Hidup Adalah Pilihan

“Tidak semua orang yg dekat dengan kita akan mendukung impian kita”
-bu hekso-

Kalimat ini, ada di notes salah satu temanku, tepat berada di depan mata, dan tepat menghujam di hati.

Awalnya aku merasa, mungkin ini hanya perasaanku saja. Mungkin ini hanya egoku. Mungkin mereka benar. Mungkin aku salah. Mungkin, mungkin, dan mungkin.

Beberapa malam tanpa tidur bukan sesuatu yg menyenangkan. Dulu aku selalu bersyukur tidak diberi rasa kantuk saat mengerjakan skripsi saat ide meletup-letup memenuhi kepala, atau saat harus mengerjakan sesuatu dikejar target. Tapi beberapa hari itu, tak ada yg kukerjakan kecuali memikirkan Beranda NonaNona, itupun selesai dalam semalam. Lalu malam-malam berikutnya apa? Tak bisa tidur tanpa sebab, memikirkan sesuatu, am I the enemies for them?
Dan keadaan ini sama sekali tidak kuinginkan.

Aku orang yang cuek, terlalu cuek kadang. Tak pernah peduli apa kata orang. Memegang erat peribahasa anjing-menggonggong-kafilah-tetap-berlalu.

Aku tetap pada ambisiku, tetap berdiri pada prinsipku, dan tetap melangitkan cita-citaku.

Tapi apa yg harus kulakukan ketika yang begitu adalah orang-orang terdekat dalam hidupku?

Sedih? B-u-a-n-g-e-t. Entah sudah berapa galon airmata yg tertumpah. Sampai malam ini. Stok tisu terakhir habis sebelum air mata habis.

Malam ini, aku percaya penuh, bahwa tidak-semua-orang-yg-dekat-dengan-kita-akan-mendukung-impian-kita. Mungkin tak sepenuhnya benar. Tapi ketika ada beberapa orang merasakan dan mengalaminya, bisa jadi itu mendekati kebenaran bukan?

Aku harus menentukan pilihan. Aku sama sekali tidak membenci mereka, sama sekali tidak. Aku hanya tidak suka dengan pemikiran dan cara mereka. Aku menyayangi mereka.

Mungkin mereka lupa, bahwa saat ini, aku adalah wanita dewasa 22tahun. Mungkin mereka lupa, bahwa mereka pernah berpesan untuk mengejar cita-cita. Mungkin mereka lupa bahwa untuk mencapai titik itu bukan mudah. Mungkin mereka sedang lupa, bahwa aku sedang belajar arti hidup, arti sebuah tanggungjawab, arti konsekuensi, dan arti resiko. Manusiawi. Manusia tempatnya lupa.

Memutuskan untuk berhenti melangkah saat apa yang kita inginkan ada di depan mata, itu sungguh tak mudah. Sangat berat. Lebih dari itu, sangat memalukan. Bagai kalah sebelum perang. Menjilat ludahku sendiri; menjatuhkan harga diri.

Mungkin salahku, yang tak pernah menceritakan sedikitpun kesulitanku. Aku memang selalu bercerita tanpa koma tentang pengalaman-pengalamanku kepada mereka, tapi tidak di 3 bab, yaitu “Kesulitan yang Belum Terpecahkan”, “Kesulitan yang Bisa Kuatasi Sendiri”, dan bab “Kesulitan yg Jika Kuceritakan Hanya Akan Membuat Mereka Khawatir”. 3 bab itu biasanya akan kuceritakan nanti, setelah masanya lewat. Mungkin karena itu mereka tidak mengerti. Mungkin mereka pikir aku selalu menghadapi jalan lurus nan mulus. Mereka tak tahu, aku memunguti kerikil satu-satu.

Diantara kemungkinan-kemungkinan itu, malam ini aku membuat keputusan berat. Bukan tanpa alasan, bukan tanpa pertimbangan.

I’m an adult, it is my choice. I’ll try, I’ll fight, a-l-o-n-e.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s