Ini Ceritaku, Apa Ceritamu? -edisi cinta-

Manusia sejatinya tidak dapat menghindari laju jaman, termasuk teknologi yang semakin hari semakin berkembang. Bagai mata pisau, sunnatullah jika ada sisi yang menguntungkan sekaligus merugikan.

Kasus pertama, beberapa belas tahun yang lalu, tepatnya saat saya TK sampai SMP, saat dunia belum semodern sekarang, ibu saya rajin membawakan oleh-oleh berupa buku-buku ensiklopedi, buku cerita, hingga buku sastra lama yang harus saya baca beberapa kali untuk mencerna alur ceritanya (hingga saya berhasil kecanduan sastra lama), semua itu hasil meminjam dari perpustakaan. Jelas orang tua saya ga mungkin membelikan buku ensiklopedi anak nan tebal full colour dengan kertas lux yang pasti ekstra mahal itu.

Tapi bukan harga buku yang mahal yang akan saya persoalkan, tapi ilmu yang saya dapat. Dengan setumpuk seri ensiklopedi itu, mulai dari seri tubuh manusia hingga seri hewan melata, atau dari seri bumi hingga seri antariksa, meski tidak semua yang ada saya baca, karena saya sudah bisa menyeleksi mana informasi yang harus saya baca, mana yang tidak. Informasi-informasi yang sengaja saya lewatkan adalah tentang kucing dan tikus. Hehe..

Kasus kedua, saat kelas 1 SMP saya mulai mendapat tugas menerjemahkan dari guru bahasa Inggris, walaupun guru idola saya itu sudah menekankan bahwa “menerjemahkan bahasa asing tidak harus kata per kata, yang penting maknanya dapet”, tapi tetep aja aku cari per kata di kamus yang segede gaban itu. Sampai suatu hari aku dapat ide untuk minta dibelikan translator merk alf***nk. Sebenarnya ide ini dipicu oleh repotnya aku bawa-bawa kamus gede selain buku-buku pelajaran yang juga gede-gede, ditambah harus berdesak-desakan di bus tiap pagi dan siang, belum lagi kalau ga dapet tempat duduk, kalau saya punya alat ajaib itu, praktis beban berkurang satu.

Sempat debat sedikit dengan bapak, katanya kalau aku pakai kamus manual, itu akan semakin memperkaya vocab secara otomatis, karena saat kita melihat satu kata di kamus otomatis kita melihat minimal kata di atas, di bawah, atau disampingnya. Finally aku tetep dibelikan alat ajaib itu, cukup mahal, sekitar 3 atau 4x harga ranselku kalo ga salah.

Wallaaaa.. Aku jadi mendadak “cerdas”, bisa menjawab apa saja yang ditanyakan guruku, saat teman-temanku butuh minimal 10detik untuk mencari arti kata di kamus, aku hanya cukup sekitar 5detik. Tapi tak ada gading yang tak retak, ternyata kamus elektronik itu tak sekaya kamus manual, yang memaksaku tetap berjibaku dengan si tebal. Ditambah tragedi si pintar rusak 8 bulan kemudian, membuatku menyadari bahwa kamus manual lebih berharga, lebih bisa membuatku “kaya”. Akhirnya aku CLBK sama itu kamus.🙂

Mari mulai membandingkan pengalaman pribadi saya tersebut dengan kondisi umum sekarang, anak-anak mencari tahu tentang “mengapa ada rambut lurus dan keriting” misalnya, sudah mahir klik google.com.

Alhasil, yang diketahui dia ya hanya yang terlintas di otaknya. Padahal banyak sekali pengetahuan sederhana yang belum dia ketahui yang tidak mungkin muncul di google tanpa otaknya “meraba”. Beda halnya jika dia mencari jawaban atas satu pertanyaan itu di ensiklopedi anak, dia akan menemukan banyak ilmu lain sekaligus. Misalnya perkembangan dari satu pertanyaan tadi, ada “mengapa warna rambut orang indonesia hitam”, atau “mengapa rambut alis tidak tumbuh panjang seperti rambut di kepala”.

Memang tidak dapat dibantah, kehadiran search engine yang saya kenal saat kelas 2 SMP, saat itu di kota saya hanya ada beberapa biji warnet, membuat semua serba praktis. Butuh apapun tinggal klik. Dan parahnya saya dengan sadar ataupun tidak lebih memilih mengayuh sepeda pinjaman ke warnet daripada ke perpustakaan daerah yang sebelumnya menjadi tempat nongkrong favorit. Padahal jarak antara kos ke warnet duakali lipat dibandingkan ke perpusda. Hal itu berlangsung hingga awal kuliah, tapi setidaknya waktu SMA saya masih tergolong lebih sering mengunjungi perpustakaan sekolah daripada ke warnet. Memang kerja otak saya semakin ringan, sangat ringan, hingga saya menyadari bahwa apa yang ada di otak saya sekarang ini adalah memori-memori yang saya simpan dibawah usia 15 tahun. Diatas usia itu hanya sedikit informasi yang masih melekat. Otak semakin jarang digunakan, apalagi saya sudah tidak berada di kelas IPA yang penuh persaingan dengan orang-orang cerdas dimana setiap hari mau tidak mau harus menggunakan otak agar tidak ketinggalan banyak. Saya merasa sangat beruntung menyadari hal ini sebelum menginjakkan kaki di kampus, seandainya terlambat, mungkin otak saya sudah semakin menyusut. :p

Dengan membuka buku yang penuh ilmu itu, otomatis mata kita menangkap informasi-informasi lain yang sangat bernilai. Minimal kita sekedar tahu. Karena tidak mungkin kita hafal semua isinya kecuali kita termasuk manusia jenius. Tapi jangan khawatir, otak kita diciptakan sangat rumit dan sangat sempurna oleh Sang Maha Sempurna, dia mampu menyimpan berjuta informasi apabila kita menginginkannya. Otomatis dia akan menghapus dan menyimpan informasi dengan sendirinya sesuai perintah yang disadari atau tidak.🙂

Menggunakan otak semaksimal mungkin dengan membaca, salah satu cara mensyukuri pemberian Allah. Ini ceritaku, apa ceritamu?🙂

*Edisi Cinta Perpustakaan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s