Drama Persalinan 1

(bebersih sarang laba-laba dulu, blog ini jarang sekali ditengok karena berbagai kesibukan si empunya -_-)

Konon katanya setiap bayi punya ceritanya sendiri.

Ya, termasuk bayi cakep saya ini.

Selama hamil tidak pernah menyusahkan. Mulai ketahuan ada kehidupan di rahim saya, setelah 2bulan, tespek negatif terus buuu.. sampai males pake tespektespekan.

Di 2 bulan pertama itu saya ngider bolak balik pati-semarang-kupang-bandung-jakarta, dalam rangka usaha jadi istri yg baik, bebas LDR tanpa syarat apapun. Halaaah…

Alhamdulillah janin sehat walafiat saat pertama kali kami menyapanya di layar USG saat usianya 3bulan menurut hitungan manual saya, tapi baru 2 bulan menurut bidan tempat saya USG itu. Lhah kok bisa? Entahlah, bulan berikutnya dan seterusnya saya pindah ke dokter spesialis kandungan terkenal di kota Kupang, hitungannya sudah 4bulan. Nah kaan bener saya kan? -_-

Saya merasa mual-mual di usia kandungan 3-4 bulan saja. Muntah hanya hitungan jari. Tapi mual akan semakin dahsyat diiringi dengan munculnya tanda-tanda alergi jika terkena angin. Praktis saya pilih aman diam dirumah saja kecuali ada keperluan.

Sempat mengalami sembelit yg menyiksa tapi tak lama. Tanpa ngidam aneh-aneh. Paling cuma kepengen lontong sayur padang,  bakso solo sama batagor bandung. :p

Eh satu lagi, pengen mie kopyok semarang, yg sampai sekarang belum terwujud. Si adek sih belum ada tanda2 ngiler :v

Berat badan tetap di 43kg. Masih berani balik dari pati ke kupang sendirian, pakai acara ngemper di stasiun dan bandara. Mungkin ini jadi perjalanan terakhir saya sebatangkara. Besok-besok udah dikawal cowok keren. Hehe

Singkat cerita, usia kehamilan 30w saya ngungsi ke Pati, ke rumah ortu. Tunggu punya tunggu, ternyata sampai HPL si adek ga lahir-lahir pun. Tapi alhamdulillah dia sehat di dalam.

Padahal saya rutin senam hamil, jalan-jalan, jongkok berdiri, dll dsb. Bahkan kepalanya sudah masuk panggul sejak 38w.

Kenapa? T-a-k-d-i-r😀

41w pun lewat, mulai merasa ga nyaman dan menyiapkan plan B dan C. Semula saya mempersiapkan lahiran di klinik bidan dekat rumah secara normal. Lalu saya susun plan B, lahiran di RS dengan induksi sesuai saran dokter. Plan C lahiran di RS secara caesar. Udah mulai drama di hari-hati terakhir 42w,  beberapa kali nangis-nangis ga jelas.

Faktanya, sampai 42w habis semua masih damai aman sentosa tanpa huru hara. Langsung dapat rujukan dari obgyn dan bidan untuk tindakan induksi.

42w+1day drama baru benar-benar dimulai. Masih berusaha menanti kontraksi alami dirumah sampai jam 1 siang. Jongkok berdiri, jalan-jalan ngiterin rumah, pelvic rocking, sambil ngemilin kurma dan bolak balik minum madu berharap ga habis tenaga nanti pas gelombang cinta datang.

Tapi ga datang juga. Hiks… T.T

Hampir semua orang yg tau kalau saya mau induksi menyarankan langsung operasi saja. Karena konon katanya induksi itu suakiiiiiiittt…

Kecuali bapak ibuk suami dokter bidan dan seorang sahabat saya bernama Hindah Maya, seorang bidan yg masih single dan sedang minta dicarikan jodoh (eeeeaaaaa… mareeee mareeee depeleh depeleeeehh…) yg mendukung saya untuk berusaha lahiran normal.

Saya sih sok tegar aja, soalnya ini pertama lahiran, kan jadi ga punya perbandingan sakitnya lahiran normal sama sakitnya induksi.

*bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s