volume air laut semakin bertambah, tinggal menghitung waktu kapan kota ini akan tenggelam.
“Ri, ga pulang bareng Dewa?”
“ga lah, aku bawa motor sendiri,”
“kenapa sih kalian? Pacaran kok kayak ga pacaran? Kan bisa aja tu motor cuti, mumpung masih satu sekolah, tinggal 3 bulan doank nih!”
“yeee, bigos! Siapa juga yang pacaran? Dapet gosip dari mana coba?”
“alaaahhh, semua orang seantero jagat ini juga tau kalian pacaran,”
“hah??? Really?? Dapet dasar dari mana? Apa kamu pernah liat aku jalan bareng sama dia? Ke kantin bareng sama dia? Sms-an atau telpon-telponan sama dia? Ga kan? tanya tu sama temen-temen kosku.”
“iya sih, tapi dari ujung pintu gerbang sampe pojok WC juga tau kalian ada apa-apa, Non!”
“itu mah gosip! Kamu sahabatku bukan sih? Enak aja ngejatuhin aku!”
“bukan ngejatuhin, tapi ngingetin kamu, kamu baru setaun jomblo! Janjimu dulu kan mu ngejomblo tiga taun! Kalo sebelum tiga taun ternyata kamu punya cowok, nraktir kita-kita selama sebulan kan? inget?”
“inget banget! Dan aku emang ga pacaran sama dia! Tanya sama dia sendiri aja kalo ga percaya!”
Damn it! Gila aja gosip tu nyebar cepet banget! Padahal aku ga pernah ngapa-ngapain! Siapa dia gitu! Hhuuummppphhh… bikin BT aja! Bagus sih aku makin terkenal, tapi kalo soal traktir-traktiran, soridorimoristroberi dah… Masih panjang waktuku untuk menata hati melupakan semua masa laluku. Baru setaun jadi jomblo, masih dua taun lagi. Biar aja semua ketawa ga percaya aku bisa jomblo selama itu. Seminggu setelah deklarasi jomblo aja, tanpa sepengetahuanku, sahabat-sahabat gilaku itu udah pada iseng nempel kertas di papan pengumuman dengan kalimat,
“LOWONGAN! Buat kamu para cowok jomblo yang merasa cakep, tajir, IQ diatas rata-rata, dan pemberani, silakan daftar jadi pacar Rianti Sri Bethari secepatnya!”
Alhasil, seminggu setelah kertas pengumuman tak beradab itu menempel, sms, telpon, hingga secara langsung, aku menerima puluhan rayuan gombal. :s

***

Wisma Melodi, setelah Ujian Nasional hari pertama,
“tau ga Ri, semalem aku tu smsan sama Dewa,”
“then?”
“tapi jangan ngomong siapa-siapa ya! Janji!”
“iya janji!”
“dia tu naksir sama kamu! Dia curhat gitu deh sama aku. Kampret dah, gara-gara sesi curhat semalem itu aku jadi ga belajar. Untung tadi sukses, kalo ga aku udah rencana nglabrak dia. Hahaha…”
“dia minta kamu ngomong sama aku? Pengecut banget sih,”
“ga gitu! Dia justru minta aku ga ngomong sama kamu!”
“lhah? Kok kamu ngomong sama aku?”
“daripada aku besok ga bisa konsen ngerjain soal gara-gara nyimpen rahasia orang. Hehe…”
“beuh… dasar ember!”
“jadi gimana?”
“gimana apanya?”
“kamu terima apa ga?”
“yeee… orang dia ga nembak aku! Apa yang diterima!”
“hehe… iya juga ya!”
“dulu dia sempet bilang sama aku, bahwa dia pengen deket sama aku. Tapi ga aku gubris. Aku lagi ga napsu sama makhluk bernama cowok. lagi pengen menikmati kedamaian sebagai seorang jomblo. Menikmati kebebasan. Inget kan masih 2 taun lagi?”
“yuhuuu… aku sih doain kamu semoga dua taun lagi kamu ga nemuin pacar, tapi suami. Hahaha…”
“amin…”

***

Malang,
Malam ini basah. Sebasah hatiku yang telah tersiram airmata kejenuhan dan kepasrahan. Seolah langit pun turut menangisi kebimbanganku. Kuraih hp bututku, chatting dengan sahabatku yang sedang berada ratusan kilometer jauhnya. Hanya sahabat-sahabat lamaku yang ada di akun ini, akun alay jaman SMA.
Ncit_cantik : aku bingung ni, aku ga enak nolak cowok-cowok baik!
Bruce_ganteng : ya terserah kamu lah! Kalo mau nunggu Dewa ya silakan, kalo ga ya gapapa
Ncit_cantik : masalahnya, aku ga tau aku ni nunggu apa! Dewa ga pernah kasih kepastian! Barangkali itu cuma cinta monyet anak SMA!
Bruce_ganteng : yakin deh, aku sahabatmu, sahabat Dewa, aku tau kalian saling mencintai tanpa saling mengungkapkan. Kenapa? Karena kalian keburu jadi makhluk bertitel ikhwan-akhwat! Hahaha…
Ncit_cantik : beuuuuhhhh
Bruce_ganteng : trus pengenmu gimana?
Ncit_cantik : aku cuma pengen kepastian ? aku tau ini terlalu sulit.
Bruce_ganteng : ntar aku tanyain ke dia. Sebagai sahabatmu, kita-kita disini tau bahwa kalian berdua saling menyimpan rasa, aku cuma ga mau ada penyesalan di akhir nanti diantara kalian
Ncit_cantik : Thanks ya Rey!
Bruce_ganteng : hu’um

***

Masjid Arif Rahman Hakim,
Senja berwarna jingga, suasana yang pas untuk memulai diskusi iseng tapi serius ini. menyangkut masa depan dua orang sahabatku. Hanya ada beberapa orang membentuk lingkaran-lingkaran kecil, mungkin sedang rapat, liqo’, mentoring, atau entah apa dengan urusan masing-masing. Aku di sudut ini berdua dengan Dewa Agung Suryapraba. Matanya menerawang melihat awan berarak. Aku mengikuti arah pandangannya.
“aku kemarin smsan sama Rianti, sepertinya sedang bahagia, dalam proses,” sengaja kugantung kalimatku, melirik wajahnya dengan seksama, memperhatikan perubahan air mukanya.
“semoga dia mendapatkan yang terbaik,” suaranya bergetar, memalingkan wajahnya dariku, sempat kulihat sekilas ada kilatan bening dimatanya.
“kamu ikhlas? Apa kamu mampu mengucapkan doa di walimatul ursy-nya nanti?”
“umur, rezeki, jodoh, sudah tertulis di lauhul mahfudz. Aku tak akan mampu menghapus dan menggantinya,”
“Allah tidak pernah menurunkan sekarung emas pada hamba-Nya yang hanya tidur bermalasan setiap harinya kan?”
“iya, tapi aku harus bagaimana? Keadaan tidak memungkinkan, Rey. Ga mungkin aku mengikat dia tanpa ikatan yang halal.”
“setidaknya ada kepastian untuknya. Aku tidak ingin kamu menyesal nanti. Jemputlah jodohmu, Sob. Trust me! Dia mencintaimu, hanya dia tidak punya cukup alasan untuk menunggumu”
Kami pun terdiam. Tak ada suara lagi. Kubiarkan dia tenggelam dalam gejolak samudera hatinya. Wajahnya menyiratkan duka yang dalam. Kunikmati senja itu dalam diam, hingga adzan Maghrib berkumandang. Setelah lafadz adzan selesai, masih dalam diam aku berdoa, aku yakin setelah adzan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, semoga Dewa dan Rianti akan bersatu dalam ikatan pernikahan suatu saat nanti.

***

From : Dewa Supraba
To : Bethari Gofight
Assalammualaikum Wr. Wb.
Maaf saya akan mengusik malammu dengan sebuah email yang mungkin ga penting banget ini. to the point aja, kemaren saya berbicara dengan Rey, dia sudah menceritakan semuanya kepada saya. Sebelumnya saya minta maaf, karena di detik-detik perpisahan saat SMA dulu, sedikit banyak saya ikut andil mencemarkan namamu, dengan gosip picisan yang hingga sekarang masih belum padam, walau ratusan kilometer memisahkan kita.
Aku tak tahu perasaan ini apa namanya. Apakah terlalu dini jika kusebut ini cinta? Ah, bukan, masih ada kemungkinan ini dari setan. Tapi kasian juga si setan, tiap ada apa-apa disalahin, ini kan salahku sendiri, karena kemunafikanku mungkin.
Aku tak akan pernah menyesal pernah menyimpan hati ini, 2 tahun, untukmu. Jika memang ada orang lain yang saat ini lebih siap, tak ada alasan untukmu menolaknya Ri. Aku yakin, setiap orang yang mendekatimu pasti bukan orang sembarangan. Keadaanku sama sekali tidak memungkinkan untuk mengikatmu sekarang. Aku ikhlas.
Silakan arungi lautan kehidupan ini dengan bahtera kalian. Siapapun dia, semoga dia yang terbaik untukmu. Yakinlah, tulang rusuk tak akan tertukar.
wassalam.

***

Rumah Cokelat
“ada yang mengkhitbahmu lagi?”
“iya. Teman kuliah suamimu,”
“kata suamiku, dia baik, sangat baik dalam hal apapun, cocok untukmu,”
“semoga dilancarkan,”
“hah? Jadi kamu sudah menerimanya?”
“udah. Tapi belum ketemu antar keluarga. insyaAllah minggu depan. Kamu dateng ya!”
“subhanallah,”

Ah, tatapan mata dengan emot akhirnya-kamu-nikah-juga. jelas terpancar sinar bahagia dari sahabatku itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s