Menjadi Sempurna Itu Melelahkan

Bertindak mengikuti kehendak atau menyesuaikan diri mengikuti apa-apa yang dikatakan orang tentu tak pernah ada habisnya…

Bagiku itu melelahkan…

Tidak merasa lelahkah?

Sebuah status yang muncul di home facebook saya pagi ini dari kak Harmiati Al-Haram. Kemudian otak saya seketika membenarkan.

Sejak beberapa tahun lalu saya menganut aliran skeptisisme ala saya sendiri. Menurut saya, sadar atau tidak orang-orang di luar individu yang bersangkutan selalu ingin bercermin kepada kamu, kamu yang dianggap bayangan dirinya, kamu yang harus sempurna sesuai dengan ambisi pribadi dia. Ini saya alami sejak puluhan tahun yang lalu (heleh, umurmu pira???). orang yang saya sayangi dan mengaku menyayangi saya selalu menuntut begini begitu hingga saya berubah menjadi princess ala barbie. Untung cuma sesaat. Pernah baca atau nonton Me Vs Highheels?? Kurang lebih itu contoh mudahnya. Bukan berarti saya menafikan saran dan kritik orang-orang di sekitar saya, tapi saya akan menyaringnya dengan sistem filtrasi tercanggih abad 21, agar saya tidak terjerumus dalam kepura-puraan.

Ya, menjadi sempurna itu melelahkan.

Ga hanya satu dua kali saya dan teman-teman saya sealiran membahas tentang hal ini. mungkin kami bukan kelompok orang hebat yang berhak berijtihad. Tapi berdasarkan referensi-referensi yang kami baca, seperti itulah.

Kata Gunis dalam sebuah tulisannya :

Adalah konyol memaksakan diri menjadi orang lain setelah kita ‘hijrah’ dengan berjilbab. Alangkah sunyi dunia jika semuanya seragam. Biarkan semuanya sesuai karunia karakter yang Alloh lekatkan pada diri kita.  Maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nusaibah binti Ka’ab yang melindungi Rasulullah kemanapun beliau bergerak dalam perang. Akan tetap ada yang berkepribadian kuat seperti Ummu Hani’ binti Abu Thalib. Akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti ‘Aisyah. Ada yang tetap bisa membentak membentak dan tertawa tertawa terbahak seperti Hafshah. Akan tetap ada yang lembut dan keibuan seperti Khadijah. Lagipula, seleranya juga macam-macam. (Ups!)

Atau ini :

Celupan warna yang melingkup karakter khas kita, membingkainya menjadi sesuatu yang indah. Ia menjaganya untuk tetap menjadi kemuliaan di manapun, kapanpun. Sehingga mungkin memang harus ada penyesuaian-penyesuaian tertentu. Tapi pada karakter-karakter mendasar, tidak ada yang perlu kita risaukan. Jangan sirnakan keunikan diri. Biarkan keindahan warna-warni itu hidup dan meronai dunia dengan pelangi akhlak.

Agar Bidadari Cemburu Padamu-Salim A.Fillah

~edited

Kemudian kata saya :

Bunglon hanya akan mengubah dirinya jika dia merasa terancam atau sedang mengancam.

seperti itulah kita. tak perlu berpura-pura. lepaskan topengmu sekarang juga.

2 thoughts on “Menjadi Sempurna Itu Melelahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s