Teori Turbulensi B

“apa yg kamu lakukan saat ini, suatu saat pasti akan dilakukan anakmu nanti, bahkan lebih dahsyat. Dan kamu akan merasakan apa yg dirasakan orang tuamu saat itu”

Itu kata dosenku beberapa semester yg lalu, intermezo di sela-sela materi kuliah. Selain pandai menyampaikan materi, bapak ini sangat pandai mengemas pelajaran hidup dan menyihir kami dengan kata-kata bijaknya.

Tapi diantara sekian banyak kalimat bijaknya, kalimat diatas sungguh paling menghantui otakku sampai hari ini, sudah setahun lebih. Aku menyebutnya teori turbulensi B. Jangan cari di gugel apa itu teori turbulensi, karena kau pasti menemukan definisi yg sangat berbeda. Kutambahkan huruf B, sebagai pembeda dari teori turbulensi yg sudah ada😀

kala itu beliau bercerita bahwa anaknya punya ‘ritual’ menangis dan ngambek tanpa alasan setiap pagi. Dan setelah diingat-ingat, dulu beliau kecil juga seperti itu.

Lalu apa hubungannya denganku?

Ya, aku akan mulai bercerita. Aku adalah orang yg keras kepala, suka berontak, dan sedikit bandel.

Dulu saat TK sampai kelas 2 SD setidaknya, aku selalu menangis tanpa sebab sebelum berangkat sekolah, rasanya malas, sangat malas. Entah sudah berapa puluh atau ratus kali aku diguyur air bak yg sangat dingin sampai megap-megap. Entah berapa kali aku diseret oleh bapak karena aku enggan pergi mengaji. Pintu kamar mandi yg jebol itu juga bekas tinju bapak karena aku bandel tidur di kamar mandi sebelum berangkat sekolah. ya, aku sangat bandel.

Beberapa tahun setelah itu, aku mendengar cerita dari mbah Uti, ibunya bapak, bahwa dulu bapak pernah ga mau sekolah kemudian diseret dan diguyur bertubi-tubi oleh almarhum pakdeku, kakak beliau.

Ya, bukti pertama kebenaran teori turbulensi B ala dosenku.

Kemudian lagi, saat aku SMA, aku pernah menilap uang SPP untuk beli novel. Ya, novel. Tak ada budaya beli buku di keluargaku, yg ada budaya pinjam buku. Yunomisowel, aku cinta mati sama buku. Saat itu entah kenapa aku senekat itu. Sampai menunggak 2 bulan, yg pada akhirnya berhasil kulunasi.🙂

Beberapa bulan dari tragedi itu, aku mendengar cerita dari bapak, bahwa dulu waktu kuliah di Jakarta, beliau nilap duit jatah SPP untuk beli kamera idamannya. Kamera cukup bagus saat itu, dan m-a-h-a-l. Sampai sekarang kamera manual itu masih ada di lemari, dan masih berfungsi baik.

Bukti kedua.

Kemudian beberapa tahun yg lalu, aku bersikeras pindah jurusan, pindah universitas. Aku merasa sama sekali ga ada passion. Memang katakanlah ini universitas nomor wahid se Jawa Tengah, tapi aku ingin yg lebih menantang dari ini.

Ternyata itu pernah dialami bapak dimasa mudanya, pindah2 kampus.

Itu bukti ketiga. Fine, cukup tiga saja. Aku tak tega membeberkan aibku banyak-banyak. -_-”

Sempat aku berpikir, “ooo pantes aku kayak gini. Like father like daughter, kan? Mungkin mbah akung dulu juga gitu, mbah buyut juga”

Ah, tapi buru-buru kutepis, ga fair banget ya kesannya kalau menyalahkan masa lalu? Hahaha

Trus kenapa pula jatuhnya yg jelek-jelek ke aku semua coba? Kayaknya adekku ga gitu. @.@

Ngebayangin teori turbulensi B itu, sejujurnya aku ngeri, anakku ntar gimana bandelnya ya? Ya Allah amit amit jabang bayi…

sempat aku bertekad untuk memutus rantai turbulensi itu, dengan jadi anak baik-baik, yang manis, ga banyak tingkah, dan penurut misalnya. Ah, tapi buru-buru pula pikiran itu kutepis. Menurut teori, sifat manusia tak akan berubah banyak setelah 18tahun. Dan umurku sekarang duasatu. Jadi ga usah berharap banyak, Ami… -_-

Jujur sekarang aku jauh lebih berhati-hati dalam melangkah dan bersikap. Aku ngeri banget bayangin punya anak kayak aku. Tapi ya itu, ga berubah banyak. @.@

Aku ga tau mesti gimana lagi. Masa laluku yg bandel itu ga bisa berubah juga kan?

mmmmhh… Mendadak ada harapan baru, gimana kalo aku nyari suami yg hidupnya luuruuuuusss banget kayak jalan Semarang-Demak? Menurut teori Mendel tentang penurunan sifat hereditas, ada kemungkinan anakku mengikuti sifat suamiku bukan? Atau setidaknya ga separah aku lah, kan gen bandelnya dinetralisir gen baik. Ya walaupun masih ada kemungkinan kecil dominan gen bandel. Tapi kan kecil. Hahahahaa

ah, I don’t know lah…

So, buat kamu-kamu yg mau macem2, inget teori turbulensi B ini. saya sudah membuktikan validitas dan reliabilitasnya.

Buat cowok yg suatu saat nanti bilang “mau ga nikah di bawah laut Riung 17 Pulau sama gue?”, atau yang paling simpel dan logis “kamu mau jadi menantu ibuku?”, atau yg sangat simpel “kita kawin”. Wakakakak… Maka jangan buru-buru, aku punya puluhan kekurangan dan kebusukan yg harus kamu tau, sebelum kamu benar-benar yakin bahwa kamu rela ada gen dodol yg mengaliri keturunanmu nanti.

Kalau kamu rela ikhlas dunia akhirat, kita lanjut ke laut, kalau ga ya silakan cari gadis baik-baik. So simple🙂

But, remember, tak ada gading yg tak retak. ^_^

One thought on “Teori Turbulensi B

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s