Apatis Itu Pilihan

Saya termasuk dalam individu yang ‘menghalalkan’ bolos kuliah dan saya termasuk individu yang sangat apatis dengan segala macam bentuk ujian yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan dimana nama saya tertera dengan lengkap dalam deretan database mahasiswanya.

Pertama, masalah bolos. Bolos bukan hal haram bagi saya. Meski dalam peraturan akademik diharuskan hadir sejumlah 75%. Ada berbagai macam alasan mahasiswa di dunia ini untuk tidak hadir dalam kelas. Mulai dari sakit, sedang bekerja, aksi di jalanan, atau mungkin jenuh dengan perkuliahan yg itu-itu saja, dan lain-lain. Apapun alasannya, itu pilihan hidup bagi yang menjalani. Bukan bermaksud mengabaikan proses transfer ilmu dalam perkuliahan itu sendiri, melainkan permintaan sekian banyak mahasiswa yang sedang dalam proses belajar selain di dalam ruang kelas. Mmm… Maksudnya ada banyak yang bisa dipelajari selain di ruang kelas. Toh belajar di ruang kelas kebanyakan tak lebih dari transfer isi buku yang ‘dibacakan’ oleh dosen kepada mahasiswanya. Helloooo.. kami mahasiswa yang sudah melewati lebih dari 15 tahun masa belajar, dan saya telah mampu membaca di usia 4 tahun. Saya yakin semua teman mahasiswa tidak ada yang tidak lancar membaca. Persoalannya adalah ‘mau atau tidak’ untuk membaca. Dan itu adalah masalah pribadi individu, bukan masalah suatu kampus untuk memaksa semuuua mahasiswanya untuk dicekoki isi buku yang dijiplak oleh dosen dan disajikan dalam bentuk powerpoint, parahnya slide yang disajikan itu sudah bertahun-tahun yang lalu tak pernah diperbarui. Itu sedikit alasan saya memilih bolos kuliah untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih produktif daripada sekedar duduk mengantuk. Sedangkan untuk dosen yang penuh dedikasi dengan selalu memperbarui bahan ajarnya, saya pastikan saya akan selalu hadir di deretan kursi paling depan.😀

Diakui atau tidak, banyak mahasiswa yang hadir di kelas hanya untuk setor paraf di selembar kertas presensi kucel. Mental macam apa ini? Apa ini yang diharapkan lembaga pendidikan tinggi di negeri ini? Lumrah kan kalau para pejabat di atas sana juga demikian? 20 tahun mendatang saya pastikan keadaan tak akan berubah, karena yang akan mengisi pos-pos itu adalah mereka, kawan-kawan mahasiswa saya.
Apa kamu pernah begitu?
Ya, saya pernah. Dan selalu untuk mata kuliah yang sangat membosankan seperti yang saya sebutkan diatas. Saya hanya datang, duduk mengantuk, mengisi presensi kertas kucel, pulang. Tak ada sedikitpun materi kuliah yang nyangkut di otak saya. Di buku catatan saya hanya mencatat judul bab yang dibahas. Selebihnya duduk mengantuk, sesekali menulis memo yang kemudian saya lempar ke teman sebelah saya. Ngobrol dengan tulisan.

Atau tipe mahasiswa yang hanya bermodal sms :
“TA-in gue ya, plis! Besok gantian”
Ini tipe mahasiswa paling hina yang ada di dunia ini.
Kamu pernah?
Saya pernah 3 kali, karena saking kepepetnya jatah 25% habis. @.@
Setelah itu saya banyak istighfar dan berjanji kalau nanti saya jadi dosen saya akan membebaskan mahasiswa saya untuk membolos asal mereka bisa mengerjakan ujian dengan baik, dan saya akan memberlakukan 2 jenis ujian sekaligus yaitu ujian lisan dan tertulis. Saya pun siap dicap sebagai dosen paling killer di dunia. Hidup ini keras, nak. #eh

Kedua, masalah ujian. Saya sangat apatis pada segala hasil ujian yang diselenggarakan oleh kampus saya. Saya pribadi selalu mempersiapkan ujian dengan yang terbaik, semua kemampuan saya kerahkan. Dan saya selalu menerima apapun hasilnya dengan ikhlas, seburuk apapun itu, itulah kemampuan saya. Tapi saya menjadi amat sangat apatis ketika mahasiswa lain yang ‘berjuang lebih keras’ dengan membatik di kertas kecil, tangan, bangku, sampai hp, kemudian mereka mendapat nilai melambung tinggi.
Iri?
Ya.
Kenapa kamu ga niru mereka?
Saya pernah menjadi siswa paling gigih dalam berjuang seperti itu, segala macam trik mencontek saya kuasai, mata elang saya mampu melihat tulisan radius beberapa meter. Saya pernah menyelipkan kertas berisi puluhan rumus di lipatan rok, saya pernah menggunakan hp saya untuk berbagi jawaban. Tak ada yang terlewat, semua pernah. Saya juga selalu berbagi jawaban, sebagai sarana penebusan dosa pikir saya. semua itu saya lakukan dengan dalih ‘menyenangkan orang tua’.

sampai pada suatu hari saya sadar, orang tua saya bukan penghamba nilai duniawi. Mereka tidak pernah bangga dengan deretan nilai-nilai saya (atau memang tak patut dibanggakan?). Saya yakin, orang tua saya pasti akan marah besar jika mengetahui apa yang saya lakukan. Beliau berdua selalu dengan tegas melarang anak orang untuk mencontek. Jika mereka tahu apa yang saya lakukan, bagaimana pertanggungjawaban mereka kepada Tuhan nanti? Dianggap tak becus mendidik amanah? Oh… Sungguh saya ga mau jadi anak durhaka yang menyeret orang tuaku ke neraka.. T.T
Kalaupun saya tak sempat memuliakan beliau berdua di dunia, semoga di akhirat dapat.. Amin..

Bapak pernah bilang,
“kamu durhaka sama Allah kalau kamu ga bisa menggunakan otakmu secara optimal untuk belajar.”
(Sumpah ini kalimat mak jleb jleb banget…)

Kemudian saya tertegun pada hasil ijazah itu, itu selembar kertas, apakah hanya demi selembar kertas itu kamu membohongi bapak-ibuk, guru, bahkan diriku sendiri dan Allah?

“Allah ga suka kamu bohong, Allah ga suka kamu nyontek, Allah ga suka itu, Ami!”

Setelah melalui perenungan panjang, aku menghentikan semuanya. Saya pensiun dari profesi hina itu.

Kembali ke pembahasan sebelumnya. Saya apatis pada ujian, belum lagi ujian yang mengharuskan mahasiswa menulis jawaban sama persis dengan yang di buku referensi. Halllooo… Buku itu bukan Al Qur’an, bukan kitab undang-undang. Kenapa beliau-beliau membatasi kreativitas mahasiswa dalam berpendapat? Saya mutlak ga ngerti apa alasannya.

Saya tetap apatis dengan hasil ujian.

Itu ujian tulis, bagaimana dengan ujian lisan?

Inilah jenis ujian yang saya harapkan. Ujian paling jujur untuk menilai seorang individu mampu atau tidak. dalam ujian lisan, mana sempat melirik kertas batik?
Awalnya saya sangat percaya dengan ujian ini.
Tapi ternyata prediksi saya tak sepenuhnya benar. Budaya ‘ewuh-pakewuh’ di masyarakat Jawa penyebabnya. subjektifitas penilaian merupakan racun mematikan.

Kemudian saya ingat, hanya Allah yang Maha Adil. Maka mutlak salah besar jika saya menggantungkan harapan pada dosen yang notabene sejajar derajatnya dengan saya, sama-sama manusia.

Doa saya, semoga pendidikan Indonesia jadi lebih baik.

#hanya sekelumit pendapat dari seorang mahasiswa apatis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s