CERITA LIBURANKU ; Seperti Mimpi

Setelah ribet harus 4 kali bolak-balik ke kantor Imigrasi ngurusin paspor sendiri, walaupun harus bermain ular-ularan yang lumayan panjang, pake acara wawancara dan poto bareng petugas juga, tapi gpp, enjoy, biar irit, tambah pengalaman, tambah kenalan juga :p, ruangan adem pula…😀

 

Ngapain bikin paspor?

 

Lagi pengen jalan-jalan keluar negeri gitu ceritanya. Sebenernya negara yang ingin aku kunjungi tu Belanda, pengen liat Klompen raksasa. Tapi nyari-nyari tiket ga ada yang promo ke Belanda. Kalopun ada pasti transit di Changi dulu, ntar kalo makanannya dikasih arsenik gimana? Belum nyampe Amsterdam udah mati donk gw kayak Munir… #ngigo

 

Dikasih pilihan tu ke Brisbane (katanya lagi ada festival akhir tahun), ke Venesia, atau ke Singapore. Yaelah sendeso-ndesonya saya, dikasih gratis sekalipun, saya ga bakal mau disuruh ke Singapore, mau ngapain coba disana? Paling banter dapet kenang-kenangan cap imigrasi di paspor -.-“

 

Nah akhirnya saya putuskan memilih ke Endonesa saja. :nyengirkuda:

 

Karena sibuk banget, saya 1 hari saja disana, rencana besoknya langsung pulang ke Indonesia.

 

Begitu sampai di bandara setempat, saya langsung memburu toilet, kebelet euy… dan yunowot? Di pojokan deket kloset ada seonggok PPD bercampur tissue toilet men…

 

Ya ampun… kata iklan kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Kesan pertama saya tentang negara ini adalah : J-O-R-O-K. Tapi saya mencoba berhusnudzhon, mungkin pemakai toilet sebelumnya buru-buru, lupa ga ngebuang PPDnya.

 

Saya lanjutkan perjalanan ke sebuah kampus ternama di sana. Bagian kampus yang pertama kali saya tuju adalah Masjid. Dan lagi-lagi saya ke toilet, kemudian menemukan pemandangan tak jauh beda.😦

 

Setelah melakukan kewajibanku, saya ke kampus ternama itu, ke salah satu fakultasnya aja, siapa tau dapat in menginspirasi buat skripsi. Bangunannya bagus, terlihat baru. Secara keseluruhan terlihat bersih. Alhamdulillah, minimal saya tidak menemukan pemandangan buruk seperti pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah ini.

 

Tapi ada yang janggal, hampir di setiap sudut tembok ada tulisan “DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN”. Bahkan ada seperti surat pemberitahuan dengan kop resmi dan tanda tangan pihak dekanat yang isinya “dilarang buang sampah sembarangan”. Hmmm…

 

Bukankah kampus ini sudah bersih? Kenapa harus ada reminder itu? Atau karena adanya reminder itu jadi kampus tetap bersih?

 

Saya duduk di sebuah kursi tunggu di lobi. Memainkan hp saya. Di sudut-sudut ada banyak tampang mahasiswa yang memangku laptop, biasa, gratisan. Ada yang bergerombol maupun sendiri dengan khusyuknya.

 

Aku tetap memperhatikan sekelilingku. Ada yang senyum-senyum sendiri, ada yang menceracau, ada yang diam serius menatap layar kaca.

 

Tidak beda jauh dengan kondisi mahasiswa di Indonesia, termasuk saya.😀

 

Kemudian sorot mata saya menangkap sesuatu, sebuah tangan sedang melipat plastik bekas gorengan sekecil mungkin, seperti membuat origami, kupikir mungkin dia sedang berusaha mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih berharga. Super sekali orang ini.

 

Tapi pikiranku salah, salah T-O-T-A-L. Dia melipat plastik bekas gorengan sekecil mungkin kemudian menyelipkan di kusen jendela. S-U-P-E-R sekali bukan?

 

Otakku segera mengirim sinyal-sinyal tanda bahaya. Aku menoleh ke arah jam 9, ada gerombolan mbak-mbak bermaskara tebal sedang ngerumpi, tangan memegang tissue, kemudian meletakkan tissue bekas ingusnya di lantai begitu saja, meletakkan, bukan membuang.

 

Aku menengok ke arah jam 4, ada seorang mas-mas dengan gesture tubuh agak melambai, dengan minuman kaleng bersoda di tangan kirinya, ketawa-ketiwi bersama teman-temannya, kemudian membiarkan kaleng minuman bekasnya di kursi tempat duduknya tadi, dan meninggalkannya. Membiarkan, bukan membuang sembarangan.

 

Selang beberapa menit, ada bapak-bapak berseragam cleaning service, dengan setia memungut hasil karya si mas dari plastik bekas gorengan, menyapu tissue bekas ingus mbak-mbak-bermaskara-tebal, kemudian mengambil kaleng bekas mas-mas-dengan-gesture-tubuh-melambai.

 

Kemudian mataku tertuju pada tembok-tembok di sekelilingnya, “DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN” tetap setia mengingatkan.

 

Ah, mungkin benar cerita dari seorang sahabatku yang pernah berlibur disini sebelumnya, “KEBANYAKAN MASYARAKAT ENDONESA BUTA AKSARA”

 

Buktinya mereka tidak bisa membaca sekian banyak tulisan dengan font ukuran 72 TNR itu.

 

Kasian bapak-bapak cleaning service yang harus siaga membersihkan sampah agar kampus ini tetap terlihat bersih.

 

Doaku, semoga pengalamanku ini tidak terjadi di negeriku INDONESIA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s