Perjuangan Part 1 (Diamnya Bukan Berarti Penolakan)

Kuyakin diamnya bukan berarti penolakan.

20 tahun lebih aku mengenalnya, lelaki terbaik dalam hidupku.

Dia bukan seorang pemimpin yang otoriter, cukup demokratis.

Mungkin hanya butuh waktu berdamai dengan perasaan dan kenyataan bahwa sebentar lagi gadisnya bukan lagi haknya.

Apakah lelaki asing itu dapat menggantikan posisinya dimata gadisnya?

Apakah lelaki asing itu dapat membahagiakan gadis tercintanya?

Apakah lelaki asing itu bla bla bla..

Banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang beralasan maupun tidak, manusiawi kupikir.

Gadis yang selalu dibawanya kemana-mana itu sebentar lagi tidak lagi bisa dibawa kemana-mana seinginnya.

Akankah gadisnya baik-baik saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s