Catatan Perjalanan No. 283

Kemarin sore aku memulai perjalanan terakhir sebelum lebaran, maksud hati sih biar ga kena panas, saya memutuskan memulai perjalanan ba’da Ashar. Dan saya melupakan fakta bahwa itu berarti jalanan-crowded-sekali-karena-jam-pulang-kerja. Alhasil perjalanan agak terhambat. Bagi saya, hal tersulit dalam berkendara di jalan pantura adalah saat harus balapan dengan bus AKAP. Dia tidak pernah mau didahului oleh siapapun. Naluri kejar setoran kali ya.. -.-”

Bus AKAP jurusan Semarang-Surabaya sudah setia mengantar jemput saya sejak 3 tahun yang lalu, walau sering saya menceracau ga jelas, bete, kesel, dsb gara-gara segala kekurangan dan kelebihannya, toh nyatanya dia tetap setia. Jauh lebih setia daripada pacarmu pasti. #lhoh?

Meskipun sadar-sesadar-sadarnya akan arti kesetiaannya, faktanya saya sudah lamaaaaaaa sekali saya mengabaikan keberadaannya, saya lebih memilih bersama motor saya kemanapun saya pergi. (halaaah…)

Perhitungan normal sih sampai rumah pas maghrib, langsung buka puasa, tapi karena sudah mulai terbiasa dengan perjalanan sendirian malam-malam, saya sudah tidak terobsesi “mengejar matahari tenggelam” seperti dulu. hehehe..

Mencoba menikmati apapun yang tertangkap mata, ketemu satu pertanyaan, “Kenapa hampir semua truk nopol manapun selalu bergambar cewek seksi berpakaian minim?”

walaupun ada beberapa yang tidak.

Kemudian mata saya berkeliaran lagi, nemu orang mandi rame-rame di sungai nan keruh di sepanjang Demak, ada yang mandi, sekaligus ada yang pup. Kalo pagi malah plus-plus ada yang nyuci juga. @.@

Pertanyaan kedua ini sudah lama sebenernya ada, “kota sekelas Demak gitu, kok kesadaran kesehatan masyarakatnya masih gini? Mungkin saya salah menilai, tapi rumah-rumah di sekitar kali itu bagus-bagus, jauh lebih bagus dari rumah saya. Harusnya bias jadi symbol kemajuan suatu peradaban donk… atau mungkin niatnya nostalgia masa lalu gitu mandi di kali, tapi kenapa ada yang pup juga? Nostalgia juga kah? -.-“

Masih berkeliaran ditengah keruwetan jalan, berkeliaran ke depan, belakang truk, depan bus AKAP, samping truk, ga ada yang mau ngalah. Saya juga. Hahaha… sambil tetep konsen, iseng ngeliatin mas keneknya yang sama setianya dengan busnya, dia juga setia memberi kode-kode sama saya dan pengendara lain di belakangnya. Awalnya sih ga ngerti , lama-lama ngerti juga artinya.

Pertanyaan ketiga, apa mas keneknya itu gelantungan kayak gitu terus dari Semarang-Surabaya? Hihihi abaikan…

Masih melaju kecepatan santai, mulai masuk kota saya berpisah dengan bus AKAP itu, dia lewat jalan lingkar. Di dalam kota, jauuuuhhh lebih riuh daripada di luar kota. Menjelang waktu berbuka puasa, saatnya berburu makanan dan semua orang keluar dari rimbanya :p

Kalau seramai-ramainya di luar kota tadi masih bias 70km/jam, didalam kota jangan harap, paling banter 40km/jam. Yang pernah ujian SIM dan lolos, pasti merasa sangat beruntung bisa melewati segala rintangan yang ada, terutama pasar tumpah. Hahaha

Pertanyaan keempat, kenapa sih orang-orang begitu antusias dengan euphoria berbuka?

Terus melaju, meninggalkan area dalam kota, luar kota lagi, langit mulai gelap, masuk kota berikutnya, suasana tak jauh beda. Keluar kota lagi, sebentar lagi sampai.

Di jalan Kudus-Pati ada perbaikan jalan yang belum selesai, entah kapan baru dimulai, sudah lama sekali saya tidak melewatinya. Semua orang tau, hampir setiap tahun pasti ada perbaikan jalan. S.E.L.A.L.U. dan selalu merugikan pengguna jalan pasti. Bagai buah simalakama, ga diperbaiki membahayakan, diperbaiki pun merepotkan.

Pertanyaan kelima, kenapa setiap tahun jalan pasti rusak? Adakah yang bermain-main?

Sampai di Pati, ada banyak spanduk bertuliskan kurang lebih begini, : “Mohon Doa Restu, Gugatan Ke MK sedang Diproses, bla bla bla…”

Pertanyaan terakhir, kenapa seolah semua pihak berwenang sedang galau dan mengalami kebimbangan atas kasus pemilukada Pati? Apakah hukum rimba akan berlaku di kotaku ini? Yang diatas berseteru, rakyat hanya termangu.

Cukup 6 pertanyaan saja. Barangsiapa bisa menjawab jika laki-laki akan jadi pangeran kodok, jika perempuan akan jadi putrid kodok. Hehehe…

Salam bertanyaaaaa…..  ^________^

2 thoughts on “Catatan Perjalanan No. 283

  1. kalo jalan rusak itu pernah ada yg bilang biar pada tahu mereka memasuki daerah mana…jd nandak banyak tanya kayak sampean itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s