Drama Persalinan 2

Selasa 9 Juni 2015

Pukul 09.00 telepon RS, booking kamar, dapat ruang gladiol 503. oke fix.

Pukul 13.30 saya, suami-siaga-tiada-duanya, dan bapak ibuk berangkat ke RS. Sebelumnya menyempatkan diri berendam air hangat, masih berharap ada tanda alami akan melahirkan, sekaligus menenangkan diri.

Berbekal surat rujukan, segala keperluan di RS nanti, gymball siapa tau berguna, dll.

Langsung menuju UGD RS Keluarga Sehat Pati. Mungkin saya satu-satunya pasien UGD yang jalan sendiri dengan senyum cantik bagaikan akan memasuki sebuah KUA, halah.. 

Administrasi diurus suami, sementara saya disuruh menempati salah satu bed disana, ditemani ibuk.

Sampai bed disuruh tiduran oleh dokter jaga, ditutul-tutul dengan stetoskop, ditanya-tanya, sudah.

2menit kemudian masuk seorang bidan, cek denyut jantung janin, normal. Periksa dalam, ga ada pembukaan. Si adek dalam perut masih sangat aktif nongol-nongol ke permukaan.

10menit kemudian datang mbak perawat, tujes tujes pasang infus dan ambil sampel darah. Mbaknya aluuuuus banget.. dan ternyata diinfus itu ga sakit, cuma ngeri dan semoga ga lagi-lagi @.@

Habis diinfus masih sempat fotofoto pakai senyum. Cuma agak kagok gimana menempatkan tangan yg diinfus.

10menit kemudian, datang 2 orang mendorong saya ke ruang VK. Sempat heran, kenapa ke VK, pikir saya mau diinduksi di kamar perawatan gitu, kan udah booking kamar yg nyaman biar bisa santai sambil nunggu kontraksi. -_-

Kalau ruang VK? Rrrrrr hororrrrr… inget ruang VK RSUD B********k yg kalau ada orang lahiran teriakannya sampe ruang sebelah.

Saya mendapat ruang VK2,

Ruangannya sangat bersih, bagus, ada tipinya, ga ada suara rintihan atau jeritan, nyaman lah kalau saya dalam kondisi bukan sebagai pasien. Lha inih, liat gunting di pojokan aja udah parno duluan, itu buat gunting apaaaa… fufufu…

Mulai deh drama, jeng jeng jeng…

Nangis-nangis sambil curcol ke suami. Oya, yg boleh mendampingi ke ruang VK hanya 1 orang. Jadi gantian antara suami, ibuk, dan bapak.

Masih bisa pipis ke toilet diluar ruangan. Nah yg kedua kali, ruang VK 1 dekat toilet pintunya terbuka, ga sengaja nglirik, kyaaaaaa darah dimenong-menong. Mulai njiper lagi. (Besoknya baru tau, ternyata yg diruang itu sempat diinduksi sampai sehari dua malam)

Pukul 14 lebih entah, bidan masuk meminta tandatangan prrsetujuan induksi.

Adzan ashar, ada bidan masuk mau memasukkan obat induksi. Saya minta waktu sholat ashar dulu. Setelah itu obat dimasukkan. Sambil nunggu reaksi, masih nonton Preman Pensiun sambil makan snack.

Pukul 18.00 obat mulai bereaksi, saya masih santai. Sakitnya masih dalam batas toleransi. Setelah shalat maghrib, makan malam disuapin suami. 30menit sekali, bidan masuk cek detak jantung janin. Saya disuruh tiduran miring ke kiri terus.

Pukul 19.00, dokter obsgyn saya datang memantau.

Ga ada masalah, induksi berlanjut.

19.30 saya mulai alert. Gerakan janin nyaris tidak tampak lagi di perut saya.

Cek detak jantung, tidak stabil. Interval sangat jauh antara 80-180.

Mulai cemas.

Bidan keluar masuk ruangan 15menit sekali, memastikan detak jantung janin normal. Tapi tak kunjung normal.

Pukul 20 lebih entah, saya dipasang selang oksigen. Huft, akhirnya tau rasanya bernafas pake selang oksigen, ga nyaman pake banget lah.

Detak jantung janin masih sama. Kadang terlalu lambat, kadang terlalu cepat. Hiks… hampir 11 bulan saya mengandungnya, sejak 18minggu sudah merasakan gerakannya, dan sekarang saya hanya merasakan bentuk punggungnya meringkuk kaku di dalam. Mulai drama lagi lah saya. Nangis-nangis mikirin nasib bayi saya, mikirin nasib saya juga, lama-lama pasrah. Kontraksi terasa makin dahsyat. Asli saaaakiiiiitttttt… mungkin memang benar kalau lahiran normal ga sesakit ini, ini akibat induksi. Ya Allah..

Masih pukul 20 lebih entah, perawat masuk, hasil laboratorium, salmonela di tubuh saya +6, normal hanya 2. Termometer menunjukkan 37.6 derajat celcius. pertama dan terakhir saya kena gejala typus saat kelas 2 SMA, yg berarti sekitar 8 tahun yg lalu. Dan mendadak malam itu mereka berkembang biak?

Pukul 21 lebih entah, seorang bidan datang, menurut dia, obsgyn saya, dr. Putu Jerry, Sp.OG memberi advice operasi saat itu juga. Tapi beliau sedang tidak enak badan, jadi kalau kami bersedia operasi akan dialihkan ke obsgyn lain, dr. Irawan, Sp.OG. siapa itu dr. Irawan? Ah entahlah, saya ga kenal. Tapi saya haqqul yakin dr. Jerry sudah memberikan rekam medis saya semasa hamil. Pasti beliau memindahtangankan saya ke dokter yang baik.

Lalu suami, bapak, dan ibu masuk semua di ruang VK, saya masih mengerang kesakitan tiap 4-5menit sekali. Dokumen persetujuan operasi sudah ditandatangani. Saya diganti baju operasi warna ijo, pasang kateter, pindah bed, didorong masuk ke ruang bedah sentral. Interval kontraksi 1-2menit sekali dengan kekuatan makin dahsyat. Saya gagal mengalihkan fokus rasa sakit saya kali ini, karena sakitnya keterlaluan. Huhuhu…

Masuk ruang bedah sentral, didoakan sebentar sama suami dan bapak ibu. Ditinggal sendirian. Pindah bed. Gimana perasaan saya? Campuraduk, antara takut dan pasrah. Bidan Rofi Uci dan satu perawat laki-laki ramah menemani saya, mengajak saya ngobrol di sela-sela sakitnya kontraksi. Saya didorong lagi ke ruang OK 4, ruangan yang saaangat dingin dan terang benderang. Ada banyak orang disana, lebih dari 5 orang saya rasa, entahlah, fokus saya sudah kacau.

Dokter anestesi menghampiri saya, menyapa ramah. Tapi saya tidak bisa menjawab ramah, karena sebal dengan rasa sakit yg begitu hebat. Saya diminta meringkuk untuk dibius di tulang belakang, bius lokal. Tapi sekali lagi, apalah daya rasa sakit kontraksi ini begitu membelenggu. Meringkuk diam pun saya tak sanggup. Mungkin waktu itu saya kloget-kloget seperti cacing kepanasan.

“Ibu tolong diam sebentar ya ibu, disuntik sebentar, biar cepat dimulai dan semua selamat”, seperti suara dokter anestesi.

“Saya minta waktu sampai kontraksinya berhenti sejenak dok, ini sakit sekali!!”, jawabku dengan nada tinggi.

Mungkin dokter anestesinya sebal. Akhirnya saya dipegangi 3 atau 4orang perawat agar tak bergerak.

Sukses.

Kaki saya mulai kesemutan. Saya tidak bisa menggerakkan bagian bawah tubuh. Rasa sakit kontraksi sudah hilang. Mulai dipasang tirai diatas perut saya. Tangan saya pun tak bisa digerakkan. Saya hanya bisa menggerakkan kepala saya, menoleh kesana kemari melihat kesibukan orang-orang yang akan menyelamatkan bayi saya. Saya menggigil dahsyat sampai gigi geligi saya bergemeletukan kencang.

Sempat saya bilang “dingin dok, dingin sekali..”

Lalu blank. Mungkin saya pingsan. Saya hanya melihat lampu-lampu besar warna-warni dimanapun, tempat asing, seperti di lorong waktu, sendirian.

Entah berapa lama. Saya mendengar suara tangis bayi, perlahan kesadaran saya mulai pulih. Tapi saya suliiit sekali berbicara, seakan otak dan mulut saya belum terkoneksi maksimal.

Bayi saya diletakkan di inkubator sebentar, sambil para perawat berteriak “ibu selamat ibu bayinya laki-laki, sehat sekali” nada teriakannya seperti tukang mijon di kereta.

Saya menangis otomatis. Terharu. Anakku lahir juga.. mungkin ini namanya naluri seorang ibu.

Tak berapa lama bayi kecil mungil itu diletakkan di dada saya. Ah iya, saya baru ingat, ini IMD. Alhamdulillah. pernah baca katanya kalau operasi caesar kita sulit IMD, harus dengan permintaan. Berhubung ini operasi dadakan dan tadi saya kesakitan, boro-boro request IMD. -_-

Untung ternyata RS ini pro asi (dan dokter obsgyn saya pro normal sebenarnya).

Si bayi mungil itu merangkak mencari-cari puting saya. Saya belum bisa menggerakkan tangan saya, padahal ingin sekali membelainya. Kaki kecilnya memanjat halus. Ah, ini dia yg selama hampir sebelas bulan menendang-nendang perut saya dari dalam. Saya mengajaknya bicara walau saya sulit mengeluarkan kata-kata dan merangkai kalimat. Saya bersenandung dan bernyanyi untuknya tak peduli betapa sumbangnya suara saya. Saya mengajaknya bersyukur tak henti-henti kepada Allah atas keselamatan kami. Hidungnya tinggi mirip ayahnya, bola matanya hitam seperti bola mata saya. Apalah apalah saya bahagia, sangat bahagia.

Saya menengok keatas, ke lampu sorot operasi. Ada bayangan isi perut saya terpantul disana. Ada suara sedikit berisik dibalik tirai. Ah biarlah mereka bekerja. Saya asyik ngobrol dengan teman baru saya yg lucu.

Setelah entah berapa lama, bidan Rofi meminta ijin mengambil bayi saya.

“Ba-yi-sa-ya-mau-di-ba-wa-ke-ma-na?” Tanya saya patah-patah.

“Diobservasi dulu 6jam di ruang perinatal ya bu. Besok pagi setelah dimandikan kami antar ke ruang rawat ibu, ibu memilih rawat gabung kan? Besok ibu boleh tidur dengan adik. Nanti suami ibu akan mengikuti saya”

Bayi kecil saya diletakkan di inkubator lagi, didorong keluar. Saya masih diruang itu, menatap lampu-lampu yang sangat menyilaukan mata. Nothing to do. Menunggu semua proses dibawah sana selesai dalam diam.

Tirai antara dada dan perut dibuka, saya diganti baju. Pindah bed, didorong keruang observasi. Disana ada satu pasien kecil ditemani ibunya. Saya kembali diam, kadang tertidur dan terbangun beberapa kali.

Ada perawat laki-laki yg ramah tadi, saya tanya,

“Sampai kapan saya disini?”

“Sebentar ya bu kami observasi dulu, kalau tidak ada pendarahan segera kami pindah ke ruang perawatan”

Bed ruang perawatan datang, lebih empuk dan lebih bagus daripada bed ini pasti. Sekali lagi saya dipindah, tapi saya sudah tidak sanggup pindah bed sendiri seperti sebelum operasi, saya diangkat oleh tiga orang perawat.

Suami saya dipanggil, saya ga sabar menceritakan apa yg ada di otak saya. Tapi lagi-lagi terbatas pada kemampuan bicara yg sangat minim.

Waktunya perawat ruang gladiol 5 mendorong saya ke kamar. Suami, bapak, dan ibu mengikuti. Rasanya legaaaa sekali. Sudah merasa aman masuk ruang perawatan biasa. Tak sehoror ruang-ruang sebelumnya.

Bapak ibu pulang kerumah. Saya berdua suami di rumah sakit malam itu. Suami saya menceritakan keadaan lengkap bayi kami. Ah, malam itu kami resmi menjadi orangtua. Alhamdulillah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s