Manusia Pada Hakikatnya…

Manusia pada hakikatnya memang tidak akan pernah puas menerima sesuatu dalam hidupnya. Sunnatullah. Namun manusia diberi akal untuk mengekang hawa nafsunya.

Aku sebenernya terbiasa hidup sederhana.. biasa saja… sangat biasa. Tapi memang fasilitas dari orang tua yang kadang membuatku merasa terlalu nyaman, serasa lumpuh pada suatu saat.

Ya, tapi inilah saatnya otak manusia bekerja. Manusia memiliki memori jangka panjang dengan kapasitas tak terbatas yang memungkinkan individu untuk belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mengembangkan diri individu yang bersangkutan.

Aku baru bisa tidur nyenyak selain di rumah setelah kelas 1 SMA, walaupun sejak SMP aku sudah menyandang status sebagai “anak kos”. Aku baru bisa mencuci dan menyeterika pakaianku sendiri saat kelas 3 SMP dengan ketrampilan seadanya (biarkan mencuci sendiri dengan kekuatan 10 tangan -.-“). Dan sampai detik ini aku hanya bisa memasak telor dadar, telor ceplok, telor rebus, tempe goreng, tahu goreng, dan air. Tapi setidaknya aku bisa membuat cake. -.-“ (do you wanna try?? :p)

Aku pasti bisa. Suatu saat aku bisa.

Bukan bermaksud untuk tidak bersyukur dengan segala rezeki dan fasilitas yang diberikan Allah melalui orang tuaku. Tapi rasanya gimana gitu…

Dulu aku “hampir” terbiasa berada di zona tidak nyaman, menjadi orang biasa, anak kos seutuhnya. Tapi sekarang disini aku merasa ada yang hilang.

Kamar kos ukuran 4×4, kamar mandi dalam, ada mesin cuci, kulkas, dst dsb. Bersyukur ga semua orang mendapat kesempatan seperti ini. fasilitas cukup “wah”. Tidak kupungkiri, aku merasa amat nyaman. Tapi aku merasa kehilangan sesuatu.

Aku kangen masa-masa dimana asyik luluran berjamaah, nyuci berjamaah sampe gempor, rebutan tali jemuran, atau lagi menikmati panggilan alam digedor-gedor. Hahahhaa

Aku kangen jadi anak kos sesungguhnya yang hidup penuh kesederhanaan, norak-norak bergembira.

Alasan ibu “menelantarkan” aku di tempat seperti ini adalah karena ibu ga mau anaknya menderita. Anaknya harus mendapat fasilitas lebih baik dari dia dulu. (aku ga berani bayangin, suatu saat nanti bisa ga ya aku memberi fasilitas lebih wah ke anak-anakku???)

Beberapa bulan yang lalu aku memutuskan kembali ke duniaku yang hilang itu. Meski melalui diskusi cukup alot dengan Bapak  Ibu. Aku memutuskan mencari kamar kos sempit ala anak kos dengan fasilitas seadanya, bahkan lebih sederhana (untuk tidak dikatakan lebih buruk) dari kamar kosku dulu. Aku akan kembali berkutat dengan cucian, antri mandi, dll.

Naif? Sok? Whatever apa kata orang. Tapi memang inilah yang kurasakan.

Padahal baru gini aja ya? Belum jadi mantunya konglomerat dengan fasilitas serba lux. Wkwkwkwkk

Kukutip sebuah surat dari seorang yang sangat wise :

“memang manusia ya begitu. Setelah sekian lama hidup sederhana dengan kadar yang menurut kita pas, terus Tuhan kasdih kita kesempatan untuk hidup di strata sosial ekonomi yang meningkat, baru deh kita kayak sadar. Iya sih pasti bersyukur, happy, dan lain-lain. Tapi pasti ada semacam kesadaran, atau apa ya, kerinduan, mungkin. Kerinduan buat kembali mendapatkan apa yang dulu pernah kita miliki dan sering lupa kita syukuri (saking lekatnya dengan keseharian). Yang dulu begitu murah buat kita dan kini mahal buat kita dapatkan kembali, kesederhanaan. Hikmahnya barangkali, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya sederhana. Tuhan selalu tahu yang terbaik buat semua makhluk ciptaanNya.” –Candra Wibawa @FoL—

Aku ga mau bakat “individualisme”ku terpupuk subur. Aku harus terus belajar bersosialisasi. Karena hidup tak selalu nyaman. Suatu saat aku akan berada di titik terendah. Itulah makanya dulu harus ikut PRAMUKA. :p

Harus bisa hidup seadanya. Aku pasti bisa beradaptasi.

Kalaupun nantinya ternyata hidupku tetap di zona nyaman, wallahualam. Yang penting sekarang berusaha belajar berada di zona tidak nyaman. Kalau slogan TNI : “Terlatih karena Berlatih”

Kalau risalah Tifan : “orang yang terbiasa dipukul tidak akan merasa sakit saat dipukul”

Bismillah… insyaAllah bisa….

2 thoughts on “Manusia Pada Hakikatnya…

  1. “orang yang terbiasa dipukul tidak akan merasa sakit saat dipukul”==> keburu mati gimana ngerasain sakit lagi

    ada yg bilang “tidak nyaman itu karena tidak terbiasa”. good luck yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s