BENTENG PERTAMA DAN TERAKHIRKU

Setiap kali ada kesempatan, aku selalu menyempatkan diri pulang ke rumah. Sekedar melihat wajah Ibuk, Bapak, dan adikku, Beno dan Bagas. Kemudian bertukar cerita, cipika-cipiki, atau apapun, yang penting bersama.

Norak? Ya, banyak yang bilang begitu.

“mahasiswa udah semester 6 masih aja sering pulang! Ngapain??”

Itu pertanyaan (kalau tidak boleh disebut sebagai cacian) yang sering kudengar. Mungkin banyak orang bertanya-tanya, senyaman apakah rumah Amy?

Mungkin lagi di pikiran banyak teman-teman yang menganut paham MATERIALISME akan mengira rumahku sebesar rumah-rumah di sinetron konyol dengan perabot serba lux dan serba ada.

Tapi salah, salah besar, sepenuhnya salah. Bukan materi yang membuatku memilih untuk pulang.

Kadang su’udzhonku berkata lirih, mungkin mereka yang bertanya “pulang-kerumah-ngapain” adalah sederet orang yang tidak mendapat anugerah berupa rasa bahagia.

Ah, tapi itu hanya su’udzhonku saja. Tiap individu memiliki definisi bahagia yang berbeda.

Sebenarnya aku hanya berpikir sederhana, “kapan lagi aku bisa pulang?”

Manja? Mungkin ada benarnya.

Terserah mau dibilang norak. Bagiku, rumahku adalah bentengku. Walaupun bukan di tempat itu aku lahir, tapi di tempat itu aku tumbuh dan sedikit mengerti tentang kehidupan, tentang arti kebahagiaan, arti kesederhanaan.

kalau kalian bertanya, ngapain aja aku dirumah?

aku jawab : menghimpun kekuatan. (seeettdaahhhh berasa jaman Misteri Gunung Merapi. wkwkwkwkwk)

ya, walaupun secara kasat mata aku ga ngapa-ngapain, tapi sebenarnya aku sedang menghimpun kekuatan lahir batin, batin terutama. ada rasa yang tak bisa didefinisikan.

Sedikit menengok ke life map-ku, kalau itu berhasil kujalankan, kalau mendapat restu Allah, 2012 adalah tahun terakhir aku menginjakkan ragaku di Jawa, aku ingin berjalan ke luar Jawa, tujuanku Sumatra atau Kalimantan. Jika itu terrealisasi, mungkin setahun sekali aku baru bisa pulang, ke bentengku. Bukan bermaksud mendahului rencana Tuhan, tapi bukan dosa kalau aku punya cita-cita.

Sejauh apapun kakiku melangkah, aku akan kembali ke rumah.

Kata Fauzan Mukrim, “Aku bisa saja jalan sejauh manapun, tapi kalau tak punya tempat untuk pulang, buat apa?” (Mencari Tepi Langit, 2010)

Kalau membandingkan dengan buku-buku pernikahan yang kubaca, mungkin ini salah satu indikator keberhasilan pernikahan orang tuaku, menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah (amiiinn..). Bukan dari sisi materi, tapi dari hati. ^o^/

2 thoughts on “BENTENG PERTAMA DAN TERAKHIRKU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s