Merasa Kehilangan

“Nanti kalau bener itu terjadi, kita gimana?”
“apapun yang terjadi, kita tetep sahabatan kan?”
“tapi, ga kaku kan? Kita masih bisa bbman, becandaan, jitak-jitakan, ceng-cengan, hina-hinaan, dll kan?”
“insyaAllah.. aku ga akan berubah sama sahabat-sahabatku, apapun yg terjadi.. bahkan saat kamu menyebutku kanan-ekstrim, dan kamu menyebut dirimu orang kiri.”
“janji? Kelingking mana?”
“suer.. trust me! Aku ga pernah bohongin kamu kan? Kecuali kepepet. hahaha”

***

Beberapa hari belakangan, sejak aku menggulirkan suatu wacana ke sahabat-sahabatku, percakapan ini sering banget terjadi. Walaupun ini bukan pertama kalinya aku mengutarakan rencana itu. Aku menyebutnya “takut kehilangan”.

Padahal kita tak memiliki apapun, aku tak memiliki dia, dia milik orang lain. aku tak memiliki mereka, orang bilang mereka punya orang lain. Tapi kenapa masih merasa kehilangan?

Suatu rasa yang tak terdefinisi. Entah apa rupanya, nyesek, sakit, sedih, suram, ah, entahlah.

Pada dasarnya kita makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, jadi wajar jika kita merasa kehilangan ketika tetiba orang yang biasa ngejitak kita dengan semena-mena menghilang terbang ke belahan bumi lain demi mengejar cita-citanya, atau orang yang biasa ngehina kita tetiba jadi alim dan berbalik jadi memuji-muji kita. Ah, pasti kehilangan bukan?

Sejak awal pertemuan, dengan siapapun itu, kita pasti memahami betul hakikat, “ada pertemuan pasti ada perpisahan”. Tapi seiring berjalannya waktu, kadang kita melupakan itu, baru tersadar saat peristiwa itu datang menjelang.

Rasa kehilangan tidak melulu saat kita ditinggal pergi. Saat kita memutuskan menjauh, menjaga jarak, demi kebahagiaannya, tanpa kita. Itupun kusebut kehilangan. Walau aku sendiri yang memilihnya.

Saking sakitnya rasa kehilangan, pernah terlintas pikiran, bukankah aku lebih baik tidak menganggap siapapun spesial? Bukankah lebih baik aku cuek dan menjaga jarak dengan mereka? Bukankah lebih baik aku sendiri? Agar tak ada lagi rasa kecewa, rasa dibohongi, dan atau rasa kehilangan.

tapi nyatanya, rasa kehilangan itu seperti candu, kita tahu efek buruknya, tapi akan selalu berulang di setiap sesi hidup kita, berkali-kali.

Mungkin awalnya sulit, kita berjuang setengah mati menyembuhkan rasa kehilangan itu. bagiku, sulit tapi bisa. Pasti. Walau kita tahu, jika ada seseorang yang ada di hati kita, -sahabat, saudara, kekasih, atau entah apapun itu namanya- tetiba pergi, mereka membawa sepotong hati kita, entah berapa bagian. Yang tersisa di kita, adalah sebentuk hati yang tak lagi utuh, luka.

Kemudian kita berusaha membuang sisa hati yang ada, mencari sepotong hati yang baru kata Tere Liye. Dengan mencari orang lain (yang suatu saat juga pasti akan membawa pergi potongan hati kita yang baru itu). meski tak mungkin sama.

Hidup terus berjalan. Dengan atau tanpa mereka yang menempati petak-petak di hati kita. Waktu terus melaju. Tanpa mau menunggu kita mendapatkan sepotong hati yang baru. Bumi masih terus berputar, memaksa kita tetap tegar disaat terkapar meresapi kehilangan. Stay posthink, akan ada hal baru di depan sana, akan ada orang-orang baru yang mengisi hidup kita, akan ada rasa yang lebih berwarna di masa depan.

Hanya bisa berdoa, semoga tekadku bulat. Semoga antara aku dan orang-orang di masa lalu, suatu saat akan bertemu kembali, dalam kebahagiaan, dalam janji kita.

***

“nanti, kalau kamu jadi emak-emak beranak 5, masih mau ngajarin aku jungkir balik dalam makna sebenarnya?”
“rrrrrrrrrrrrr… lihat dulu berapa berat badanku nanti ya…”

Hahahha.. hidup akan terus berubah. Pasti.🙂

some memories never fade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s