Cerita Seru 5 Hari Penempaan di Tempat Asing

Tulisan ini dalam rangka “mengenang” masa indah saja. Tepat setaun yang lalu, hari ini aku dan 3 temanku dari Semarang akhirnya menginjakkan kaki dengan sukses selamat sentosa sejahtera di Bandung.

Eh, sebelum cerita serunya, cerita sebelumnya dulu donk…

Tanggal 29 Maret 2010, aku memutuskan pulkamp, memanfaatkan hak ga ikut kuliah karena butuh asupan gizi lebih setelah jambore ukhuwah weekend sebelumnya, hehehe…

Setelah 3 hari kemaren mati-matian (lebay) total di jambore ukhuwah, besoknya terkapar, ga kuat kuliah. Hahahaha… untung aja dosennya ga masuk, ga jadi keitung bolos deh. Mending pulang kerumah aja, niat memanfaatkan hak seminggu dirumah. Heheehe…

Eh, malemnya di rumah, dapet sms, lolos seleksi buat ikut DM 2 KAMMI Daerah Bandung. Weleh…

Ga tau deh rasanya apa. Seneng, sedih, minder, campuraduk. Secara aku ngerasa belum apa-apa kok tiba-tiba udah naik tingkat aja. Mana seabrek baju masih di tempat laundry, jaket kebesaran masih basah, dan lebih tragis lagi, acaranya dimulai tanggal 31 pukul 11.00. itu berarti besok malam harus meluncur ke Bandung, padahal sekarang masih di Pati. L

Tapi mungkin ini kesempatan ga akan dateng 2 kali, mungkin aja kan tim verifikasinya lagi khilaf hingga meloloskan saya? hehehe..

Paginya langsung meluncur ke sekre KAMDA, katanya ada pembekalan gitu. yang berangkat dari Semarang ada 3 akhwat dari UNDIP (aku, dwi, ulfa) dan 1 ikhwan dari UNNES (wahyu). Yang aku kenal cuma Dwi, secara kita seperjuangan.

Disitu kita baru ngeh kalo harus bikin makalah dengan tema yang sudah ditentukan. Ternyata kami harus berangkat ke Bandung malam itu juga. kebayang donk gimana ributnya. Cucian masih di tempat laundry, jaket merah masih penuh lumpur sisa perjuangan jambore yang susah dicuci, belum beli tiket, dan yang paling menegangkan adalah, belum bikin makalah… itu udah jam 10 pagi. padahal berangkat jam 7 malam dari terminal Banyumanik, itu berarti habis maghrib aku harus meluncur dari Pleburan. OMG!!!!

Akhirnya jam 12 siang aku baru nyampe di Pleburan. Langsung ngebut binti ruwet bikin makalah. Konsentrasi terpecah, mana ga ada baju yang udah beres. Jaket juga ga ada. Tapi kemudahan muncul satu per satu. Disodorin buku-buku sama mbak Desty, trus dipinjemin jaket dia, walau agak kekecilan di aku, tapi gpp lah.

Singkat cerita, selesailah semuanya pukul 17.00 (sebenernya dipaksa selesai).

Segala urusan tentang tiket diserahkan kepada Wahyu, alhamdulillah dia juga yang minjemin duit. Secara ga pegang duit cash (ceileee…).

Singkat cerita (lagi) aku berhasil menyusun makalah yang minimalis binti acakadut. Kebayang donk gimana “kemrungsungnya”. Ga sempet ambil cucian di laundry, akhirnya bawa baju seadanya. Jaket merah?? Pinjem mbak desty, walaupun agak kekecilan. Eh malah sorenya ujan, harapan malam hujan reda tinggal harapan kosong. Akhirnya aku naik taksi ke banyumanik, minta ngebut donk sama bapak sopirnya. Untung bapaknya pengertian. Ujannya deres banget.

Sampai terminal, shalat Isya dulu. Langsung kita meluncur ke Bandung. Bismillah…

Singkat cerita (lagi), kita sampai di Bandung. Ini bukan kali pertamaku ke Bandung, tapi kalo sama ortu kan ga pake turun di terminal, jadi ga ngeh dan dagdigdug juga,takut nyasar. Berdasarkan instruksi dari panitia, kami harus turun di Cicaheum, naik angkot sampai terminal Ledeng, naik angkot lagi ke sekolah polisi, trus naik ojek ke lokasi. Kebayang ga gimana jauh dan terpencilnya? -.-“

Dan memang Allah sesuai prasangka hambaNya. Terminal Cicaheum udah lewat. Kami terdampar di pool BE. Yang saya pun ga tau itu di daerah mana. Mau telpon teman-teman yang di Bandung juga ga ngeh ini di daerah mana. Akhirnya kami memutuskan naik taksi. 80 ribu ga pake argo, cukup mahal, tapi gpp daripada nyasar lagi. Eh ternyata, pak sopirnya ga tau daerah situ juga. T.T

Jam 6 men waktu itu, udah terang benderang. Setelah beberapa kali salah jalan, dan tanya sama beberapa orang (aku nerjemahinnya sih gitu, roaming Sundanese soalnya). Akhirnya kita berhasil sampai di tempat tujuan. Sekitar jam 7. Sial buat kami bertiga, belum sempet ambil uang di ATM! Karena kita ga menemukan mesin ATM… huuaaa….

Tinggal 3 lembar ratusan ribu yang nongkrong di dompetku. Buat bayar kontribusi 85 ribu per orang, yang akhirnya buat bertiga. Minta maaf donk belum bisa ngganti ongkos taksi&tiket berangkat. Heheeh… tapi kami janji pulangnya langsung bayar begitu nemu mesin ajaib itu.

Nah, kami masih punya waktu buat istirahat. Tapi aku ga berani mandi, diiiiinnngggiiiiinnn banggeeetttt… Bandungan kalah sama Bandung beneran :p

Hari pertama langsung mulai materi. Bener-bener nguras otak. 5 hari disana bener-bener menyenangkan. Teman-teman yang seketika langsung bagaikan saudara kandung, ilmu-ilmu luar biasa, dll.

Tak ceritain ya, pas malam pertama tu kami ngumpul akhwatnya, kenalan sambil makan bareng. Pas tiba giliranku menyebutkan nama, ada yang nyeletuk, “kamu temen Fbku kan?”

Seeetttdaaahhh… hahahhahaha…

Pesertanya banyakan Sundanese. Tapi ada 3 orang lagi dari luar daerah, dari Riau. Jadi perjuangan kita yang dari Semarang belum ada apa-apanya, masih kalah jauh :p

Ada dari UNPAD, UNISBA, UPI, UIN Bandung, ITT Telkom, UIN Cirebon, dlllllll

Kami makannya di nampan men, bener-bener sederhana banget. Kebayang kan dalam suasana dingin gitu, dan otak dipake buat mikir terus, pasti butuh asupan gizi berlebih. Tapi disana kami menikmati segala keterbatasan itu. Tidurnya ga pake kasur, Cuma karpet tipis. Aku sampe pake baju dan kaos kaki berlapis untuk mengusir dingin.

Ni aku kasih liat makanan kita :

4 hari disana kami habiskan untuk diskusi, mengenal satu sama lain. Diskusi tentang masalah berat, masalah negara!  Hehehe…

Hari keempat kita harus terjun langsung melihat kondisi masyarakat sekitar. Kami berhasil menemukan satu rumah. Kuakui penduduknya ramah-ramah. Mereka bercerita tentang masalah kehidupan.😀

Materi-diskusi-presentasi, pokoknya gitu terus. Saking asyiknya, pas malam terakhir, kami diskusi sampai jam 2an, sampai ada beberapa peserta yang terkapar. Padahal jam 3 sudah harus bangun dan paginya outbound.

Tapi semua kami jalani dengan senang hati. Paginya outbound. Medannya lumayan menegangkan, lereng-lereng curam dan licin, melawan arus deras sungai, dll. Hanya berbekal segelas air mineral. Ukhuwah kami diuji disni. Sampai pada pos terakhir, kami harus perang, memperebutkan sebuah bendera. Ini bagian paling menyedihkan, menegangkan, mengharubiru. Kami dipaksa perang dengan saudara kami yang dianggap musuh. Darah dan airmata tumpah ruah disana. mungkin kalau bagian ini direkam kemudian diklaim sebagai pelatihan teroris, akan banyak yang percaya. -.-“

Sayang bagian ini tidak terdokumentasikan di camdigku. (yaiyalah mana semmpaaaaaaatttt)

Setelah maaf-maafan, kami harus pulang kembali ke tempat semula. Kalau tadi kami harus menuruni lereng bukit yang curam dan licin, maka sekarang kami harus mendaki, dengan kondisi sangat lelah dan beberapa bagian tubuh yang terluka. Tertatih saling membantu kami berjalan. Dengan pikiran masing-masing. Berharap kejadian ini adalah kenangan yang tak pernah hilang dari memori masing-masing.

Sampai disana, antri mandi. Badan penuh lumpur dan luka. Ada beberapa lebamdan goresan di kaki dan tanganku. Sungguh pengalaman tak terlupakan. Hilang sudah segala sedih yang tadi sempat melingkupi hati kami. Kami kembali ceria dalam kebersamaan. Foto-foto lagi😀

Setelah bersih, kami makan bakso bareng di dekat lokasi. Soalnya masih laper. Hahahhaa… bodo dah mau dibilang akhwat rakus ya gimana, namanya juga butuh dan adanya Cuma bakso :p

Oh ya, yang punya warung bakso itu ternyata bukan Sundanese, tapi orang Tegal. Dimana-mana ada orang Tegal ya? :p

Sore menjelang, saat-saat perpisahan, tak terasa 5 hari kami habiskan dalam kebersamaan. Lagi-lagi saat itu menjadi saat paling menyedihkan. Kami harus berpisah, dan tak tahu entah kapan bisa bertemu lagi. Yang jelas sampai setahun berikutnya, di detik ini, kami belum pernah bertemu lagi. Meski dalam setahun ini aku sudah 3 kali ke bandung lagi. Namun takdir belum mempertemukan kami kembali.

Setelah maghrib kami pulang. Gerimis mengantar kepergian kami bersama tangis perpisahan. Aku sempat muntah-muntah di angkot, tapi tak apa. Sampai di Cicaheum, banyak yang mengkhawatirkan kami. Mereka meminta kami untuk tinggal semalam lagi di Bandung. Tapi kami harus kuliah. Tak ada lagi bus eksekutif, hanya ada bus ekonomi. Menyeramkan. Disitu pula hape kesayanganku hilang😀

Tapi kenangan itu akan terus kuabadikan di memoriku. Aku pernah bersaudara dengan mereka orang-orang hebat. Dan akan terus bersaudara, hingga di surga. Amin..

Semarang, 31 Maret 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s