Tentang Halaman Terakhir Buku Catatanku

Aku telah terbiasa membuat peta hidup sejak usiaku berbilang puluhan yang pertama. Kutulis segala ingin dan rencanaku, jauh dari kata rapi, hanya berupa sket tak beraturan yang kucoret-coret di sembarang tempat. Tempat favorit adalah halaman paling akhir sebuah buku catatan pelajaran sekolah. Tak banyak yang paham, atau mungkin mereka kira itu tak lebih dari ekspresi kebosanan mendengar guru di depan kelas menjelaskan pelajaran.

Pernah aku baca dan kutanam di otakku yang terdalam, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu merubahnya sendiri”
Kupegang janjiNya erat-erat.

Maka kutorehkan segala asaku di sembarang kertas favoritku itu. Kini rapi dan teratur sesuai bilangan umur, berbilang puluhan yang kedua, lebih dari seperlima abad. Artinya, jauh sebelum aku mengenalnya, aku telah membuat sket hidupku.

Orang asing yang kukenal beberapa tahun belakangan, hanya berteman biasa saja. Tak pernah sekalipun kumeminta pada seseorang, -orang terdekatku sekalipun-, untuk mengoreksi sket hidupku. Penghapus hanya kubeli dua, satu untukku, dan satu untuk Allah. Hanya Dia yang kubiarkan turut andil mengoreksinya satu per satu. Tak pernah aku menunjukkan coretanku pada siapapun. Tapi dia terlanjur membaca, lebih tepatnya tak sengaja membaca.

Kemudian dengan nyinyir dia berkata ini dan itu. Kau pernah mengenal karakter Togog? Yang nyinyir berkomentar sana-sini tanpa diminta. Seperti itulah dia.

Tetap kuberdiri pada pendirianku, penghapus ini hanya ada di tanganku, bukan dia, bukan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s