Bermain Api Neraka

MBA, siapa tak tau istilah ini?

Saya tau istilah ini pertama kali saat kelas 2 SMA, judul sebuah buku. Dulunya saya pikir MBA itu sejenis sama NBA. Mungkin singkatan dari Mommies Basketballs of America a.k.a basketnya emak-emak. Gara-gara obsesi ntar sampe emak-emak saya tetep seneng panas-panasan di tengah lapangan basket. Hehehee…
Tentu saja dugaan tak beralasan saya itu salah. MBA adalah Married By Accident. Bahasa Indonesia-nya nikah gara-gara kecelakaan lah.

Waktu itu, yang saya tahu, fenomena ini hanya terjadi di kalangan masyarakat kota, dimana pengawasan orang tua terhadap anak sangat longgar akibat orang tua sibuk bekerja sehingga si anak kurang perhatian. Atau sering terjadi pada anak kos yang kosannya bebas keluar masukin lawan jenis dan ibu kosnya cuek bebek.

Fenomena ini diiringi dengan makin populernya kasus aborsi ilegal yang melibatkan wanita-wanita berstatus TIDAK KAWIN di katepe, mulai dari tempat praktek dukun beranak sederhana hingga tempat praktek dokter kandungan di kompleks elit.

Itu dulu, sekitar 5 tahun yang lalu. Saat saya baru saja mendapat angka 90 untuk bab reproduksi. Bagian pelajaran yang disampaikan guru saya tanpa tabu. Bahkan terkesan sangat menyenangkan, semua dibahas tuntas. Diiringi pesan moral yang melekat kuat di ingatan saya, “jangan buka segel sebelum waktunya, dan pegang iman kalian sesuai agama kalian masing-masing”

Waktu terus bergulir, jaman semakin edan kata para budayawan. Resiko sebuah negara berkembang yang terlalu terobsesi menjadi bagian dari ranah Internasional. Dimulai dari presidennya yang sangat suka melawat menghadiri pertemuan-pertemuan luar negeri dan dipuja-puji, tapi dicaci di negeri sendiri. Kemudian warganya yang terkenal bertangan terbuka “dipaksa” mendunia, menerima segala hal dari luar negeri, lebih hebat katanya. Peradaban yang kalah selalu mengekor peradaban yang menang, dan Indonesia kurang merasa percaya diri menunjukkan peradabannya. Menjadikan bangsa ini minder mengakui jati dirinya sendiri. Padahal dulu puluhan tahun yang lalu, pistol-pistol modern kalah melawan bambu runcing. Budaya bangsa yang kaya mulai tersisih, dan moral ketimuran terkikis.

Kini, tahun 2012, tahun kiamat kata orang, ibu saya sering ngomel sendiri saat melihat gadis-gadis keluar masuk warnet dekat rumah saya menggunakan hotpants dan berbonceng-boncengan dengan cowok, lagi mainan api neraka kata ibu saya. Saya sangat sering menemukan resepsi-resepsi pernikahan dimana mempelai perempuan sudah gemuk berisi perutnya beserta kasak-kusuk para tamu yang membuat hati ini merasa miris. Dari anak yang kuliah di luar kota, hingga anak SMP yang tinggal bersama orangtuanya dirumah. Atas dasar suka sama suka katanya.

Masyarakat sekitar menggunjing sana-sini. Sebuah sanksi sosial yang cukup menekan. Tapi miris rasanya saat ada jawaban “ah, artis X juga dulu kayak gitu, anaknya lucu banget”. Atau celetukan “ya gpp wong suka sama suka, normal. Daripada jeruk makan jeruk.”

Di tiang-tiang listrik di jalanan pun sering saya temui iklan “TELAT DATANG BULAN? HUBUNGI 08xxxxxxxxx”. Terlihat cukup halus, tapi tetap berisi. cara marketing yang cukup menarik.

Tak hanya di kota, di desa pun fenomena ini terus terjadi. Korban sekaligus tersangka satu per satu muncul ke permukaan.

Saya takut, semua kesalahan ini akan dimaklumi secara terus menerus, kemudian disepakati bersama oleh masyarakat sebagai suatu hal yang biasa, yang lama kelamaan naik status sebagai suatu budaya.

Hingga kita tinggal menghitung detik menanti bumi diguncang dengan dahsyat dan mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya. (Al Zalzalah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s