Semangkok Mie Ayam

Siapa yang ga tau makanan ini? judulnya “Mie Ayam”. Saya yakin dari Sabang sampai Merauke tersedia Mie Ayam, mulai dari bentuk gerobakan sampai bentuk restoran mahal.

Mie ayam itu mie basah yang dicelucelup ke kuah kaldu mendidih sampai mateng, ditaruh di mangkok, diberi daging ayam, ceker ayam, tulang ayam, pokoknya serba ayam (konon pernah beredar kabar daging ayam diganti dengan daging tikus. Jadinya mie tikus donk?? Wallahualam), trus dikasih semacam minyak atau apa gitu, daun bawang, sambel, saus merah, dan entahlah apa lagi.

Yang jelas, pertama kali saya makan mie ayam waktu kelas 3 SMP, habis itu ga lagilagi sampai menginjak bangku kuliah. Saya hitung, total sudah 7 kali saya menyantapnya. 7 kali seumur hidup saya yang sudah 20 tahun ini. berarti rata-rata sekali makan tiap 2,8571429 tahun, atau satu kali makan per 34 bulan 9 hari. Semua teman saya surprise donk pasti. Percaya ga percaya. Secara ini makanan yang amat merakyat. Tapi itulah saya.

Sombong banget sih kamu. Kamu makannya apa? Pizza? Burger? Steak?

Oh, no no no! Saya juga sebenarnya menghindari makanan-makanan itu, kecuali bener-bener lagi pengen atau terpaksa ditraktir atau dapet request traktiran ditempat-tempat itu.

Bakso? Siomay? Batagor? Saya suka sekali. Tapi dengan catatan tanpa vetsin, tanpa daging.

Bukan kenapa-kenapa, saya sangat menghindari tempat bernama Rumah Sakit dan manusia bertitel dokter. Makanya, mending saya ga merasakan nikmatnya hidup sesaat daripada suatu hari saya diseret dengan kejam ke ruang serba putih i

tu.

ah, malah jadi kemanamana….

:s

Tapi apapun itu, semangkok mie ayam akan menjadi pelepas rindu, pada seseorang, nun jauh disana. (halah, wkwkwkwkk)

Pernah aku berpikir, saat aku makan mie ayam, serasa bersama mereka pecinta mie ayam yang kucintai. Hingga aku berpikir, mungkinkah aku sakit jiwa?? :s

Tak bisa ku melepas kenangan begitu saja

Ada sesuatu yang indah dibalik takdir yang terlihat menyakitkan

Mungkin kamu dan kalian tak merasakannya

Mungkin ini hanya hiperbol hatiku yang telah lama beku

Mungkin ini hanya perasaanku

Tapi aku yakin di tiap tetes air mata perpisahan, ada segaris senyum kegembiraan untuk menyambut pertemuan berikutnya

Semoga…

Jogjakarta, 11 Februari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s