Cerita Si Madun ; Ada Hubungannya dengan PSSI Main Sabun?

Saya seorang perempuan muda berusia 21 tahun. Saya pernah mengalami masa kanak-kanak yang sangat indah, bebas berimajinasi, berganti cita-cita setiap bulan sekali, bebas bermain, tidak takut apapun kecuali Allah, neraka, dan jarum suntik, bebas mengukir lubang-lubang atau parut luka di sekujur kulitku, bebas berkotor-kotoran dengan apapun tanpa berpikir bagaimana cara membersihkannya nanti.

Yang saya ingat, masa kecilku sangat menyenangkan.

Eh, saya bukan bermaksud bercerita tentang masa kecil😀

Tapi tentang si Madun.

Kenal si Madun? Saya juga belum kenalan. Saya cuma tidak sengaja kemarin waktu bermain remote  tv kepencet nomor 5 a.k.a M*C tv.

Yang saya tau, si Madun adalah sesosok tokoh rekaan yang bisa saya pastikan 100% fiksi.

Sinetron ini dengan semena-mena (sekilas pengamatan saya) menjiplak Shaolin Soccer. Diceritakan si Madun jago banget main bolanya. Pake jurus-jurus ala Tsubasa gitu pula. Pokoknya akal sehat saya sulit menjangkaunya. Konsepnya ga jauh beda sama sinetron naga terbang yang di channel sebelahnya deh. Pokoknya not recomended untuk ditonton, pliis deh itu ga banget tau ga sih loh.. -_-“

Tulisan ini sedikit terhubung dengan peristiwa kemarin Indonesia vs Bahrain 10-0, lepas dari indikasi PSSI mainan sabun, yang entah saya tak tau jenis sabun apa yang digunakan, kalau teman-teman suka pake sabun apa? *lhoh

Saya pikir sinetron Si Madun itu, yang notabene mencari pasar anak-anak Indonesia, itu sangat tidak tepat. Tega bener deh itu produser, penulis skenario, sampai artis-artis kacangannya yang main sinetron bukan karena pinter akting tapi karena mumpung-muka-gue-laku, dan seluruh manusia yang terlibat dalam pembuatan sinetron ini dan sinetron-sinetron sejenis lainnya. Bener-bener tega turut serta membodohi anak bangsa dengan berbagai cara.

Dengan segala adegan di sinetron itu, mungkin saja terbentuk sebuah opini di alam bawah sadar anak-anak Indonesia bahwa kita-tidak-mungkin-juara-karena-kita-tidak-mungkin-memiliki-kekuatan-itu, jadi pantas dan lumrah saja kalau kita selalu kalah ngapa-ngapain. Ini secara tidak langsung dan tidak sadar membentuk karakter pesimis dan skeptis dalam diri anak-anak Indonesia yang 40 tahun mendatang mengisi pos-pos penting di negeri ini (saya harap 40 tahun mendatang negeri ini masih ada). Mereka ingin seperti itu, tapi menyadari bahwa dia tidak mampu, kemudian menyerah begitu saja tanpa ada usaha menempuh jalan lain.

Maka jika sekarang anda memiliki anak, jangan biarkan mereka mengkonsumsi acara itu, atau pilih Discovery channel aja deh sepanjang hari @.@

 

 

Demikian analisis subyektif yang sangat intimidatif ini. Penulis tidak memiliki latar belakang pendidikan psikologi sama sekali, jadi sangat mungkin sekali tulisan ini ngawur.😀

Maaf yaaaa… ^____^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s