Mencatat Ironi

Hari ini aku bimbingan skripsweet lhoh..😀
Alhamdulillah sepertinya Allah sudah membuka jalan sedikit demi sedikit. Hanya butuh kesabaran untuk membuka jalan yg lain.😀
Maacih doanya ya ceman-cemaaaaan… :-*

Kalau orang lain mengawali penulisan skripsi dengan mencari judul dan membuat proposal, saya beda. Saya berani tampil beda. Halaaah…
yang pertama kali saya buat adalah kata pengantar. Yunomisowel.. Saya lebih suka dan lancar menulis dengan bahasa mendayu-dayu rada acakadut daripada menulis dengan bahasa ilmiah yang membosankan. *eh

Dan itu yg membuat saya kacau di skripsi. Kadang tanpa sadar saya menulis kebawa perasaan. Ga kece banget kan…. -_-

Siapa aja yg dapet kehormatan ditulis di kata pengantar? Bagi yg berminat silakan mendaftar, mumpung bagian kata pengantar ini belum naik cetak lhoh… :p

Masuk ke bahasan utama, saya sering banget mengeluh, tanpa atau dengan sadar.

Apalagi kalau lagi curhat, tak sampai hitungan menit, sepersekian detik berikutnya, keluarlah segala keluh kesah tentang hidup. Yang ini lah, itu lah, begini lah, begitu lah, kurang ini lah, susah itu lah, etc.

Yahh… Manusiawi… Tapi terkesan sangat kontradiktif. Di satu sisi saya meyakini seyakin-yakinnya bahwa Allah selalu punya rencana terbaik, bahwa Allah tidak akan memberi ujian melebihi kemampuan hambaNya, bahwa Allah itu Maha Baik…
Sedangkan di sisi lain, masih banyak keluhan yang meluncur dengan semena-mena dari mulut mungil saya.

Padahal bersama itu semua banyaaaakk sekali kepanjangan tangan Allah yang senantiasa membelai dan memeluk saya. Allah ga pernah berhenti membelai kepala saya dan berkata :
“sayang, tengoklah di luar sana.. si A yang harus membagi 24 jam-nya untuk kuliah, anak, dan suaminya sekaligus, si B yang harus begadang hingga pagi di rental komputer mengerjakan tugas, si C yang harus mengencangkan ikat pinggang demi ngeprint lembaran-lembaran yg nantinya penuh coretan, atau si D yang tak mendapat akses pendidikan secuilpun. Lihatlah anak-anak kampus sebelah, yang harus berhari-hari menunggu bertemu dosbing tanpa kepastian. Sedangkan kamu, kamu punya teman-teman dan orang tua yang tak lelah memotivasi, kamu punya banyak akses mendapatkan semua yang kamu mau, kamu punya dosbing yg baik hati, kamu hanya perlu sedikit bersabar dan memaksa diri, kamu sudah terlalu lama hidup di zona nyaman, Nak. Jangan memanjakan dirimu dengan mengasihani dirimu sendiri. Kamu tak akan pernah mendapatkan lebih dari rata-rata. Kamu ingin melebihi mereka bukan?”

Atau kadang Allah mulai jengah dengan keluh kesahku..
“berhentilah mengeluh, Nak. Apalagi yg kamu minta? Bukankah kamu sudah mendapat semua yg kamu inginkan? Walau tak jarang kamu mengabaikanKu?”

Meski saya sadari semua itu, tetap saja saya mengukir ironi. Mungkin inilah alasan mengapa Rasulullah menyuruh umatNya untuk mencari teman-teman yg baik, yg senantiasa mengingatkan dan membawa kita pada kebaikan. Beribu kali kuucapkan, “terimakasih Teman.. Jangan bosen-bosen ingetin aku ya!”
^__^v

nb : ini bukan keluhan lhoh… Hanya menuangkan isi otak biar ga crowded :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s